Home / Genre / Chicklit / 25. Pilihan Hati

25. Pilihan Hati

SEBIRU LANGIT CASABLANCA - SATYA PADMA
This entry is part 26 of 27 in the series Sebiru Langit Casablanca

Usai menyematkan satu nama dalam doanya, Karima terlelap. Semilir angin yang masuk melalui celah-celah jendela membelai lembut wajah cantiknya. Karima berlabuh entah ke mana. Dia ternyata berada di tempat asing. Terdampar di sana.

“Di mana aku?” bergumam seorang diri yang tidak Karima tahu tempat apakah itu.

“Mengapa sangat sepi dan gersang? Tidak ada orang-orang ataupun pepohonan? Hanya padang pasir saja yang kulalui.”

Langkahnya kian jauh, mencari jalan pulang, tetapi sia-sia. Seperti ada labirin yang tak kunjung selesai di sana. Labirin -labirin bisu yang terus mengurungnya untuk tetap tinggal bersama. Entah mengapa harus ada labirin-labirin itu?

“Karima…aku di sini,” teriak seseorang memanggil namanya. Gadis itu menoleh mencari sumber suara. Berlari ke arah suara itu yang ternyata kini kian jauh  Karima terus berlari tanpa menoleh.

“Hei, siapa dirimu? Tunjukkan dirimu,” pinta Karima berteriak dengan keras agar orang itu mendengarnya. Namun sayang, suara itu tiba-tiba lenyap terbawa angin gurun yang kencang menerpa.

Karima terus menyusuri labirin itu, mencari rupa sang pemilik suara. Sesosok bayangan berdiri tegak tak jauh dari tempatnya kini. Seorang laki-laki.  Berdiri membelakanginya. Karima tidak tahu siapa laki-laki itu, lantas dia memberanikan diri mendekat dan menyapanya, “Kau siapa? Apakah kau yang memanggil namaku tadi?”

Tak ada jawaban. Laki-laki itu tetap saja membatu. Tidak menghiraukan apa yang Karima ucapkan, hingga membuat gadis itu penasaran dan kian mendekatinya. “Hei, Tuan. Kau siapa? Dan apa yang sedang kau cari di sini?”

“Aku mencarinu, Karima. Cinta sejatiku.”

Suara itu terdengar menggema lagi. Karima terus mendekat ke arahnya. “Katakan, siapa kau sebenarnya, tuan? Mengapa kau mencariku?” tanya Karima penuh penekanan. Dadanya bergemuruh kencang saat laki-laki itu menyebutnya cinta sejatinya. Ada ketakutan menumpuk di sela-sela keberaniannya untuk segera keluar dari labirin itu.

Akan tetapi, langkahnya seolah dihentikan oleh magnet kuat yang menariknya agar lebih mendekat kepadanya. Karima tak berdaya. Ingin melawan sekuat tenaga yang ada, tetapi usahanya sia-sia.  Kini dia membatu di belakang laki-laki yang tak kunjung menampakkan wajahnya.

Karima kian penasaran. Langkahnya kian mendekat dengan deru napasnya yang kian terengah. Labirin-labirin itu perlahan seperti tersibak sendiri. Entah ada kekuatan apa dan dari mana semuanya bisa berlalu begitu saja.

“Aku tahu kau pasti akan datang padaku, Karima. Aku sangat yakin itu. Ikatan yang baru saja kita jalin pasti takkan mudah untuk kita abaikan begitu saja. Akui saja, Karima. Bahwa dirimu pun sebenarnya tak ingin jauh dariku. Tak ingin pergi dari hidupku. Bukan begitu?”

“Hei, kau siapa? Apa yang kau bicarakan?”

“Aku berbicara masalah hati, Karima. Aku pastikan kau juga tengah gelisah karena kepergianmu itu. Kau takkan pernah bisa meninggalkan hati dan cintaku, Karima. Sadarilah itu!”

“Aku tidak pernah gelisah dan merasa  sok tahu dengan kehidupanku.”

“Kita pernah dekat, bahkan mungkin sangat dekat. Aku tahu jika dihatimu telah tumbuh bunga-bunga indah bermekaran saat bersamaku.”

“Kau hanya menggodaku. Merayuku.”

“Aku tidak merasa begitu, Karima. Kukatakan yang sesungguhnya apa yang kau rasa padaku.”

“Tidak! Tidak! Aku tidak mengenalmu.”

Karima mencoba ingin berlari dan melepas belenggu yang terasa berat itu dengan menyeret kakinya di panasnya padang pasir yang panas tetapi juga dingin. Hampir saja ia membeku dalam dinginnya angin, tetapi kekuatan dari panasnya semangat telah mengalahkannya.

Karima berlari mencari jalan pulang. Entah seberapa jauh ia melangkah. Langkahnya selalu kembali menuntunnya pada laki-laki asing misterius itu. Tak ada kata menyerah. Ia terus berusaha melepasakan diri dan pergi sekuat hati. Hanya saja kekuatannya sirna.

Lelaki itu memalingkan wajah, menatap ke arahnya. Seketika Karima terbelalak manakala mengenali siapa sejatinya lelaki itu. Mulutnya terkunci. Tiada kata apapun terucap darinya. Hanya…

“Kau …kau….”

“Ya, ini aku, Karima. Orang yang telah membuat pikiran dan hatimu gelisah.”

“Tidak! Tidak!”

“Jangan menolakku, Karima. Aku tahu kau pun memiliki rasa indah itu. Jangan mengelak lagi.”

Karima seketika terbangun dari mimpinya. Dia tak kuasa menahan air mata yang kian menderas. Hari yang seharusnya menjadi hari bahagia untuknya justru menjadikan hari yang gamang dalam hidupnya.

Segera ia membasuh muka, bercermin dan mengelap wajahnya yang terlihat lelah.

Langkahnya menuntun menuju meja dan segera mengambil air minum. Membiarkannya menyusuri tenggorokannya yang kering, memberikan kesegaran di tanah gersang yang baru saja ia lalui.

Mengapa tiba-tiba dia hadir dalam mimpiku? Apakah rahasia dibalik semua ini? Ah, ini hanyalah mimpi. Bunga tidur. Aku rasa tidak ada hubungannya dengannya, aku hanya tahu jika aku ini sedang lelah, Karima berkata dalam hati.

Dia menyandarkan tubuhnya sejenak. Mencoba menenangkan diri setelah kembali dari kembara mimpinya. Mimpi yang penuh teka-teki. Mimpi yang baginya hanya penghias tidur.

**

Keesokan harinya, Karima mendatangi pusara Yasmin. Ditumpahkannya semua kerinduan yang ada untuk almarhumah ibunya. Doa-doa tulus terlantun tiada henti dari bibir indah gadis itu. Ada duka dan kerinduan  terasa mendalam di hatinya.

Ibu, aku sudah meraih apa yang pernah kucita-citakan dulu. Tak mudah memang menggapai perjuangan ini tanpamu di sisiku.

Bu, aku bersyukur sekali ayah ternyata sosok yang sederhana dan sangat setia. Berulangkali saudara dan kerabat menyarankan supaya menikah lagi, tetapi ayah menolak. Ayah lebih fokus membesarkan diriku dan juga menjaga nenek. Ayah tidak ada keinginan menikah lagi setelah kepergianmu.

Bu, beristirahatlah yang tenang. Doaku senantiasa ada di setiap tarikan napasku.

Berulangkali Karima mengusap matanya yang basah dengan berbagai rasa tak terbendung. Karima meninggalkan tempat itu dan berjalan menuju suatu tempat.

Masjid Hasan II yang menjadi kebanggaan rakyat Maroko. Masjid yang dibangun dipinggir samudera Atlantik itu memiliki kelebihan tahan gempa, dan merupakan salah satu masjid terindah yang ada di dunia.

Karima duduk di tepian. Di antara bebatuan yang menjadi pembendung pinggiran pantai. Pandangannya menerawang menuju laut lepas.

Dalam sepersekian menit, dia tersenyum. Seolah di seberang sana ada sesuatu yang membuat hatinya lepas dan damai.

Semangatnya kembali tumbuh. Lusa dia akan mendaftarkan diri di salah satu sekolah dasar yang sedang membutuhkan tenaga guru.

Bukan kebetulan.

Ini adalah skenario-Nya yang telah tertulis di sana.

Karima bertekad ingin menjadikan apa yang telah diperoleh dari pendidikannya sebelumnya menjadi sesuatu yang bernilai dan bermanfaat bagi orang banyak.

Senja menyapa keindahan biru Casablanca yang mulai memudar. Namun, tidak seperti jiwa dan semangat Karima yang terus bergelora, ingin menjadi bagian dari pengabdi bangsa di dunia pendidikan.

Hari itu akan tiba. Karima akan kembali bertemu dengan anak-anak. Dipertemukan dengan dunia anak yang membuat hidupnya terasa lebih berwarrna, seperti halnya yang pernah ia rasakan saat berbagi kebahagiaan dengan anak-anak panti dan penyandang disabilitas saat berada di Prancis dulu.

Satu nama tersemat di sana. Satu nama yang menginspirasi jiwa kerdilnya. Satu nama itu yang tampak abu-abu. Akan tetapi bagi Karima, dia memiliki cinta seluas samudera kepada sesama. Rasa empati yang tinggi dibalik topeng kepalsuan yang menyelubunginya selama ini.

Sebiru Langit Casablanca

4. Permintaan Karima 6. Sahabat Terbaik

Penulis

  • Satya Padma

    Satya Padma adalah penulis yang masih terus belajar. Salah satu karyannya yang sudah terbit adalah Sang Elang dari Mesir (SEDM)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image