Home / Genre / Chicklit / Cinta Kedua & Terakhir: Bab 50

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 50

CINTA KEDUA & TERAKHIR
This entry is part 51 of 51 in the series Cinta Kedua & Terakhir

“Oh, jadi Kanaya tinggal di sini? Kalau begitu sekalian aku juga mengundang Kanaya. Datanglah nanti bersama Dokter Dana,” ucapnya dengan ramah.

“Iya. Terima kasih atas undangannya Ran,” Kanaya pun bersikap ramah seperti halnya Rani yang ramah tapi hanya untuk menutupi kebusukannya.

Kebenciannya yang memuncak sebenarnya mendorong dirinya untuk menyiramkan minuman hangat yang dibawa oleh pembantu Dokter Dana ke wajah Rani. Tapi logikanya melarang karena belum saatnya dia untuk membalas perempuan berhati batu itu.

“Silakan diminum Rani, minumannya,” ucap Dokter Dana kepada Rani.

“Iya terima kasih Dana.” Rani memaksakan senyum manisnya melihat Kanaya yang masih menempel di samping Dokter Dana.

Dia meyakinkan dirinya kalau sebentar lagi Dokter Dana akan menjadi imamnya. Dan dia akan segera mendepak perempuan satu ini dari kehidupan Dokter Dana.

“Puas-puaskanlah untuk berdekatan dengan calon suamiku sekarang ini. Karena nanti, kalau tugasmu sudah berakhir di sini. Tak akan aku biarkan bayanganmu menyentuh calon suamiku. Atau kau akan menyesal seumur hidupmu,” gumam Rani dalam hatinya.

Setelah meminum beberapa teguk, Rani berpamitan untuk pulang.

“Kenapa cepat sekali pulang?” ucap Kanaya.

“Karena sudah malam, aku gak enak terlalu lama di sini. Apa lagi Dana sekarang sudah bertunangan, dan dia juga sedang ada masalah dengan tunangannya. Jadi sebaiknya aku pamit.”

“Baiklah Rani. Terima kasih atas undangannya,” ucap Dokter Dana.

Rani pun berlalu meninggalkan kediaman Dokter Dana. Dia senang sekali melihat Silvia yang pergi meninggalkan Dana dengan keadaan marah, sehingga sekarang saat pulang dia senyum-senyum sendiri.

Setelah Rani pergi, Kanaya pun pamit kepada Dokter Dana untuk beristirahat ke kamar Kaila. Dokter Dana memang sudah menyuruhnya untuk menempati kamar tamu, tapi dia memilih untuk tidur berdua dengan putrinya, agar dia bisa lebih dekat dengannya.

Dokter Dana segera menghubungi Silvia. Dia tidak sabar mendengar suara tunangan tercintanya yang sudah dia bentak demi melancarkan sandiwaranya.

“Sayang. Kamu di mana? Apa kamu baik-baik saja?” tanya Dokter Dana setelah panggilannya tersambung. Tetapi orang yang ditanyai malah tertawa.

“Kenapa malah tertawa?” tanya Dokter Dana.

“Sebab lucu saja. Kita kan sedang bersandiwara, lalu kenapa Mas cemas begitu?”

“Aku hanya takut kamu benar-benar cemburu dan marah tadi, Sayang.”

“Gak marah, kok, Mas. Kalau kamu benar-benar selingkuh, baru aku marah.”

Dokter Dana merasa lega mendengar penjelasan Silvia.

“Syukurlah, Sayang. Aku lega mendengarnya. Kamu dengar, ya? Sampai kapan pun aku tidak akan pernah selingkuh darimu,” terangnya.

“Masa?”

“Kamu tidak percaya?”

“Aku akan berusaha untuk percaya padamu, Mas. Karena sebuah hubungan itu di mulai atas dasar saling percaya dan jujur.”

“Terima kasih, Sayang .”

“Sama-sama, Mas.”

“Ya sudah. Sekarang kamu istirahat, ya? Aku mau balik ke apartemen dulu.”

“Ya, Mas. Hati-hati ya?”

“Iya, Sayang.”

Saat Dokter Dana mau berangkat, datang Darwin dari arah pintu.

“Bos. Perintah sudah selesai dilaksanakan. Tuan putri Silvia sudah sampai di rumahnya dengan selamat,” ucapnya ala-ala pembaca teks proklamasi.

“Apaan sih, kamu. Lebay,” ucap Dokter Dana sambil berlalu meninggalkannya.

Darwin mengikutinya dari belakang setengah berlari.

“Bos…. Bos…. Kok cepat amat sih jalannya? Nona Kanaya mana, Bos?”

“Dia sudah tidur di kamar Kaila, memangnya kenapa? Apa kamu suka dengan dia?”

“Hehe…. Siapa yang gak suka sama wanita cantik seperti Nona Kanaya, Bos.”

“Kamu ini aneh. Kadang manggil Bos kadang Bapak. Jangan-jangan sekarang kamu bilang suka besok kamu bilang gak suka sama dia.”

Dokter Dana melangkahkan kakinya lagi yang sempat berhenti dan menatap mata Darwin untuk mencari kebenaran dari kata-kata sukanya terhadap Kanaya, menuju kendaraannya.

“Benar, Bos. Aku suka sama dia Bos. Hanya orang bodoh yang tidak menyukai wanita secantik Non Kanaya, apalagi dia seorang model.” Dia berlari kecil menyusul Dokter Dana.

“Kamu mau pulang atau ikut ke apartemenku?”

“Kalau ikut boleh gak, Bos?”

“Boleh. Tapi mulutmu harus dikunci dulu.”

“Hahaha… Siap, Bos.”

“Ini kunci mobil. Kamu yang nyetir. Aku ngantuk.”

Darwin menangkap kunci mobil yang di lempar oleh Dokter Dana. Sebelumnya Dokter Dana sangat jarang menggunakan jasa sopir. Dia lebih suka menyetir sendiri dan tanpa pengawalan dari bodyguard sama sekali.

Dia juga tidak mau ikut andil dalam membesarkan perusahaannya. Darwin yang notabenenya hanya seorang asistenlah yang sering tampil dalam rapat-rapat perusahaan dan acara-acara penting dalam perusahaannya. Bukannya Dokter Dana tidak mahir dalam berbisnis, namun karena dia memang tidak suka dengan dunia bisnis. Dia lebih tertarik dengan ilmu kedokteran.

Dia memilih untuk tinggal di kediaman pribadinya atau apartemen dari pada pulang ke rumah orang tuanya dan dipaksa untuk melanjutkan bisnis keluarganya.

Setelah Dokter Dana bertunangan dengan Silvia, dia berubah seratus delapan puluh derajat. Dia bahkan meninggalkan dunia kedokteran, dan memilih untuk fokus mengelola bisnis ayahnya agar bisa menjaga tunangan kesayangannya. Dia hanya memantau rumah sakitnya dari jauh.

Mobil yang dikendarai oleh Darwin melaju membelah jalanan yang lengang. Tidak banyak mobil yang berlalu lalang, tapi di pinggir jalan masih banyak para pedagang kaki lima yang menjajakan dagangan mereka.

Pandangan Darwin tertuju pada sebuah tenda kaki lima yang berdinding spanduk bergambar seekor ayam dan seekor ikan lele besar.

Tanpa pikir panjang, Darwin memperlambat laju mobilnya dan berbelok ke arah samping tenda tersebut untuk memarkir kendaraannya.

Dia melihat Dokter Dana sedang tertidur pulas. Jadi dia memutuskan untuk turun sendiri memesan makanan favoritnya itu.

Tiba-tiba sebuah suara mengagetkannya. Dia terlonjak. Kakinya yang sudah turun sebelah secara refleks kembali dia masukkan. Seketika jantungnya berpacu lebih cepat.

Cinta Kedua & Terakhir

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 49

Penulis

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image