Beranda / Genre / Petualangan / Bab 12. Sebelum Pertempuran (Part 3)

Bab 12. Sebelum Pertempuran (Part 3)

Tambang Raja Sulaiman
This entry is part 39 of 42 in the series King's Solomon Mine

Aku menggeleng pelan, lalu kembali memandang orang-orang yang tertidur itu.

Di bawah cahaya bulan, mereka tidak lagi tampak seperti pasukan, melainkan seperti ladang tubuh yang telah disentuh firasat. Dalam benakku yang letih namun terjaga, seolah-olah Kematian telah berjalan di antara mereka dan meletakkan jari dinginnya di dahi beberapa orang, menandai mereka diam-diam untuk esok hari.

Mata batinku memilih mereka satu per satu.

Yang ini.

Dan yang itu.

Wajah-wajah yang kini tenang dalam tidur, besok akan kaku oleh darah dan debu.

Dan tiba-tiba sesuatu yang berat turun ke dalam hatiku—kesadaran yang nyaris tak tertahankan akan rapuhnya hidup manusia, akan kesedihan yang melekat pada segala yang bernapas, akan betapa fana dan sia-sianya segala keberanian.

Malam ini ribuan orang tidur dengan damai.

Besok, pada jam yang sama, banyak dari mereka akan terbujur dingin.

Istri-istri akan menjadi janda.

Anak-anak akan menjadi yatim.

Nama-nama akan dipanggil, lalu tak lagi dijawab.

Dan tempat yang kini menampung langkah mereka akan melupakan mereka untuk selama-lamanya.

Hanya bulan tua itu yang akan tetap menggantung dengan tenang di langit. Angin malam akan terus mengusap rerumputan. Dan bumi yang luas, tak peduli dan abadi, akan tetap berbaring dalam diamnya—sebagaimana dia telah diam berabad-abad sebelum kita lahir, dan akan terus diam berabad-abad setelah nama kita lenyap dari ingatan.

Namun benarkah manusia sungguh lenyap?

Aku tak yakin.

Selama dunia—yang sekaligus menjadi rahim dan makamnya—masih ada, manusia tak pernah benar-benar mati.

Namanya boleh hilang.

Tubuhnya boleh membusuk.

Namun napas yang pernah dia hembuskan masih mungkin bergetar di pucuk-pucuk pinus pegunungan. Kata-kata yang pernah dia ucapkan masih mungkin bergema, samar namun tak musnah, di rongga langit. Pikiran yang pernah dilahirkannya diwariskan, entah kepada siapa, entah melalui siapa, hingga sampai juga kepada kita. Hasratnya menjadi sebab bagi kehidupan yang kita jalani. Dukanya menjadi kerabat bagi duka kita. Sukacitanya menjelma gema dalam dada orang-orang yang tak pernah mengenalnya.

Dan akhir yang dia takuti—akhir yang dia hindari dengan seluruh ngeri manusia—adalah akhir yang juga sedang berjalan pelan ke arah kita.

Sungguh, semesta ini penuh oleh hantu.

Bukan hantu berkafan dari liang kubur, melainkan sisa-sisa kehidupan yang tak pernah benar-benar padam: serpih kehendak, gema pikiran, debu hasrat, jejak rasa sakit, pecahan cinta. Segala yang pernah hidup tidak pernah sepenuhnya mati. dia hanya berubah bentuk, bercampur, larut, lalu lahir kembali dalam rupa lain, selama-lamanya.

Pikiran-pikiran semacam itu melintas dalam benakku—dan makin tua usia seseorang, makin mudah dia terjerumus ke dalam kebiasaan merenung yang muram semacam itu—sementara aku berdiri menatap barisan prajurit yang suram sekaligus ganjil itu, tertidur, seperti kata orang, di atas tombak mereka sendiri.

“Curtis,” kataku akhirnya, pelan, “aku sedang dikuasai ketakutan yang sangat menyedihkan.”

Sir Henry mengusap janggut pirangnya, lalu tertawa pendek.

“Aku pernah mendengarmu berkata begitu sebelumnya, Quatermain.”

“Kalau begitu, kali ini dengarkan baik-baik. Aku sungguh-sungguh. Aku tak yakin satu pun dari kita masih hidup besok malam. Kita akan diserang dengan kekuatan yang jauh lebih besar, dan semua yang bisa kita harapkan hanyalah bertahan.”

“Setidaknya,” katanya tenang, “kita akan menjatuhkan cukup banyak dari mereka sebelum tumbang.”

Ia berhenti, menatap dataran di bawah.

“Dengar, Quatermain. Ini urusan yang buruk. Sejujurnya, kita tak seharusnya terlibat di dalamnya. Tapi kita sudah terlanjur berdiri di sini, jadi tak ada lagi yang bisa dilakukan selain menjalankannya sebaik mungkin. Soal diriku—aku lebih suka mati dalam pertempuran daripada di ranjang. Dan sekarang, karena harapan menemukan saudaraku agaknya makin tipis, gagasan itu tidak lagi terasa seburuk dulu.”

Ia tersenyum tipis.

“Lagipula, keberuntungan kerap berpihak pada orang yang cukup keras kepala untuk menantangnya. Kita mungkin saja selamat. Meski begitu, pertempuran besok akan buruk. Dan karena nama baik harus dijaga, kurasa kita mesti berada tepat di jantungnya.”

Ia mengucapkan kalimat terakhir itu dengan nada nyaris muram, tetapi matanya menyala dengan cahaya yang sama sekali tak muram.

Kurasa Sir Henry Curtis memang dilahirkan dengan semacam kesukaan alamiah pada pertempuran.

Setelah itu kami tidur beberapa jam—tidur yang pendek, tipis, dan gelisah.

Menjelang fajar, Infadoos membangunkan kami. dia datang dengan wajah tegang dan berkata bahwa ada gerakan besar di Loo, dan pasukan pengintai raja telah mulai menekan garis depan kami.

Kami bangkit dan segera bersiap.

Satu per satu kami mengenakan zirah rantai kami—dan pada saat itu, tak ada satu pun di antara kami yang tidak bersyukur atas beban logam itu.

Sir Henry mempersenjatai dirinya dengan kesungguhan hampir khidmat, dan memilih berpakaian seperti seorang prajurit Kukuana.

“Kalau kau berada di negeri Kukuana,” katanya sambil menarik zirah baja berkilau itu ke dadanya yang lebar, “berpakaianlah seperti orang Kukuana.”

Dan dia sungguh melakukannya.

Atas permintaannya, Infadoos telah menyediakan seperangkat pakaian perang lengkap. Di lehernya dia mengalungkan jubah kulit macan tutul milik seorang panglima. Di dahinya terikat bulu burung unta hitam—hiasan yang hanya dikenakan para jenderal besar. Di pinggangnya melingkar moocha megah dari ekor sapi putih. Sandal kulit, lilitan kaki dari bulu kambing, kapak perang berat bergagang tanduk badak, perisai bundar berlapis kulit sapi putih, beberapa tolla—pisau lempar—dan, tentu saja, revolvernya, melengkapi penampilannya.

Pakaian itu liar, nyaris barbar, tetapi harus kuakui: jarang sekali aku melihat sosok yang lebih gagah.

Busana itu justru menegaskan keperkasaan tubuhnya; dan ketika Ignosi kemudian datang dengan pakaian serupa, aku mendapati diriku berpikir bahwa belum pernah kulihat dua lelaki yang tampak begitu diciptakan untuk perang.

Adapun Good dan aku, hasilnya jauh kurang mengesankan.

Good bersikeras tetap mengenakan celana barunya. Maka tampillah ia: pendek, gemuk, berkacamata, separuh wajahnya tercukur rapi, mengenakan zirah rantai yang diselipkan dengan cermat ke dalam celana korduroi lusuh. Penampilannya lebih menyerupai pegawai toko yang tersesat ke medan perang daripada seorang prajurit.

Sedangkan aku—zirah itu terlalu besar untuk tubuhku, sehingga harus kupakai di atas semua pakaianku dan membuatku tampak menggelembung dengan cara yang sangat tidak heroik.

Aku menanggalkan celanaku dan hanya mempertahankan sepatu veldtschoen, memutuskan bahwa bertempur dengan kaki telanjang akan lebih ringan—dan lebih berguna bila sewaktu-waktu kebijaksanaan menuntut mundur cepat.

Zirah, tombak, perisai yang tak benar-benar kupahami cara memakainya, beberapa tolla, revolver, dan sehelai bulu besar yang kuselipkan ke topi berburu agar tampak sedikit lebih haus darah—itulah seluruh kebesaran perlengkapanku.

Senapan tetap kami bawa, tentu saja, tetapi karena amunisi terlalu berharga untuk dihamburkan dan senapan akan nyaris tak berguna bila pertempuran berubah menjadi gelut jarak dekat, kami menyerahkannya kepada para pembawa di belakang.

Setelah akhirnya siap, kami menelan sarapan tergesa-gesa, lalu berangkat untuk melihat keadaan.

Di salah satu titik tertinggi dataran puncak berdiri sebuah tonjolan batu cokelat kecil, yang kami jadikan markas sekaligus menara pandang. Di sanalah kami menemukan Infadoos, dikelilingi oleh Resimen Abu-Abu miliknya sendiri—tiga ribu lima ratus prajurit yang barangkali merupakan pasukan terbaik di seluruh negeri Kukuana, dan resimen yang pertama kali kami lihat di kraal terpencil itu.

Mereka ditahan sebagai cadangan.

Para prajurit berbaring di rerumputan dalam kelompok-kelompok sunyi, menyaksikan dari kejauhan pasukan Twala mengalir keluar dari Loo.

Pemandangan itu menyerupai koloni semut yang tumpah dari sarangnya.

Baris demi baris.

Tak putus-putus.

Tiga gelombang panjang bergerak perlahan melintasi tanah, dan masing-masing, menurut hitungan kami, berisi tak kurang dari sebelas atau dua belas ribu orang.

Begitu keluar dari kota, ketiga pasukan itu merentang.

Satu bergerak ke kanan.

Satu ke kiri.

Dan yang ketiga maju lurus ke arah kami.

“Ah,” kata Infadoos pelan, dengan nada seseorang yang baru melihat nasib membuka wajahnya, “mereka akan menyerang dari tiga sisi sekaligus.”

Itu kabar buruk.

Puncak gunung tempat kami bertahan memanjang dan terlalu lebar untuk dipertahankan dengan nyaman, sementara jumlah kami terlalu sedikit untuk menutup semua sisi dengan kekuatan penuh. Namun karena mustahil menebak dari mana pukulan utama akan datang, tak ada pilihan selain menyebarkan pertahanan dan berharap kecerdasan dapat menutup kekurangan jumlah.

Maka perintah pun dikirim.

Setiap resimen diperintahkan bersiap menerima serangan masing-masing.

Dan kami menunggu fajar sepenuhnya pecah—serta perang datang menyusul bersamanya.

King's Solomon Mine

Bab 12. Sebelum Pertempuran (Part 2) Bab 13. Serangan (Part 1)

Penulis

  • Resi Bujangga

    Resi Bujangga, seorang penulis cerita anak yang suka menyadur karya-karya klasik.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *