Home / Genre / Chicklit / 24. Permintaan Karima

24. Permintaan Karima

SEBIRU LANGIT CASABLANCA - SATYA PADMA
This entry is part 25 of 25 in the series Sebiru Langit Casablanca

Karima tidak langsung menjawab. Diam sebentar. Kedua mata  indahnya sesekali menunduk di hadapan sang ayah, Hicham.

“Katakan saja, Nak. Aku tidak ingin kau memiliki beban.”

Karima mengangkat kepala. Dia berujar, “Aku ingin menengok anak-anak di panti Bibi Lamyya.  Apakah Ayah  izinkan?”

Hicham tak langsung menjawab, tetapi beberapa saat  kemudian dia mengangguk. “Baiklah, Nak. Aku setuju. Pergilah!”

Karima merasa sangat senang dengan semua itu. Dia segera mempersiapkan diri menuju panti tempat Lamyya. Kedatangan Karima disambut mereka dengan sangat baik. Karima memberikan hadiah kepada mereka satu per satu. Tak lupa, dia juga mengucapkan terima kasih kepada Lamyya.

“Aku akan kembali ke Casablanca, Bibi. Mengamalkan ilmu yang aku peroleh di tanah kelahiranku. Aku mohon doa restu darimu,” ucapnya dengan bibir bergetar. Ada sesuatu mengganjal di hatinya.

Entah apa itu.

Karima tidak bisa mendeskrispsikan semuanya. Hanya dia dan Tuhan yang tahu semuanya.

Lamyya tak kuasa menahan air mata.

Mereka berpelukan erat.

Lama.

Seolah tak ingin berpisah.

“Terima kasih atas semua yang kau berikan pada kami, Karima. Kami takkan pernah melupakan kebaikanmu. Andai saja putraku ada di sini, pasti dia tak ingin kau kembali.”

Mendengar kata itu, hati Karima kian teriris. Dia tahu siapa yang dimaksud oleh Lamyya. Tentu saja, Youssef.  Pria yang pernah berbuat tidak baik kepadanya, tetapi pada akhirnya Youssef harus menanggung semua yang ia lakukan.

“Bibi, sudahlah. Lupakan. Tidak ada manusia yang tak pernah berbuat dosa dan salah. Dia tetap sahabatku.”

“Terima kasih, sayang. Kau memang wanita berhati mulia. Semoga saja anak-anakku kelak memiliki pendamping hidup sepertimu,” ucap Lamyya tulus. Dia tahu jika Youssef memiliki perhatian pada Karima.

“Bibi, kalian adalah keluargaku. Aku pasti akan datang berkunjung suatu saat. Tentu saja kita takkan pernah putus dari tali silaturahmi ini. Aku pergi, Bibi.”

Keduanya bertangisan penuh haru. Karima meninggalkan tempat itu dengan raut muka sedih. Ibarat dia meninggalkan keluarganya yang baru saja ia temukan.

Karima meninggalkan Prancis dengan membawa luka.Ada luka dan bahagia bercampur aduk menjadi satu. Luka entah karena apa? Apakah mungkin terkait dengan berbagai macam pengalaman manis dan pahit selama di sana? Ataukah ada luka lain yang ia simpan sendiri selama ini? Jika ada bahagia, tentunya hatinya pun senang dengan semua itu, tetapi bahagia yang bagaimana? Karima masih meraba-raba makna dari semua rasa yang tengah dirasakannya kini.

Air matanya menggenang selama perjalanan. Hicham sedari tadi terus memperhatikan raut muka putrinya yang tertutup mendung. Ada sesuatu yang disimpan olehnya, tetapi Karima sepertinya sengaja tidak ingin menceritakan kepada siapapun. Termasuk ayahnya.

Kepala Karima terkulai lemas saat pesawat mulai tinggal landas meninggalkan Prancis menuju Maroko. Selama dalam perjalanan tiada henti lisan Karima basah dengan dzikir. Sesekali terdengar dia ber-istighfar, bak meluapkan emosi yang dipendam selama ini di dadanya.

Hicham dan Ghaida memejamkan mata mereka selama perjalanan, tetapi Karima tidak mampu. Hatinya merasa tertinggal di sana. Di salah satu sudut terdalam di mana dia menyimpan rasa itu.

Bayang-bayang anak-anak panti dan disabilitas yang hidup penuh dengan tawa dan binar bahagia, justru membuat hatinya kian perih dan teriris. Ingin rasanya ia menemani mereka, berbagi kebahagiaan   dan juga kebersamaan yang selama ini telah ada.

Separuh jiwanya entah melanglang buana ke mana. Ada rindu yang kini harus ia pendam kala burung besi mengantarkannya menuju Maroko. Karima mengusap air matanya perlahan.

Robb…berkahilah hidup hamba-hamba-Mu yang selalu menggantungkan segala sesuatu pada-Mu. Berkahilah hidup anak-anak panti dan disabilitas di sana, adik-adikku yang kusayangi.

Yaa Dzal jalaali wal ikraam…Yaa Wahhaab…Yaa Fatah…Yaa Rozaaq.

Selama beberapa jam mengudara, akhirnya burung besi mendarat dengan selamat di bandara Mohammed V, Casablanca. Karima mengucap syukur atas kelimpahan berkah dan juga perlindungan-Nya. Dia sangat bahagia bisa menjejakkan kakinya di tanah kelahirannya.

Karima menggandeng tangan neneknya keluar dari pintu pesawat. Hicham berjalan di depan dengan membawa barang-barang milik ibunya. Mereka ternyata sudah disambut oleh anggota keluarga di sana.

Hasan, sepupu Hicham, datang bersama anak tertuanya, Bilal. Mereka membantu Hicham membawa barang-barang Hicham dan memasukkan ke dalam mobil yang telah mereka persiapkan.

Dalam perjalanan, sesekali terdengar canda tawa dari mereka, tetaoi tidak begitu dengan Karima. Dia masih menikmati sendirinya, hanya tersenyum tipis mendengar seloroh yanb mereka lontarkan.

“Paman Hicham, kukira Karima akan menikah di sana,” goda Bilal yang memang terkenal usil dan suka menggoda sepupunya.

“Bilal, jaga ucapanmu, ya!” teriak Karima. Semuanya tertawa mendengar kedua sepupu itu becanda.Muka Karima merah padam. Antara malu dan kesal.

“Benar, kan, Paman? Karima pasti sudah punya pujaan hati di sana,” Bilal makin kencang menggoda Karima sehingga ia mendapat pukulan lembut dari boneka yang dipegang Karima.

Hicham tersenyum melihat keduanya.

“Kalian ini tidak pernah berubah dari dulu. Tiap kali bertemu pasti ribut.”

“Itulah saudara.  Jauh dirindukan, dekat mereka ribut. Ha ha…,” imbuh Hasan.

“Ya. Bilal dan Karima memang selalu bermusuhan dari dulu,” kata Hicham, “bahkan hingga mereka dewasa pun tidak pernah berhenti bermusuhan.”

Mereka semua tertawa.

“Itu karena dia menyayangi Karima,” lanjut Ghaida.

Kini semuanya diam. Bilal dan Hasan bergantian menyetir. Tak lama perjalanan mereka sampai di rumah Hicham. Karima kembali terharu. Kenangan-kenangan bersama almarhum ibunya kembali bermunculan.

Semuanya masuk ke sana. Rumah itu tidak pernah berubah. Justru kini terlihat lebih terawat. Hasan yang selama ini merawat dan memperbaiki beberapa bagiannya yang telah rapuh. Semua itu ia lakukan karena tahu jika kondisi Hicham sedang dalam fase turun. Kondisi Hicham memang kurang begitu bagus selama beberapa tahun ini.

Istri Hasan sudah menyiapkan aneka hidangan dan makanan khas Maroko lainnya. Ada couscous, tagine dan juga beberapa sup kombinasi kesukaan keluarga mereka.

Usai makan, Karima menuju kamarnya, membaringkan tubuhnya yang penat di sana. Satu per satu, kenangan-kenangan itu muncul, saat pertama ia bersama kedua orang tuanya di Ifrane, pertemuannya dengan Yazid, kematian Yasmin, hingga saat ia memperoleh bea siswa di Prancis untuk pendidikannya. 

Karima bersyukur atas semua itu. Meski di salah satu sisi sudut hatinya ada sesuatu yang ingin ia ucap dalam diam, tentang sesuatu, tentang rasa, dan tentang asa yang ia impian.

Jika Engkau berkehendak, pertemukan aku sekali lagi dengan seseorang yang selama ini menjadi inspirasi dalam hidupku, Yaa Rabb.  Seorang hamba-Mu yang benar-benar membuka sisi lain mata hatiku yang selama ini melihat keindahan, tetapi ternyata aku menemukan keindahan lain di sana. Di hatinya, yang entah milik siapa. Kupasrahkan dia pada-Mu, dalam genggaman cinta dan kuasa-Mu. Aamiin.

Sebiru Langit Casablanca

3. Kuingin Bersamamu

Penulis

  • Satya Padma

    Satya Padma adalah penulis yang masih terus belajar. Salah satu karyannya yang sudah terbit adalah Sang Elang dari Mesir (SEDM)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image