Home / Genre / Komedi / Cinde Lara: Bab 24

Cinde Lara: Bab 24

Cinde Lara 1600x900
1
This entry is part 25 of 27 in the series Cinde Lara

“Selamat pagi, Wak Gamal.”

“Selamat pagi, Jun, semoga malammu menyenangkan?”

Jun tersenyum dan mengangguk, sungguh. “Memang.” Katanya, sambil duduk di bangku di samping Wak Gamal.

“Bibi masih tidur?” tanyanya.

“Nggak, dia pergi ke pasar. Bagaimana dengan nona muda itu?” tanya Wak Gamal.

“Dia masih tidur,” jawab Jun.

“Aku harap tikarnya tidak masalah, Kalian harus memaafkan kami, kami tidak punya banyak tamu, jadi kami tidak menyiapkan perabotan untuk kamar. Tapi jangan khawatir, seprai akan diantar hari ini, mungkin kalian beruntung bisa pergi dengan orang yang akan membawanya.”

Alis Jun terangkat, “Ada yang datang dari kota hari ini?”

“Ya. Dia mengirimkan furnitur ke kota ini dan kota-kota tetangga kita. Beberapa orang sedang mencoba memperbaiki beberapa barang untuk festival, seperti semacam pagar kayu agar mereka bebas duduk di udara terbuka dan tidak dibatasi di rumah selama 24 jam. Barang-barangnya sangat murah dan tahan lama.”

“Wow! Itu berita bagus, artinya kita bisa pulang hari ini. Aku harus segera memberi tahu Cinde.”

***

Gadis itu menguap dan membuka matanya. Lalu dia melihat ke belakang dan menyadari bahwa para penjaga yang ada di mobil bersamanya tertidur, bahkan yang menyetir. Dia menggelengkan kepalanya.

Dasar orang-orang bodoh.

Dia memperhatikan dari tempatnya duduk di mobil yang diparkir di tempat tersembunyi, jauh dari rumah yang dimasuki orang-orang yang mereka buntuti malam sebelumnya.

Pria muda itu bersama ayahnya, seperti yang bisa dilihatnya dari kemiripan mereka, sedang sibuk mengemas barang-barang ke bak truk.

Dia melihat Zhoya keluar, mengatakan sesuatu kepada wanita yang lain, dan terus menertawakan para pria yang sedang bekerja. Salah satu pria di dalam mobil yang bersamanya mendengkur, dan dia langsung menepuk mereka semua.

“Bangun! Dasar bodoh! Inikah yang diminta ratu? Buka mata kalian, kita akan segera bergerak!”

Para pria itu menguap dan meregangkan badan dengan berisik, membuatnya kesal, tetapi si gadis mendesis dan mengabaikan mereka. Kemudian dia kembali ke pemandangan yang dia amati sebelumnya.

Wanita tua itu melambaikan tangan ke arah truk yang kini sedang bergerak dan menuju ke arah mereka.

“Merunduk! Merunduk! Mereka tidak boleh melihat kita!” teriaknya, dan semua orang di dalam mobil menunduk serendah-rendahnya hingga truk itu lewat.

“Sekarang, kita ikuti mereka dengan hati-hati…” katanya kepada pengemudi yang menyalakan mesin.

***

Cinde sibuk membantu istri Wak Gamal di dapur menyiapkan makanan. Perempuan tua itu terus menatapnya sambil tersenyum. Cinde menyadari hal ini, tetapi dia bersikap seolah tak menyadari, berharap wanita itu segera menceritakan apa yang ada di pikirannya.

Wak Gamal dan Jun sedang berada di lorong, mengupas kulit singkong satu per satu. Jun duduk dekat pintu masuk dapur dupaya dia bisa melihat kedua wanita itu dan mendengar apa yang sedang dibicarakan.

Mereka menggunakan tungku kayu bakar untuk memasak, dan di tangan Ella terdapat lipatan kertas koran yang akan dia gunakan untuk mengangkat panci dengan pantat hitam dari api setelah nasi matang.

Wanita itu terus menatapnya sambil terus mengipasi api dengan piring plastik agar api semakin berkobar.

“Pernahkah kamu melakukan ini sebelumnya, Putri?”

Pistri Wak Gamal akhirnya bertanya. Cinde tersenyum. Dia mengenakan baju yang masih baru punya Nyonya Rumah.

“Aye pikir Wak kagak pernah bicara, Wak. Ini sudah biasa,” jawabnya.

Wak Gamal yang mendengar pertanyaan itu bertanya.

“Ya, memang. Dia tidak seperti gadis-gadis kota yang tak bisa berbuat apa-apa.” Sang istri menjawab.

Saat itu, Cinde menangkapa basah Jun sedang menatapnya, bibirnya membentuk senyum bangga.

“Anak muda ini, dia mengupas singkong seolah-olah dia sudah melakukannya sepanjang hidupnya. Anak muda sperti ini sangat langka.” Wak Gamal menunjuk Jun yang terkekeh.

“Saya punya teman yang ibunya seorang juru masak, jadi, saya belajar dan menghabiskan waktu di tempatnya,” jelas Jun. Dia juga mengenakan kemeja dan celana panjang yang bersih.

“Nggak heran,” kata istri Wak Gamal, “kalian berdua benar-benar berbeda, dan kalian benar-benar cocok satu sama lain,” diaa menambahkan sambil terkekeh.

Cinde hanya tersenyum, berusaha menghindari tatapan Jun. Sejak mereka berciuman tadi malam, mereka sama sekali tidak membicarakannya. Ketika Cinde bangun, Jun sudah pergi bersama Wak Gamal membantu pekerjaan rumah.

“Kamu benar, istriku, mereka sangat muda dan bersemangat, dan aku percaya ada tujuan di balik hubungan kalian.” Tuan Garuba menjawab, dan Jun mendongak, tersenyum pada Cinde yang mengabaikannya.

“Aku juga berpikir begitu, Wak, tapi saya rasa dia tidak percaya itu,” katanya.

Cinde mendongak, terkejut Jun bisa mengatakan itu dengan berani, lalu dia menyadari bahwa ketiga orang itu sedang menatapnya.

Dia segera berdiri, “Maapin aye, mau ke belakang bentar,” katanya, bergegas pergi sementara yang lain menertawakannya.

**

“Shit, begitulah semua ini terjadi, itu benar-benar unbelieveable!”

Sam tersentak. “Bapak, Bapak terlalu tua untuk ngomong ‘shit’ atau ‘unbelieveable.'”

“Jangan menghina kau,” kata bapaknya sambil mengemudi, “tapi semua yang baru saja dibilang Zhoya pantas mendapatkan dua kata itu dari mulutku. Maksudku, kau dan kawan kau berencana menculik seorang putri. Zhoya mendandani kawannya seperti putri cuma untuk menghindari polisi bodoh yang ternyata adalah kelompok penculik lain. Jun, dalangnya, pangeran yang ingin mendapatkan seorang putri, diculik oleh penculik yang salah dengan putri yang salah. Adakah yang lebih unbelieveable dari ini?”

Zhoya terkekeh, “Memang, Om, tak ada yang seganjil itu.”

Bapaknya mencubit Sam di samping, begitu cepat sehingga Zhoya tidak melihatnya.

“Jadi, Cinde ini, apakah dia benar-benar cantik?” tanya Sam, menerima petunjuk dari bapaknya dan menyembunyikan senyum. Dia duduk di depan dengan Zhoya di samping bapaknya yang sedang mengemudi.

Zhoya mengerutkan kening lalu menyalakan ponselnya untuk menunjukkan screensaver-nya yang berisi fotonya bersama Cinde.

“Wow! Dia benar-benar cantik,” kata Sam. “Tapi menurutku kau lebih cantik lagi,” katanya sambil mengedipkan mata, tetapi Zhoya mendengus, menggelengkan kepala, lalu terdiam.

Sam merasakan tusukan lain dari bapaknya, dan dia kembali menghadap Zhoya. “Jadi, kalau akhirnya kita menyelamatkan mereka, macam mana kalau kita … eh… berkencan?”

Zhoya menatapnya tajam, “Kau bercanda? Siapa yang bicara soal kencan di saat seperti ini? Fokus saja ke jalan.”

“Oke, tentu, maaf.” Sam berkata cepat sementara bapaknya menahan tawa.

Cinde Lara

Cinde Lara: Bab 23 Cinde Lara: Bab 25

Penulis

  • Alexis

    Pengarang  novel Lamaran atau Pinangan? (Pimedia, 2022) dan (Deception) Ingkar Jodoh (Pimedia, 2022). Segera terbit, Penyintas Terakhir.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image