Home / Genre / Chicklit / 26. Sahabat Terbaik

26. Sahabat Terbaik

SEBIRU LANGIT CASABLANCA - SATYA PADMA
This entry is part 27 of 27 in the series Sebiru Langit Casablanca

Hari ini Karima mulai mengajar di sekolah baru. Hari pertamanya ia isi dengan berkenalan dengan guru-guru senior dan murid-murid di kelasnya. Karima berkesempatan mengajar di kelas 3. Murid-muridnya sangat antusias menerima kedatangan guru baru mereka.

Salah seorang siswa mendekat dan menyerahkan bunga kertas yang baru saja selesai ia buat.

“Selamat datang, Ibu Guru. Kami sangat senang dengan Bu Guru,” katanya dengan tatapan mata polos. Karima menunduk, mensejajarkan tubuhnya dengan anak itu.

“Siapa namamu?”

“Yasmin.”

Seketika Karima terkejut. Ada rasa haru menyusup di rongga hatinya. Nama muridnya sama dengan mendiang ibunya.

“Yasmin,” lirihnya, seraya memeluk gadis kecil itu, “terima kasih, sayang. Aku sangat suka dengan bunga kertas ini. Kau membuatnya sendiri?”

Yasmin mengangguk.

Karima melepas pelukannya. Wajah polos itu begitu menghipnotis dirinya. Bukan karena nama yang sama dengan mendiang sang ibu, tetapi ketulusan dan kepolosan yang terpancar dari matanya.

Dia menyuruh Yasmin dan teman-temannya duduk membentuk lingkaran di lantai. Karima mengajarkan permainan dan lagu supaya anak-anak itu kian dekat dengannya.

Benar saja. Apa yang ia terapkan hari itu ternyata membuat anak-anak itu menyukainya.  Mereka bergantian bercerita jika guru mereka pindah, tetapi akhirnya senang karena mendapat guru baru, yaitu Karima.

“Ibu Guru, kami akan selalu menjadi teman dan sahabat baik untuk Bu Guru,” kata seorang murid laki-laki bernama Ismail. Karima terharu mendengarnya. Ternyata, cinta dan kasih sayang yang dulu pernah ia bagi di panti asuhan kini ia dapatkan kembali di sekolah tempatnya mengajar.

“Iya, sayang. Kalian semua adalah kebanggaanku. Ibu Guru akan selalu membersamai kalian.”

Karima sangat bahagia. Di permulaan harinya mengajar dia sudah disuguhkan dengan beberapa hal yang membuatnya terharu, termasuk reaksi dari murid-muridnya.

Hari-hari berlalu begitu cepat. Tak terasa setahun sudah Karima mengajar di sekolah itu dengan segala suka dukanya. Dia memiliki keluarga kecil di dalam kelas yang ia pegang. Anak-anak itu sudah ia anggap seperti adik dan layaknya anak sendiri.

**

Sementara itu, Yazid masih saja belum bisa melupakan Karima. Meski dia dekat dengan beberapa wanita, tetapi pesona Karima tetap lekat di sanubari pria berdarah Maroko-Spanyol itu.

Di sore yang indah di tepi pantai Malaga, Yazid melangkahkan kakinya perlahan. Menyusuri tiap langkah bersama kenangan-kenangan masa kecilnya bersama sang ayah yang telah tiada.

Dia teringat bagaimana dulu pertemuannya dengan Karima saat berada di Ifrane. Pertemuan masa kecil yang terulang lagi saat ia mendapat tugas menyelidiki keberadaan perdagangan ilegal milik Leon d’Oro yang melibatkan interpol Perancis dan Spanyol membongkar sindikat itu.

Meski pada akhirnya, Yazid harus dipertemukan dengan sahabat lama yang justru melenceng dari jalannya, yaitu Youssef.  Dendam dan kebencian Youssef pada Leon d’Oro yang tak lain adalah ayah kandungnya, membuatnya kembali bertemu Karima yang saat itu diculik Youssef sebagai tebusan.

Malang, Youssef yang dulu sangat dihormati dan disegani harus dihadapi sebagai lawan untuk menegakkan kebenaran dan keadilan. Selain itu, Youssef ternyata memiliki luka masa lalu sebagai anak yang tak diakui oleh Leon.

Youssef dibesarkan oleh ibunya seorang diri yang berasal dari Tunisia. Meski pada akhirnya, Yazid tahu jika Lamyya, ibu Youssef, adalah anak angkat dari imigran Tunisia yang sukses di Prancis.

Yazid duduk di pasir putih yang berkilau tertimpa sinar matahari yang cukup hangat. Di depan mata, laut Malaga luas membentang, entah di mana tepinya. Yazid termenung di sana. Tak menghiraukan sengatan sang surya yang kian membakar.

Perasaannya tak menentu. Bayang-bayang masa kecil saat bersama Karima selalu datang menyapa. Jujur, ia memang masih menyimpan harapan untuk meminang gadis itu lagi agar bersedia menjadi pendampingnya.

Ia yakin Karima akan menerima cintanya. Perlahan tapi pasti. Langkahnya kembali terayun menuju kediamannya yang asri tak jauh dari bibir pantai yang begitu menenangkan hatinya.

Yazid ingin membicarakan hal itu lagi pada ibunya, Huwaida.

“Ibu, ada yang ingin aku bicarakan sebentar.”

Huwaida yang  tengah menyulam  menghentikan aktivitasnya, tersenyum memandang wajah sang putra yang  kian dewasa.

“Bicaralah, Nak. Ibu akan mendengarkanmu,” ucap Huwaida sambil menyuruh anaknya duduk di sebelahnya. Akan tetapi, Yazid justru duduk di bawah, meletakkan kepalanya di pangkuan ibunya. Rupanya ia ingin dimanja sama seperti dulu, saat ia masih kecil.

Huwaida membelai lembut rambut putranya. Ia berkata lirih, “Bicaralah.  Jangan kau pendam.”

Sejenak Yazid terdiam. Tenggorokannya tercekat sebelum akhirnya ia berkata, “Ibu, aku ingin melamar Karima kembali.”

Huwaida terkejut. Ia tak menyangka jika putranya belum bisa melupakan gadis itu. Sorot keraguan tergambar jelas di wajahnya yang kini mulai dipenuhi kerutan. “Nak, kau yakin?:

Yazid mendongakkan wajahnya. Menatap kedua telaga bening milik sang ibu yang menenangkan. “Ya, Ibu. Aku yakin,” jawabnya mantap.

“Tapi waktu itu Karima rasanya belum siap menerimamu, lebih tepatnya dia sepertinya hanya menganggapmu sebagai sahabat saja. Aku tidak ingin kau terluka dan sakit hati karena itu.”

“Aku sadar, Ibu. Aku bisa memahami kekhawatiran yang ibu pendam selama ini, tetapi aku punya keyakinan jika rasaku pada Karima takkan pernah berubah.”

“Bagaimana jika dia ternyata sudah menikah? Kau masih akan mengejarnya?”

“Tentu saja tidak, Ibu. Aku akan ke sana menjumpainya sebagai sahabat. Aku takkan langsung melamarnya. Aku harus tahu apakah dia juga memiliki rasa yang sama denganku,” ucapan Yazid kian mantap. Huwaida hanya tidak tega jika putranya pada akhirnya nanti akan kecewa.

“Kau akan meninggalkan pekerjaanmu?”

“Sementara waktu saja. Aku mendapat cuti akhir tahun ini, itu bisa kugunakan untuk datang ke tempat Karima. Mohon doa restumu, Bu.”

“Tentu saja, Nak. Doa dan restuku selalu menyertai setiap langkahmu.”

“Terima kasih, Ibu.”

Yazid memeluk erat ibunya. Rasa bakti dan cintanya pada sang ibu adalah jalan kesuksesan yang selama ini ia rasakan. Dia tak ingin mengecewakan ibunya. Apapun yang ia mampu akan ia persembahkan untuk sang ibu.

Beberapa hari kemudian, Yazid meninggalkan Malaga menuju Casablanca. Huwaida tidak turut serta karena kondisi kesehatannya yang belum membaik. Selama beberapa bulan masih harus terapi. Yazid meminta salah seorang kerabatnya menjaga dan menemani Huwaida sampai  ia kembali lagi.

Kedatangan Yazid yang tak terduga tentu saja membuat Karima terkejut. Apalagi kedatangannya kali ini dengan dalih liburan.

“Aku ingin mengenang masa kecil saat dulu berada di Ifrane,” ucapnya saat bertemu Karima.

Karima yang mendengar merasakan juga ada getar rindu pada sosok mendiang ibunya. Yasmin.

“Bagaimana denganmu, Karima?” tanya Yazid dengan tatapan penuh arti, “Kau mau ikut denganku?”

Karima terdiam, seperti sedang berpikir. Tak lama ia tersenyum dan menjawab, “Baiklah. Kita ke sana bersama ayah, nenek, dan Nouhaila. Bagaimana?”

“Ide yang bagus. Aku tidak keberatan,” jawab Yazid ringan meski sebenarnya dalam hati kecewa dengan keputusan itu.

“Terima kasih, Yazid. Kau adalah sahabat terbaikku.”

Perasaan Yazid begitu sejuk mendengar ucapan tulus Karima. Ia yakin bahwa Karima akan menerima cintanya.

Sebiru Langit Casablanca

5. Pilihan Hati

Penulis

  • Satya Padma

    Satya Padma adalah penulis yang masih terus belajar. Salah satu karyannya yang sudah terbit adalah Sang Elang dari Mesir (SEDM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image