Home / Non Fiksi / Opini / Kehidupan Kristen: Motivasi Pernikahan yang ‘Benar tapi Salah’, Apa Saja?

Kehidupan Kristen: Motivasi Pernikahan yang ‘Benar tapi Salah’, Apa Saja?

Kehidupan Kristen 20260626
3

Beberapa bulan terakhir ini, kembali penulis dibuat prihatin plus miris dengan banyaknya kabar perceraian pasangan pesohor negeri ini. Bahkan bukan hanya itu, penulis juga merasa ironis dengan kabar pernikahan beberapa lagi-lagi pesohor, yang seharusnya jadi kabar bahagia, akan tetapi jika direnungkan lebih dalam menimbulkan banyak tanda tanya. Misalnya, mengapa begitu dadakan, atau mengapa terkesan kelewat mewah, apakah jadi sebentuk kewajiban atau demi gengsi belaka?

Menikah, sebuah kata kerja yang bagi sebagian besar generasi X, gen Y hingga Milenial anggap sakral, agung, suci seperti halnya Usagi (Tokoh anime/manga Sailor Moon) yang cita-citanya jadi pengantin. Akan tetapi kini di mata gen Z barangkali sebaliknya, menikah jadi hal yang begitu dipertimbangkan bahkan banyak yang menganggap marriage is scary. Jadi, mana yang benar?

Menikah itu indah, asal dijalankan dengan motivasi yang tepat. Inilah beberapa motivasi yang awalnya seakan benar, tapi ternyata salah.

  1. (Hanya demi) memperoleh keturunan. Benar apa kata Firman Tuhan seperti dalam Kejadian 1:28 yang berbunyi: “Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: ‘Beranakcuculah dan bertambah banyaklah; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu…”

    Manusia diciptakan tidak hanya untuk hidup sorangan wae, Tuhan tidak akan membiarkan kita ‘kesepian’ karena kita adalah makhluk sosial. Akan tetapi tidak lantas setelah menikah, pasutri harus kebelet mendapatkan keturunan sesegera mungkin, atau harus punya anak sepasang (laki-laki perempuan) baru dianggap ‘sempurna’. Apabila pernikahan-perkawinan hanya untuk memperoleh keturunan belaka (anak), manusia akan kehilangan ‘kemanusiaannya’. Bahkan rentan sekali terjadi perpisahan-perceraian hanya karena suami atau istri atas izin Tuhan kurang subur/sulit memperoleh keturunan, atau jika berkali-kali sudah ‘mencoba’, gendernya sama semua (laki-laki atau perempuan semua hingga bererot tiga, misalnya!) Punya anak adalah anugerah, akan tetapi demikian pula jika Tuhan berkata belum atau tidak.
  2. (Hanya untuk) pelarian dari rasa kesepian. Seperti dalam Firman Tuhan dalam Kejadian 2:18, Tuhan Allah berfirman: Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.” Karena kita makhluk sosial apalagi memiliki ketertarikan dengan lawan jenis, wajar saja jika kita pernah atau sedang jatuh cinta/naksir seseorang saat masih lajang, entah di sekolah, kampus, gereja, atau tempat kerja. Akan tetapi jika hanya untuk pengusir kesepian saja, tanpa rasa cinta kasih sayang yang timbul dari Tuhan, sebuah hubungan (pacaran, apalagi pernikahan) akan terasa hambar. Pasangan juga adalah teman terbaik – sahabat hidup, bukan hanya ibarat radio pengusir sepi.
  3. (Hanya untuk) melampiaskan nafsu/naluri reproduksi. Wajar jika seseorang memiliki naluri dasar (basic instinct) makhluk hidup atau ketertarikan yang lebih pribadi dan intim kepada lawan jenis. Namun sungguh sangat ‘terlalu’ apabila menikah dengan alasan seperti, “Saya hanya menikah karena ‘dia cantik-tampan’, tubuhnya jenjang-atletis-seksi,” dan sebagainya. Jika kata peribahasa cinta datang dari mata turun ke hati seperti halnya kasih/cinta eros, maka cinta eros belaka tidaklah cukup untuk mempertahankan pernikahan atau jadi dasar/alasan sebuah pernikahan Kristen. Apalagi jika dalam pernikahan, misalnya suami atau istri menua, jadi kurang menarik lagi, bahkan tidak mampu lagi ‘seperti dulu’ dalam hal intimacy. Tidak mungkin memutuskan berpisah ‘hanya’ gara-gara masalah semacam itu, bukan? Bahkan bagi banyak pasangan senior, peluk-cium serta kehangatan tetap dapat menggelorakan api asmara, tidak lagi terbatas pada syarat-syarat fisik sempurna yang jadi standar dunia.

Mengasihi pasangan hidup tanpa syarat (‘cinta tanpa tapi’) dan bersedia menerima kekurangan-kelebihan masing-masing dalam suka-duka adalah beberapa saja dari sekian motivasi pernikahan indah yang perlu direnungkan, apakah kita mampu? Sebelum memutuskan akan menikah, kenalilah calon pasangan hidup serta perasaan sendiri terlebih dahulu secara lebih baik serta mendalam. Cinta kasih sayang tulus, chemistry, mindset/visi-misi bersama, motivasi pernikahan yang tepat, serta terutama kehadiran-penyertaan Tuhan Allah menjadikan pernikahan surga kecil di bumi. Berdoa-beribadah bersama keluarga, saling percaya satu sama lain, keterbukaan, merawat kenangan indah adalah beberapa tips lain yang bisa dijalankan. Percayalah jika Anda dan pasangan akan hidup dalam kedamaian dan sukacita tak berkesudahan. Amin.

Semoga bermanfaat dan Tuhan Yesus memberkati.

Tangerang, 26 Juni 2026

Penulis

  • Wiselovehope

    Wiselovehope adalah nama pena Julie D. (juga akrab disapa dengan nama Kak Jul) kelahiran Jakarta, 30 Juli.

    Ibu dua putra dan karyawati swasta yang sedari dini suka membaca dan mengoleksi buku. Juga berkarya sebagai seorang desainer komunikasi visual.

    Bersama beberapa rekan penulis, Kak Jul mendirikan Komunitas PenA dan KomPak’O (Komunitas PenA Kompasianers dan Opinians) sebagai sarana berkomunikasi dan edukasi bagi sesama penulis pemula.

    Beberapa karya tulis populernya adalah The Prince & I: Sang Pangeran & Aku, trilogi novel romansa misteri Cursed: Kutukan Kembar Tampan (Pimedia Publishing, 2021-2022), Cinta Terakhir Sang Bangsawan (Bookies Literasi, 2023) dan Antologi Komunitas PenA & KomPak’O: Risalah Rindu, 1001 Kata Hati: Sebuah Aksara Semiloka, Cyan Magenta, Lelaki yang Menjinakkan Naga, My One & Only, Ini Puisi?

    Instagram: @wiselovehope
    Situs link karya: linktr.ee/wiselovehope
    Facebook: facebook.com/wiselovehope.wiselovehope

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image