Home / Non Fiksi / Menulis Novel: Prosa Ungu, Contoh, dan Cara Menghindarinya

Menulis Novel: Prosa Ungu, Contoh, dan Cara Menghindarinya

purple prose
1

Apa itu prosa ungu?

Wikipedia mendefinisikan prosa ungu (purple prose) sebagai “Teks prosa yang terlalu bertele-tele yang dapat mengganggu alur naratif dengan menarik perhatian yang tidak diinginkan pada gaya penulisannya yang berlebihan, sehingga mengurangi apresiasi terhadap prosa secara keseluruhan.”

Istilah prosa ungu berasal dari referensi pujangga Romawi Horatius (Quintus Horatius Flaccus, 65–8 SM) yang menulis dalam karyanya Ars Poetica.

Bagaimana Anda dapat membedakan antara tulisan yang baik dan prosa ungu?

1. Pahami perbedaan antara prosa ungu dan tulisan yang kompleks

Karena semua hal negatif yang telah dikatakan tentang prosa ungu, banyak calon penulis salah mengartikan ini sebagai satu-satunya tulisan yang baik adalah yang sederhana.

Hal pertama yang perlu dipahami tentang prosa ungu adalah bahwa itu tidak sama dengan prosa yang kompleks, liris, atau eksperimental.

Prosa ungu adalah tulisan yang terlalu bertele-tele, menggunakan metafora dan bahasa kiasan lainnya dengan buruk, dan menarik perhatian pada dirinya sendiri. Itu menonjol karena terlalu rumit sehingga mengurangi kualitas cerita.

Contoh:

‘Folikelnya yang lebat menjuntai di kulit lehernya yang memerah, menarik perhatiannya yang penuh gairah.’

Cara yang sangat bertele-tele dan berlebihan untuk mengatakan bahwa sang tokoh menganggap cara rambutnya terurai di tengkuknya menarik!

Hadil penyuntingan:

‘Rambutnya terurai di lehernya yang telanjang mengundang perhatiannya.’

Prosa ungu juga bisa berupa prosa yang tidak sesuai dengan genre atau jenis adegan yang sedang digambarkan. Pada kasus terburuknya, prosa berlebihan secara tidak sengaja menjadi lucu, seperti yang dibuktikan oleh kesuksesan setiap tahun kontes fiksi Edward Bulwer-Lytton yang memparodikan karya penulis abad ke-19 tersebut yang sangat dikenal karena tulisannya yang terlalu berlebihan.

Jadi, bagaimana Anda memisahkan prosa berlebihan dari prosa puitis?

2. Tanyakan apakah kalimat-kalimat tersebut membantu atau menghambat pemahaman pembaca

Masalah dengan prosa yang terlalu bertele-tele atau berlebihan adalah membuat cerita sulit dibaca. Jika setiap kata adalah kata ilmiah atau arkaik (kuno, tak lazim), tulisan menjadi sulit dipahami. Kalau setiap kata kedua memiliki empat suku kata atau lebih, ada kemungkinan tulisan Anda akan terkesan berusaha menjadi sastrawan dan berlebihan.

Kalau ragu tentang kata yang kompleks, carilah di kamus. Jika tertulis ‘arkaik’ di sebelahnya, pikirkan dua kali sebelum menggunakannya dalam konteks kontemporer karena akan terasa ketinggalan zaman dan akan menambah efek berlebihan. Pastikan kalimat dan paragraf mengalir untuk menciptakan makna yang jelas.

3. Pastikan bahasa kiasan sesuai dengan nada dan suasana adegan

Kalau Anda menggunakan bahasa kiasan, apakah itu tepat dan konsisten? Apakah sesuai dengan nada dan suasana adegan?

Misalnya, jika Anda menggambarkan cara tokoh mengunyah seperti granat yang meledak, ini mungkin terasa tidak pada tempatnya dalam adegan keluarga yang sederhana dan tidak terlalu intens. Adegan romantis sangat berisiko untuk menggunakan prosa yang berlebihan. Itu karena ketika kita mencoba menggambarkan emosi yang intens, terkadang kita berlebihan.

4. Gambarkan tokoh dan aksi secara efisien

Ketika Anda menggambarkan tokoh yang melakukan aksi berani atau manuver yang kompleks, apakah Anda mengendalikannya?

Jujurlah di sini. Apakah bahasa Anda mencapai apa yang Anda inginkan? Apakah setiap kata memiliki tujuan?

Kalau Anda menggambarkan suatu aaksi, apakah tindakan tersebut mungkin terjadi seperti yang Anda gambarkan?

Misalnya, Anda dapat menulis adegan di mana seorang tokoh ditembak dan jatuh ke tanah seperti ini:

‘Dia memegang dadanya dengan ketakutan yang hebat dan, terengah-engah seperti ikan yang tiba-tiba ditarik ke udara oleh kail yang kejam, jatuh pupus ke tanah dengan bunyi gedebuk yang keras.’

Namun deskripsi ini berlebihan dan melodramatis. Terlalu berlebihan karena kita menggunakan deskripsi yang terlalu rumit seperti ‘ketakutan yang hebat’, bersamaan dengan kebingungan citra (ikan yang ditarik ke udara dan gerakan jatuh).

Prosa yang lebih sederhana:

‘Dia menekan tangannya ke dadanya, terengah-engah dan ketakutan, dan jatuh ke tanah pucat pasi.’

5. Bacalah karya penulis yang puitis tanpa menggunakan gaya bahasa yang berlebihan

Salah satu cara untuk membantu Anda memahami perbedaan antara gaya bahasa yang berlebihan dan tulisan yang puitis namun efektif secara gaya adalah dengan membaca karya penulis yang menguasai gaya penulisan.

Penulis seperti Cormac McCarthy dan Michael Chabon adalah contoh yang sangat baik dari penulis kontemporer yang memiliki gaya khas tetapi menulis prosa yang kuat. Lihat juga karya penulis abad ke-20 seperti Ray Bradbury, William Faulkner, dan Vladimir Nabokov.

Latihan yang baik mungkin adalah membaca bagian-bagian dari masing-masing penulis ini dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan di atas kepada diri sendiri. Perhatikan bagaimana setiap penulis menangani hal-hal seperti bahasa kiasan dan pilihan kata yang tidak biasa. Perhatikan juga bahwa meskipun penulis seperti McCarthy dan Faulkner terkadang menantang bagi pembaca pada tingkat prosa, mereka tetap memegang kendali dan pilihan gaya mereka memiliki tujuan dalam dunia cerita.

Membuat pembaca sedikit bekerja bukanlah hal yang sama dengan menulis prosa ungu.

6. Utamakanlah cerita

Mengutamakan cerita adalah cara utama untuk menghilangkan prosa ungu. Terkadang kita mencoba terdengar ‘nyastra’ atau ‘seperti penulis sesungguhnya’ karena kita tidak memiliki gagasan yang jelas tentang motivasi tokoh atau plot.

Prosa ungu juga dapat dihasilkan dari upaya untuk menutupi tulisan yang lemah dan pilihan kata kerja yang lemah khususnya.

Bayangkan Anda ingin membawa tokoh yang berduka dari satu sisi ruangan ke sisi lain.

Mengatakan tokoh tersebut ‘berjalan’ tidak memberi tahu kita banyak hal. Oleh karena itu, Anda mungkin tergoda untuk menambahkan beberapa bahasa kiasan. Mungkin karakter tersebut berjalan seperti anak singa yatim piatu yang meraung-raung mencari induknya yang telah mati, tetapi itu terdengar sangat berlebihan, dan apa artinya?

Bagaimana manusia bisa meraung seperti anak singa? Pernahkah Anda mendengar anak singa meraung?

Kata kerja yang lebih kuat akan menyampaikan maksud Anda dengan lebih baik.

Jika Anda mencoba menggerakkan tokoh Anda melintasi ruangan dalam keadaan berduka, Anda mungkin membuat tokoh tersebut terhuyung-huyung, menyeret kaki, atau bahkan merangkak, tergantung pada seberapa dalam kesedihan itu.

Kata kerja konkret dan deskriptif ini menyampaikan makna yang Anda butuhkan.

Penulis

Tag:

Satu Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image