Ghea meneliti wajah Nunung yang tampak kebingungan. Dia menyadari, gadis itu tidak tahu apakah harus mempercayainya atau tidak.
“Kamu punya keluarga, Nung?”
Dia mengangguk.
“Kamu suka baju ini? Bagaimana kalau aku memberikannya kepadamu untuk diberikan kepada adik atau ibumu? Atau bisa juga kamu pakai sendiri? Kamu pasti tahu kalau aku punya banyak baju yang bagus-bagus.”
Sekilas cahaya muncul di mata Nunung seperti yang diharapkan Ghea. “Gusti Putri memiliki perhiasan mahal dan busana modern terbaik. Terima kasih banyak.”
“Bagus!” Ghea tertawa. “Bagaimana kalau kita mulai sekarang, pertama dengan memberitahuku siapa yang mengirim bingkisan itu.”
“Orang yang sama yang mengantarkan bingkisan ini setiap malam” jawabnya.
“Setiap malam?”
Dia mengangguk. “Ada tulisan di bawahnya.”
Dia menunjukkan dan Ghea membalikkan kotak kosong itu dan dia membacanya. “Tresnamu. W.”
“Terima kasih, sayang. Besok kita lanjutkan. Tolong ambilkan Sus … maksudku, Lastri”
“Baik Gusti Ratu.” Nunung membungkuk dan keluar ruangan.
Beberapa saat kemudian, Lastri masuk.
“Susan, maaf aku harus membangunkanmu, aku tahu kamu pasti sangat lelah sekembali dari perjalanan semalam.”
Gadis itu tersenyum. “Tidak masalah, Gusti Putri. Terima kasih atas perhatiannya.”
“Aku mendapat bingkisan, tapi tidak tahu dari siapa.”
Lastri menatap bingkisan itu, bibirnya mengerucut. Kemudian dia menatap Ghea. “Ada kabar angin bahwa Gusti menjalin asmara dengan seorang pemuda sebelum menikah, dan sampai sekarang hubungan itu masih berlanjut.”
“Maksudmu aku berselingkuh dari suamiku?” Aku bertanya, dengan mata terbelalak.
Lastri segera berlutut, kedua tangannya bertangkup di depan dada. “Maaf Gusti Ratu, hamba tidak menuduh apa pun, Gusti. Hamba hanya menjawab pertanyaan.”
Ghea menenangkan diri dan mengangguk padanya, menyuruh Lastri berdiri. “Ceritakan lebih banyak.”
Lastri terlihat enggan, maka Ghea membungkuk dan meletakkan tangan di bahunya.
“Lastri Sayang, tolong beri tahu aku apa yang kamu tahu.”
“Maaf, Gusti Putri. Hamba… hamba hanya merasa wajar saja jika Gusti Putri membenci setiap orang, karena Gusti tidak diizinkan untuk menikahi orang yang Gusti Putri cintai.”
Aku, mencintai? Siapa yang aku cinta?
“Sudah berapa lama ini terjadi?”
“Maksud Gusti…bingkisan itu?”
Ghea mengangguk.
“Setiap malam sejak malam pengantin Gusti Putri dan Gusti Pangeran,” jawab Lastri.
“Apakah aku pernah menyelinap keluar untuk bertemu seseorang sebelumnya?”
“Berkali-kali, Gusti Putri.” Dia menjawab, masih berlutut dan tampak ketakutan.
“Apakah kamu mengenal pria ini?”
Dia menggelengkan kepalanya.
“Bagaimana dengan namanya?”
“Hamba yakin namanya Waiz.”
Ghea ingat tanda tangannya. “Bagaimana kamu bisa begitu yakin?”
“Karena hamba sedang berada di kamar ini, merapikan tempat tidurm ketika suatu malam Gusti Putri mendapat surat darinya dan Gusti Putri menyebutkan namanya.”
“Surat?” Ghea bertanya yang dijawab Lastri dengan anggukan kepala.
“Kamu tahu di mana aku menyimpan surat-surat itu?”
Lastri menunjuk ke salah satu laci dan Ghea menariknya keluar. Di dalamnya terdapat berbagai bingkisan dan surat yang telah terbuka.
Ghea mengambil satu dan membacanya.
Untuk yang tersayang, yang tercantik dari semua yang tercantik. Yang menjadi sumber kebahagiaan hidupku.
Bahkan jika dunia tidak mengizinkan kita untuk bersatu, kita akan selalu bersama. Segera aku akan membebaskanmu dari penjara dari penjara takdir sehingga kita bisa bersama selamanya. Pastikan apa yang telah kita rencanakan berjalan dengan baik hingga harinya. Aku akan mengirim bunga supaya kamu tahu aku dekat denganmu. Pada malam aku mengirimkan kembang jintan, temui aku di tempat biasa. Aku tidak sabar untuk mencumbumu, sayangku.
Waiz.
Ya Tuhan! Aku punya selingkuhan!
Jika Lastri tahu, Ghea yakin banyak lagi orang yang tahu.
“Apa yang harus aku lakukan, Susan? Bagaimana jika suamiku tahu? Bagaimana jika ayahnya tahu? Hancurlah semuanya!”
Lastri mengangkat bahu dan saat itu terdengar ringkik kuda dan lonceng kereta yang berhenti di depan keraton.
“Siapa itu?” Ghea bertanya.
Lastri bangkit dan pergi ke jendela lalu menarik tirai. “Gusti Pangeran Arya Daringin baru turun dari kereta, Gusti Putri.”
Bahkan, dalam kegelapan, suaminya masih tampak gagah dan jantan. Pangeran Mahkota sedang berbicara dengan seseorang yang masih di dalam. Ghea berdiri dan mendekat ke jendela ikut mengamati bersama Lastri.
Seorang wanita turun dari kereta, lalu memeluk Arya Daringin, suaminya, dengan pelukan erat. Kemudian dia mencium lehernya, dan kemudian di pipinya.
Jantung Ghea berdetak kencang dibakar api cemburu. Suaminya dan perempuan itu kemudian beradu bibir cukup lama sebelum si wanita kembali masuk ke kekereta dan Arya mengucapkan selamat tinggal padanya. Tepat saat Pangeran berbalik menuju pintu keraton, Lastri menutup jendela.
“Gusti Putri baik-baik saja?” Lastri bertanya.
Barulah Ghea menyadari bahwa air mata sudah menganak sungai di pipinya. Tangannya bergerak mengusap pipi dengan marah.
“Ternyata aku bukan satu-satunya yang berselingkuh di dalam rumah tangga ini! Ini sangat kacau! Dan kenapa aku menangis? Aku bahkan tidak mengenal suamiku!”
“Mungkin Gusti Putri mencintainya….”
“Mustahil!” Ghea membentak.
Cinta kepada suami tukang selingkuh yang kurang ajar itu?
“Aku benci dia karena membuatku merasa bersalah karena selingkuh, hanya untuk melihat dia melakukan hal yang sama.”
“Tapi selama ini Gusti Putri bersikap biasa saja. Bolehkah hamba bertanya mengapa Gusti begitu terganggu sekarang ini?”
“Aku baru menyadari bahwa aku perlu membuat pernikahan ini berhasil sehingga kita semua bisa aman.”
Ghea berhenti menangis dan tersenyum ketika sebuah ide melintas di benaknya.
“Kurasa suamiku belum benar-benar melihatku. Aku ingin dia memperhatikanku, San. Aku akan merayu suamiku. Apakah kamu mau membantuku?”
Lastri menyeringai dan menjawab. “Hamba merasa terhormat, Gusti Putri.”
***
Bayang-bayang panjang melebur menjadi kelamnya gelap malam. Adegan di luar jendela bagaikan sesuatu dari kisah dongeng bagi Ghea. Satu malam di tahun 1878 seharusnya lebih baik daripada ratusan malam di masa depan dari mana dia berasal.
Malam tenang dan sejuk dengan udara murni. Bintang-bintang berkelap-kelip di langit yang belum terpolusi cahaya lampu kota, bersinar lebih terang dari yang lain. Udara mendingin lebih cepat dan jangkrik bernyanyi. Ghea merasa damai sekaligus gelisah, sehingga dia tak bisa tidur.
Dia berguling-guling di tempat tidur selama berjam-jam. Pikirannya di dalam benaknya campur aduk.
Bagaimana caranya merayu suamiku? Siapa yang bisa memberiku saran untuk hal-hal seperti itu?
Ghea tak pernah harus melakukan sesuatu yang luar biasa sepanjang hidupnya, sejauh yang bisa dia ingat.
Dia selalu menjadi gadis yang santai dan menerima apa pun yang menjadi takdirnya. Bahwa dia tidak pernah bertemu orang tuanya tidak pernah menjadi masalah baginya. Bahwa dia tidak pernah memiliki kehidupan yang menyenangkan atau kekasih yang baik justru yang menyebalkan juga tidak pernah menjadi masalah.
Dia sudah terbiasa menjalani hidup karena merasa itulah yang pantas dia dapatkan tanpa saya berpikir bahwa dia layak mendapatkan yang lebih baik.
Tapi sekarang, dalam sekejap mata, dia punya suami, dan kemudian, seorang ibu. Dia kini merasa memiliki tanggung jawab yang besar dalam hidupnya.
Siapa yang akan tidur dengan semua itu, bahkan di malam yang paling indah?










