Home / Genre / Chicklit / Cinta Kedua & Terakhir: Bab 51

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 51

CINTA KEDUA & TERAKHIR
This entry is part 52 of 53 in the series Cinta Kedua & Terakhir

“Mau ke mana kamu?” tanya Dokter Dana yang sudah bangun dari tidurnya saat Darwin memarkir kendaraannya.

Dia mengelus dadanya dan berkata, “Bos, kenapa gak bilang-bilang sih kalau sudah bangun? Bikin orang jantungan saja.”

“Baru segitu saja sudah kaget. Pecel ayamnya seporsi jangan lupa tahu tempe, sambalnya sambal kacang.”

“Siap Bos.”

Darwin segera keluar dan masuk ke dalam tenda pecel ayam untuk membeli dua porsi pecel ayam kesukaannya yang ternyata juga kesukaan Dokter Dana.

“Mbak. Pecel ayamnya dua porsi, di bungkus aja, ya. Sambalnya sambal kacang.”

“Siap, Mas. Ditunggu, ya? Ini masih pesanan yang lain dulu.”

Sambil menunggu pesanannya disiapkan dia berselancar di dunia Maya. Dia mengacak-acak sebuah aplikasi sosial media.

Di sana lagi-lagi dia membayangkan Kanaya yang sedang berlenggak lenggok sebagai model sebuah brand.

“Kamu memang cantik, Kanaya. Sepertinya aku tergila-gila padamu,” gumamnya dalam hati.

Dia senyum-senyum sendiri, sampai dia dikagetkan dengan suara meja diketuk.

Tok! Tok! Tok!

“Eh, iya Mbak.”

Dari tadi saya panggil, tapi kayaknya mas-nya lagi serius banget, sampai-sampai gak dengar sama sekali.”

“Hehe. Maaf, Mbak.”

“Iya, santai saja, Mas. Gak apa-apa kok.”

Darwin menyerahkan uang kertas lembaran seratus ribu dua lembar.

“Ini, Mbak. Uangnya.”

“Wah ini kelebihan, Mas. Satu aja dah ada kembalian, apalagi dua.”

“Gak apa-apa, kembaliannya buat Mbak aja.”

“Benar, Mas?”

“Benar.”

Wah, makasih loh, Mas.”

“Ok. Sama-sama.”

Darwin berlalu menuju mobil bosnya yang sedang diparkir.

“Lama banget sih?”

“Bos, nungguin saya?”

“Gak. Lagi nungguin setan nyasar.”

“Hahaha, tapi sayangnya gak lucu, Bos.”

Darwin segera menyalakan mesin mobil yang hampir tidak terdengar suaranya itu.

Sebelum jalan, dia menyetel musik dangdut kesukaannya.

“Apaan sih. Bikin ngantuk gue hilang aja,” ujar Dokter Dana yang tersenyum melihat tingkah asistennya yang lagi asik joget sambil menyetir.

Dia benar-benar tidak menyangka kalau asistennya ini begitu humoris, lucu dan baik. Dulu dia kira Darwin orang yang kaku seperti dia. Sebab saat Dokter Dana sesekali memantau pekerjaan asistennya ini dia terlihat sangat serius dengan pekerjaannya dan sanag jarang tersenyum.

“Sepertinya aku harus lebih sering berinteraksi dengan bawahanku, agar aku dapat mengenal karakter mereka lebih dekat lagi,” gumamnya dalam hati.

Mobil berlari menuju sebuah apartemen mewah di pusat kota.

“Sepertinya pemberhentian kita sudah tidak jauh lagi. Harap penumpang bersiap-siap untuk meninggalkan kendaraan ini.” Darwin memberi arahan ala setasiun kereta api.

Setelah sampai di apartemennya, Dokter Dana segera mengeluarkan sebuah kartu untuk membuka pintunya. Lalu mereka masuk.

Sebelum masuk, tak lupa Darwin mengucapkan salam, walaupun dia tahu kalau di ruangan itu tidak ada siapa pun.

“Waalaikummussalam,” jawab Dokter Dana. “Silakan masuk. Anggap saja rumah sendiri,” ucap Dokter Dana kemudian.

“Wah. Ruangannya wangi sekali. Dan juga tertata dengan rapi. Ternyata Bos ini pencinta kebersihan ya?”

“Apa kamu lupa, kalau aku ini seorang dokter?”

“Oo, iya. Maaf, Bos. Seorang dokter kan sangat mengutamakan kebersihan. Mmm … kamar saya di mana, Bos? Di sini hanya ada dua kamar utama dan satu kamar pembantu. Satu kamar sudah saya tempati, tinggal kamar pembantu dan satu kamar utama. Jadi kamu pilih saja yang mana yang kamu suka.”

“Kalau gitu saya pilih kamar utama yang satunya lagi, Bos.”

“Terserah. Yang penting sekarang kamu mandi, habis itu kita makan pecel ayamnya. Nanti keburu dingin, gak enak.”

“Ok, Bos. Saya juga sudah lapar banget nih.”

Cacing dalam perut Darwin sudah tidak dapat diajak kompromi, dari tadi sudah berisik. Makanya dia sengaja menyetel lagu dangdut sepanjang perjalanan, supaya suaranya tidak sampai kedengaran keluar.

“Mandi yang bersih.”

“Haa!”

“Biar tempat tidurnya gak bau keringat lu nantinya.”

“Hehe. Iya. Bos. Lagian Bos ada-ada saja, pakai suruh mandi yang bersih, ya pikiran saya kan jadi kotor.”

“Ih. Ada-ada saja kamu ini. Emang gua penyuka lelaki. Amit-amit,” ucapnya sambil berlalu meninggalkan Darwin yang menyilangkan tangannya ke bahu untuk menutupi dadanya, lututnya agak ditekuk untuk menyembunyikan harta pusaka kebanggaannya.

***

Di kediaman Silvia

Jam sudah menunjukkan angka 10:00, tapi matanya belum mengantuk. “Mungkin karena aku belum mandi, nih,” pikirnya.

Dia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setelah itu rasa segar membuatnya merasa nyaman.

Tapi tetap saja masih belum terasa kantuk. Pandangannya diedarkan ke seluruh ruangan. Sampai matanya tertuju pada sebuah kotak yang di balut kertas kado.

Dia penasaran dengan kotak yang selalu batal dia buka itu. Dia berjalan ke arah meja riasnya. Yang lebih membuatnya penasaran adalah kado itu sama persis dan keduanya tidak ada alamat pengirimnya.

“Kira-kira siapa ya, yang mengirimkan sebuah kado tapi tidak ingin diketahui siapa pengirimnya?”

Silvia termenung memandangi kado yang ada di tangannya.

Lalu dia teringat dengan rencana terselubung yang ingin menghilangkan nyawanya.

“Apa kado ini ada kaitannya dengan rencana Rani? Aku takut untuk membuka, tapi aku juga penasaran ingin tahu apa isinya.” Pikirannya jadi bercabang. Dia bimbang, apa harus dia buka atau dia biarkan saja, atau dia kasih tahu tunangannya.

Kalau dia menghubungi tunangannya, dia takut akan membuatnya cemas, karena sudah larut malam. Akhirnya dia memutuskan untuk membukanya.

Satu demi satu kertas pembungkus kado itu dilepaskan sampai terlihat isi dari kotak kado tersebut.

Cinta Kedua & Terakhir

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 50 Cinta Kedua & Terakhir: Bab 52

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image