Home / Topik / Babu (Baca Buku): Nongkrong Bareng Jokpin di Angkringan

Babu (Baca Buku): Nongkrong Bareng Jokpin di Angkringan

BaBu 20260628

Nongkrong di angkringan bukan sekadar urusan perut, tapi bisa tentang obrolan politik, ekonomi bahkan urusan ranjang.

Buku tipis setebal 80 halaman terbitan Diva Press (2021) ini bicara tentang itu semua. Lebih istimewanya lagi buku ini memuat 47 puisi karya Jokpin alias Joko Pinurbo yang tercipta selama masa pandemi corona.

Jadi tidaklah aneh kalau buku kumpulan puisi ‘Sepotong Hati di Angkringan’ ini bernuansa sendu. Menangisi kematian, meratapi kesendirian atau memandang langut malam dengan pikiran kosong mewarnai hampir seluruh sajak-sajak Jokpin.

Bahasa Sederhana

Seperti puisi-puisi Jokpin pada umumnya dengan kalimat atau bahasa sederhana, maknanya menjadi mudah untuk dipahami. Tidak perlu dengan penafsiran yang ‘ndakikndakik’.

Coba simak puisi pembuka berjudul ‘Pintu Ayah’ ini:

Ayah hanya bisa mewariskan sebuah pintu kepada saya. Pintu itu Ayah hadiahkan untuk mengganti pintu kamar saya yang sudah lapuk.
Saya ingat Ayah pernah bercerita bahwa ia sering menemui jalan buntu dan setiap menemui jalan buntu tiba-tiba ia mendapatkan pintu untuk masuk ke jalan lain yang tak terduga


Puisi-puisi Jokpin diilhami oleh fenomena keseharian yang ia temui. Seperti pintu, meja makan, burung prenjak, capung, tukang bakso, tukang becak atau tukang angkringan yang marak di Yogya (untuk yang ini terciptalah puisi Sepotong Hati di Angkringan – pun jadi judul buku kumpulan puisinya).

Perenungan Mendalam

Seperti sudah disampaikan di muka bahwa puisi-puisi dalam buku ini lahir dari perenungan mendalam Jokpin selama masa pandemi corona. Tentu saja banyak kita jumpai tentang jaga jarak, cuci tangan/mandi atau work from home dan semacamnya.

Lihatlah puisi ‘Jalan Korona’ (halaman 58):

Pandemi mengantar kita ke sebuah jalan yang dinaungi sepi dan senja. Jalan yang terasa jauh dan entah akan sampai di mana, padahal hanya berputar-putar di sekitar rumah kita.


Atau baca puisi ‘Ibadah Mandi’ ini:

Pandemi membuat saya lebih dewasa, setidaknya dalam hal mandi. Saya sudah bisa dan berani mandi kapan pun dan dalam situasi apa pun.

Situasi yang mencekam pada masa pandemi bisa menjadi cair di tangan Jokpin. Seperti yang terbaca dari puisi ‘Maut Tersenyum’:


Maut tersenyum
mengulurkan mawar sekuntum
dan dengan takzim mencium takutmu.

Begitulah. Banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari nongkrong sambil baca buku kumpulan puisinya sang Joko Pinurbo.

Selamat menikmati nasi kucing, eh membaca puisi!

Jkt, 280626

Penulis

  • Mas Sam

    Seorang guru yang hobi baca dan suka nulis.

    Menamatkan pendidikan di IKIP Negeri Yogyakarta dan berprofesi sebagai guru sejak 1996 sampai sekarang.

    Tulisannya dapat dibaca di platform kompasiana.com dan opinia.id.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image