“ Pak Presiden Direktur,” ucap wanita cantik yang tadinya segarang singa, namun sekarang ciut seperti seekor kucing yang mengeong kepada tuannya.
“Apa Anda mempunyai kewenangan untuk mengurangi gaji karyawan saya?”
“Ma-maaf, Pak. Ta-tapi dua orang ini sudah berani memfitnah dan menyindir saya dengan kata-kata yang tidak sopan, Pak.”
Pandangan matanya yang tadi nyalang kini berubah menjadi sayu.
“Tidak mungkin dia akan melakukan hal itu, karena saya sangat paham dengan karakternya.”
“ Pak. Dia itu orang baru, Pak. Dia baru seminggu bekerja di bagian kantor, tadinya dia hanya tukang bersih-bersih seperti temannya itu, Pak. Makanya dia merasa sangat sombong dan songong. Saya tidak berbohong, Pak.”
“Dia tidak mungkin seperti itu. Karena dia adalah tunangan saya. Kalau kamu masih berani berbuat kasar kepadanya maka saya tidak akan segan-segan untuk memecat kamu dan kamu juga tidak akan diterima di perusahaan mana pun.”
Laki-laki itu mendominasi keadaan dengan kata-kata yang sangat meyakinkan. Semua orang yang ada di tempat itu ternganga dan memberi hormat kepada Silvia.
“Tidak, tidak perlu seperti ini. Saya hanya karyawan biasa, sama seperti kalian,” ujarnya dengan penuh kesopanan.
Laki-laki itu segera menggenggam tangan Silvia dengan lembut seraya tersenyum manis. Dia menuntun Silvia dengan mesra, membuat iri semua karyawan yang ada di sana.
Silvia hanya bisa mengikuti langkah kakinya seperti kucing peliharaan kesayangan Presiden Direktur tersebut.
Sesampainya di kantin, dia duduk di ruangan istimewa, khusus meja untuk Presiden Direktur.
Silvia merasa tidak enak hati untuk menolak seorang Presiden Direktur, tapi dia juga segan karena saat dia di tuntun untuk datang ke kantin, dia juga menarik tangan sahabatnya.
“Maaf, Pak. Kami merasa tidak pantas untuk duduk di sini,” ucapnya sambil menunduk.
“Kamu segan dengan siapa? Dengan tunanganmu sendiri?”
“Tapi saya bukan tunangan Bapak. Saya sudah punya tunangan, Pak Permadi.”
Laki-laki itu menjulurkan tangannya. Silvia pun menyambutnya dengan bingung.
“Kenalkan nama saya Perdana Kusuma Efendi.”
Mata Silvia membola. Dia heran, bagaimana bisa Bosnya ini tahu dengan nama tunangannya.
“Bapak tahu dari mana nama tunangan saya?”
“Apa dia tunanganmu?”
“Ya, benar, Pak.”
“Apa kamu mencintainya?”
Laki-laki itu berbisik di telinga Silvia sambil merangkul pinggang rampingnya.
“Maaf, Pak. Ini bukan tentang pekerjaan. Saya tidak mau membicarakan masalah pribadi di kantor, Pak.”
“Kalau kamu tidak mau membicarakan masalah pribadi di kantor, lalu kenapa tadi kamu bilang kalau kamu bukan tunangan saya?”
“Itu karena Bapak mengatakan saya adalah tunangan saya kepada Bu Siska.”
“Itu memang benar, kok.”
Silvia tidak tahu harus bicara seperti apa dengan orang itu. Jelas-jelas dia bukan tunangannya, tapi dia bersikeras mengatakan kalau dia adalah tunangannya.
‘Apa orang ini sudah gila?’ batinnya. Dia melepaskan dirinya dari kungkungan Permadi, karena jika dia masih berdekatan dengan orang itu, bisa-bisa dia hanyut dalam dekapannya, karena dia merasa seperti di dalam dekapan tunangannya.
Aroma parfumnya membuat dia semakin rindu dengan tunangannya.
Sahabatnya melihat adegan mereka dengan mulut menganga.
‘Keberuntungan seperti apa yang dimiliki sahabatku ini, sampai seorang Presiden Direktur yang sangat tampan pun mengakuinya sebagai tunangannya. Andai saja aku yang ada di posisinya, pasti aku akan dengan senang hati menerimanya sebagai tunanganku. Mmm…’
Dia mengkhayal sambil duduk dengan menopang dagu.
Lamunannya buyar seketika saat Silvia mencubitnya.
“Aduh… tega banget sih mencubitku tunanganku, eh tunanganku, eh tunanganku, ups,” ucapnya dengan latah sambil menutup mulutnya.
Makanan mereka datang, sahabatnya makan dengan lahap. Akan tetapi, Silvia hanya memasukkan makanannya sesekali ke dalam mulutnya.
Dia hanya sibuk memperhatikan orang yang mengaku sebagai sahabatnya itu makan dengan cara yang sama seperti tunangannya. Dia juga makan makanan kesukaan tunangannya.
Saat pulang ke rumah, wajah Silvia terlihat murung. Dia selalu kepikiran dengan orang yang mengaku sebagai tunangannya.
“Ada apa, Nak? Kenapa kamu melamun? Apa ada masalah dengan pekerjaan barumu?” tanya Desi dengan lembut. Dia duduk di samping anaknya.
“Tidak apa-apa, Bu. Aku hanya capek saja kok,” jawabnya dengan senyum yang indah kepada orang yang dihormatinya itu.
Desi memberikan segelas air minum dingin kepada Silvia.
“Minumlah dulu. Ibu minta maaf ya, Nak. Karena gara-gara Ibu, kamu jadi menderita bersama Ibu.”
Silvia mengambil air minum dan langsung meneguk habis satu gelas penuh.
“Siapa bilang aku menderita, Bu. Aku senang tinggal bersama Ibu. Bahkan aku sekarang sangat bahagia, dan akan lebih bahagia lagi kalau Ibu sembuh nanti.”
“Nak…”
“Ya, Bu?”
“Apa tidak sebaiknya kamu pulang ke rumah ayahmu? Di sana, hidupmu akan lebih terjamin.”
“Aku ingin tinggal bersama ibu kandungku, Bu. Apa pun keadaan Ibu, aku bahagia tinggal bersama Ibu, ibuku yang cantik.” Silvia memeluk ibunya dengan manja.
“Kamu lebih cantik, Sayang.”
“Kan turun dari Ibu, cantiknya.”
“ Kamu mirip sekali dengan ayahmu, ya?”
Silvia melepaskan pelukan dari ibunya, dia menatap mata ibunya dengan lembut.
“Mirip dengan ayahku? Ngomong-ngomong soal Ayah, siapa Ayah kandungku, Bu?”
Desi terlihat pucat. Dia seperti merahasiakan sesuatu dari anaknya. Dia ingin jujur tapi berat untuk berkata jujur. Karena ada banyak pertimbangan dalam benaknya.
“Ibu, tolonglah, jangan ada rahasia lagi, Bu? Sampai kapan Ibu akan merahasiakannya dariku? Setidaknya katakan, apa ayahku masih hidup atau sudah meninggal,” bujuknya.
“Nak…. Sebenarnya, anu….”
“Apa, Bu?” Silvia sudah tidak sabar ingin mendengarkan penuturan dari ibunya.







