“Anu, apa, Bu?” tanyanya yang sudah tidak sabar menunggu jawaban ibunya.
“Begini saja, Nak. Nanti Ibu akan bicara sama ayah kandungmu dulu. Baru kamu bisa menemuinya.”
“Kenapa harus seperti itu, Bu? Apa orang yang akan Ibu kenalkan padaku benaran ayah kandungku, atau ini permainan sandiwara Ibu? Atau aku memang terlahir tanpa ayah?”
Plak!
Seketika muka Silvia memerah kena tamparan wanita yang sudah melahirkannya itu.
Silvia memegang pipinya yang terasa perih. Air matanya menetes kepalanya yang tadi sempat miring sekarang diluruskan lagi.
Dadanya terasa sesak.
“Tega sekali Ibu menampar aku, Bu,” ucapnya lirih
“Maafkan Ibu, Nak. Ibu tidak sengaja melakukannya,” ucapnya sambil tergugu.
“Tampar lagi aja, Bu. Sampai Ibu puas! Tapi beritahu aku siapa ayah kandungku? Atau aku memang ter….,” Ucapannya terhenti saat Desi membentaknya.
“Cukup Silvia!”
“Apa Ibu ingin merahasiakannya dari aku selamanya? Kalau begitu, jangan pernah beritahu aku siapa ayah kandungku, Bu.”
Dia pun berlari ke dalam kamarnya dengan menghapus air matanya. Dia mengunci pintu dan tergugu di belakang pintu kamarnya.
Pagi harinya, seperti biasa Silvia bersiap-siap untuk berangkat ke kantor. Tetapi tidak seperti biasanya, hari ini dia tidak mencium punggung tangan ibunya.
“Bu, aku berangkat.”
Sambil mengayun langkahnya untuk segera berlalu, tanpa melihat ibunya. Semalaman dia sudah berpikir dan merasa bersalah karena dia berkata kasar.
Desi tidak sanggup melihat anaknya seperti itu. Dia baru saja mendapatkan kasih sayang anaknya, namun sekarang anaknya seperti menjauh darinya.
Bertahun-tahun lamanya dia memimpikan untuk bisa kembali bersama anaknya, hidup berbahagia sampai ajal menjemputnya. Tapi hari ini hatinya begitu pedih melihat anaknya mengacuhkan dia.
Teh hangat bersama risoles kesukaan Silvia yang sudah dia siapkan tak dilirik sedikit pun.
Tak terasa bulir bening kembali mengalir di bola matanya yang sayu dan penuh lingkaran hitam. Dia dapat merasakan betapa anaknya menderita menanggung rasa rindu terhadap ayah kandungnya. Seperti rasa rindunya terhadap putri semata wayangnya itu sebelum dia menemukannya.
“Nak, minumlah dulu, atau sarapan agak sedikit. Ibu sudah masak nasi goreng kesukaanmu.”
Sesaat langkah Silvia terhenti mendengar ibunya menyuruhnya untuk mengisi perutnya. Meski cacing dalam perutnya sudah teriak-teriak minta diisi karena semalam dia langsung tertidur tanpa makan malam, tapi selera makannya hilang begitu saja mengingat ibunya yang tidak mau jujur kepadanya.
Tapi rasa iba kepada ibunya yang sudah berusaha susah payah menyiapkan semuanya menghentikan niatnya untuk tidak sarapan. Langkahnya berbalik dan menatap mata ibunya, kemudian dengan cepat mengalihkan pandangan ke risoles dan teh manis. Dia menyeruput teh manis hangat yang ada di gelas dan memakan sebuah risoles.
“Umm…. Enak banget Bu.” Dia langsung duduk di kursi dan melahap habis juga sepiring nasi goreng dan telor dadar.
Desi tersenyum hangat melihat tingkah anaknya. Dia mengerti anaknya hanya memaksakan diri untuk menghiburnya agar dia tidak merasa sedih.
“Silvia berangkat, Bu.”
Setelah menghabiskan sepiring nasi goreng dia berpamitan dan berlalu dengan kendaraan roda duanya.
Sesampainya di kantor, dia langsung menuju ruangannya setelah absen dan bersapaan dengan para pekerja lain. Dia terperangah melihat sekuntum bunga mawar dan segelas kopi susu.
Dia mendekat dan membaca pesan yang ada di kertas kecil yang diselipkan di bunga itu.
[Bunga mawar cantik untuk wanita cantikku tersayang, TTD Tunanganmu.]
“Mas Dana?” Dia melihat keseluruh sudut ruangan kemudian berlari keluar dan melihat ke semua arah namun dia tidak menemukan sosok Dokter Dana.
Dengan lemah dia kembali ke ruangannya. Saat dia hendak menutup pintu dia terkesiap mendapati sosok Permadi yang sudah ada di depannya.
“B-Bapak? Selamat pagi, Pak,” sapanya dengan gugup.
“Pagi, Sayang.”
Seketika matanya membola mendengar panggilan sayang dari bosnya.
“Maaf, Pak. Kalau bisa panggil nama saya aja, Pak.”
“Tapi sayangnya gak bisa, Sayang.”
“Kenapa gak bisa, Pak?”
“Ya, karena saya sayang sama kamu,” tuturnya sambil mendekat lebih intim lagi, sehingga Silvia tersandar sampai ke daun pintu.
Suaranya yang lembut dan sama persis dengan suara Dokter Dana, membuat dia terlena untuk sesaat. Ditambah lagi dengan aroma tubuhnya yang sama juga dengan wanginya aroma tubuh Dokter Dana.
Dia jadi tak kuasa untuk menjauh dari orang asing yang ada di hadapannya. Setiap sentuhannya mengingatkannya kepada Dokter Dana.
Saat dia tersadar, dia langsung mendorong tubuh Permadi dengan sekuat tenaga.
Permadi sengaja mengelak untuk menjarakkan tubuhnya dengan Silvia. Kalau saja dia mau, dia bisa saja bertahan, karena tenaga Silvia tidak sebanding dengan tenaganya. Tapi dia memilih untuk mengalah, karena tujuannya bukan untuk menakuti Silvia. Dia hanya rindu kepada tunangannya. Hanya saja dia memakai wajah dan identitas yang berbeda.
“Maafkan saya. Saya hanya terbawa suasana, karena wajah kamu sangat mirip dengan tunangan saya,” ucap Permadi dengan pandangan yang penuh kehangatan .
“Memang ke mana tunangan Bapak?”
“Tunangan saya pergi meninggalkan saya.”
“Kenapa?”
“Karena dia ingin fokus untuk merawat ibunya yang sedang sakit.”
“Apa?”
“Dalam pekerjaan kamu sangat pintar, tapi kenapa dalam berbicara kamu sering membuatku jantungan? Apa! Apa! Apa! Selalu seperti itu. Apa memang gayamu seperti itu?”
“Ti-tidak, Pak. Saya hanya kaget saja. Saya mau-mau bekerja dulu, Pak. Permisi.”
Silvia hendak pergi ke meja kerjanya, tapi saat dia hendak melewati Permadi, dia terkesiap, langkahnya terhenti dan dia tertegun untuk sesaat sebelum dia membalikkan badannya ke arah Permadi.









