“Ini punyaku!” Kudengar suara Ajis mulai meninggi.
“Pinjem!” Baim, anakku rupanya tak mau kalah.
“Punyaku!”
“Iyaa … pinjam!”
“Brakk!”
“Huwaaaaa!”
Mau tidak mau aku segera meninggalkan kangkung yang sedari tadi pasrah ku-operasi dan bergegas lari ke ruang tamu.
Di sana aku disambut dengan pemandangan yang membuat ibu mana pun akan mengelus dada sambil menyungging senyum palsu sebagai persiapan untuk ledakan selanjutnya.
Mainan bertebaran di segala penjuru membuat ruangan sudah seperti kapal pecah.
Salah seorang pelaku menatap ‘partner in crime’-nya dengan pandangan menyalahkan. Sedangkan si korban menangis keras untuk menutupi kekesalannya karena kalah. Kuhampiri yang menangis lebih dulu.
“Kenapa, Nak?”
“Aku mau pinjem gak boleh Kakak,” Baim menjawab dengan gaya bicaranya yang cadel sambil bercucuran air mata.
Kulirik yang satu lagi, dengan takut-takut sesekali dia melirik ke arahku. Tangannya memeluk mainan yang menjadi bahan sengketa. Sebuah truk mainan terbuat dari kayu.
Aku menghela napas panjang.
“Kakak, mainannya boleh dipinjam sebentar, nggak?” tanyaku hati-hati. Ajis masih terbilang keponakanku. Ibunya adalah sepupuku. Kami tinggal berdekatan, hanya selisih dua rumah ke belakang.
Ajis menggeleng dengan takut-takut sambil berkata, “Nanti rusak, Tante.”
‘Ealah, Gusti, tolong kami.’
“Ya, udah. Kakak bawa pulang mainannya, disimpan di rumah. Nanti mainan yang lain aja.”
Ajis mengangguk lalu beranjak masih dengan mendekap mainannya di dada.
Baim makin tantrum melihat ‘rekan sejawat’-nya lolos. Untunglah, drama segera usai saat tidak lama kemudian ayahnya datang membawa donat ulir kesukaannya. Aku lega, drama satu babak … selesai.
***
Hari ini ayahnya anak-anak libur. Rencananya dia hendak mengajak Baim bermain layang-layang di lapangan kompleks. Bersama Ajis dan ayahnya juga, suami dari sepupuku.
Awalnya semua berjalan lancar. Baim dan Ajis terlihat bersenang-senang. Dua orang anak berumur empat tahun yang berlarian dengan ayah masing-masing, sungguh sebuah potret kebahagiaan yang menghangatkan hati. Senang rasanya melihat mereka akur dan cepat melupakan pertikaian kecil kemarin sore.
Namun, sayangnya itu tak bertahan lama.
Layangan Baim putus! Akibatnya dia mulai merengek minta dibelikan lagi. Ayahnya berusaha menghibur tapi rupanya negosiasi berjalan cukup alot. Sampai kemudian Ajis tertawa sambil mengacungkan layangannya yang baru saja mendarat dan sengaja berjalan melewati saudaranya itu sambil mengibas-ibaskan layangan miliknya.
Baim yang masih merasa kesal dan tak terima langsung menarik layangan dari tangan saudaranya itu. Ajis refleks menahan layangan itu. Mereka saling menarik dan tak mau kalah. Ayah masing-masing anak berusaha melerai, tetapi terlambat, layangan itu kini terbagi dua. Ajis kebagian seruas kerangka patah. Sedangkan Baim membawa sisa kerangka dengan kertas yang koyak pada sebagian sisinya, sama sekali tidak berbentuk.
Meski begitu dengan langkah pasti bocah itu meninggalkan lapangan dengan langkah jumawa, seolah dia sudah memenangkan peperangan dan membawa serta hasil rampasan.
Drama babak kedua … usai.
Gresik, 26 Februari 2025 22.40











