Ketika langkah Ghea semakin dekat, dia melihat bentuk tenda dengan lebih jelas. Ada obor yang menyala di sekelilingnya dan dia merasakan sandalnya menginjak sesuatu yang lunak. Dia membungkuk untuk mengambilnya dan memperhatikankannya dengan saksama, Ghea menyadari benda yang di tangannya itu adalah kembang jintan yang mengarah langsung ke tenda.
Hmm … sungguh romantis.
Di depan tenda terdapat alas tikar kecil. Di atasnya terdapat botol minuman anggur orang Belanda yang mahal dan dua gelas kristal. Di sekelilingnya ada lilin-lilin menyala. Ini adalah isyarat kecil saja, tapi Ghea menyukainya. Suasananya sedikit melunakkan sarafnya yang tegang.
Ghea berdiri, bertanya-tanya apa yang harus dilakukan selanjutnya. Tidak ada seorang pun di dalam tenda, jadi di mana dia, pria selingkuhannya yang bernama Faiz berada?
Haruskah dia berseru memanggil namanya? Apakah dia menyebutnya dengan ‘Waiz’, atau Kakang, atau sayang, … atau mungkin sebutan lain yang menjadi kode rahasia antara dia dan Waiz?
Saat dirinya sedang berdebat dalam hati dengan dirinya sendiri, tiba-tiab Ghea merasakan tangan seseorang di bahunya dan membungkuk sedikit ke belakang sambil menggendong dia dengan tangan yang lain. Kejadian tersebut terlalu tiba-tiba sehingga Ghea hampir berteriak, tetapi jeritan itu berhenti di tenggorokannya ketika sebuah kecupan dari bibir yang lembut menutupi bibirnya.
Ghea bergeming kaget, hanya bisa berdiri diam ketika ciuman itu semakin dalam, begitu kuat seakan-akan mencoba menyedot jiwanya. Secara refleks Ghea menendang kaki orang tersebut!
“Aduh!” teriak orang itu. Ghea sempat berpikir dia akan dijhatuhkan oleh orang asing itu, tetapi justru orang tersebut hany membuat Ghea berdiri tegak dan mantap sebelum melepaskan lengannya.
Dia sangat kuat. Ghea merasakan genggamannya yang hangat.
“Sayang, maaf. Aku bikin kamu terkejut, ya?”
Saat itulah Ghea melihat wajah pria tersebut. Rambutnya dijalin dalam kepangan panjang ke belakang. Matanya bersinar dalam cahaya lilin, mata yang tampak bagai berkilauan bintik-bintik cahaya bintang keperakan. Wajahnya tegas dengan rahang yang keras. Bibirnya membentuk seringai jantan dan lengannya yang kuat sedikit kasar, memegangi pinggang Ghea saat dia menatap jauh ke dalam mata gadis itu.
“Ghea … aku sangat merindukanmu, sayang.”
Jantung Ghea berdetak sangat kencang.
Apakah karena cowok yang memeluknya sangat ganteng dan dia suka padanya? Atau ada sesuatu yang luar biasa, yang berarti malapetaka?
Ghea nyaris tidak bisa berkata-kata saat cowok itu menariknya lebih dekat dan memeluknya dengan erat, menekan tubuhnya dengan sesuatu yang mengeras saat dia memeluk Ghea lebih erat lagi.
“Aku merindukan wangi tubuhmu, sentuhan lembutmu, geliat tubuhmu. Semuanya tentangmu, sayangku.”
Cowok itu terus saja menggerakkan tangannya menjelajahi lekuk liku tubuh Ghea. Pria itu meraih bukit di belakang tubuh Ghea dan mencium lehernya, menghembuskan udara panas yang membuat Ghea geli. Kemudian tangannya menemukan bukit dada kembar, dan … kemudian sebuah cahaya menyala di benak Ghea. Dia mendorong pria itu menjauh.
Dia tampak terkejut dan terengah-engah. Pria itu mendekat, tetapi Ghea justru semakin mundur menjauh. Mata pria tersebut dipenuhi hasrat dan nafsu.
“Ada apa Ghea? Kamu tidak merindukanku?”
Ghea berrharap agar getar suaranya tidak mengkhianatinya.
“Aku juga merindukanmu, Waiz. Sangat merindukanmu.” Ghea mencoba menyusun kata-kata agar tak terdengar mencurigakan.
“Lalu mengapa kamu mendorongku pergi, Sayang? Ayolah, Biarkan aku membuatmu merasa seperti wanita sesungguhnya.”
Waiz mendekat dan dia menarik Ghea.
Cowok ini terlalu kuat.
Sebagian dari diri Ghea ingin tinggal dan menikmati ini, tapi bagian lain berteriak, Lari! Lari!
Dia tidak bisa bergerak. Tubuhnya bergetar saat Waiz mencium belahan dadanya sambil perlahan-lahan melucuti kancing gaunnya satu [er satu.
“Aku sangat menginginkanmu, Ghea. Aku sangat merindukanmu.”
Ghea terdiam. Sudah lama sekali dia tidak merasakan hal seperti ini.
Sebenarnya, sekali pun belum pernah, pikirnya.
Tubuhnya tersentak bagai disetrum dengan tegangan arus listrik ribuan volt dan semakin menginginkan lebih lagi, saat Wiz melepas kemben, membuat susu Ghea tumpah ke tangannya.
Tiba-tiba wajah Arya Daringin muncul di pikirannya, dan Ghea mundur tiba-tiba.
Saat itulah Ghea menyadari celana Waiz sudah terlepas. Dia bisa melihat betapa bersemangatnya Waiz, sama seperti dia.
Waiz tampak terluka dan kecewa padanya, sementara gadis itu berusaha mati-matian menutup lagi susunya yang menggantung bebas.
“Ada apa denganmu, Ghea?” Waiz tampak marah.
Ghea menarik napas, mencoba untuk mendapatkan udara sebanyak yang dia bisa … dan tidak mampu membalas tatapan mata Waiz.
Cowok itu memasang kembali ikat pinggangnya dengan tenang, sementara Ghea memperbaiki kemben dan kebayanya. Mereka berdua diam tanpa kata-kata. Ghea sendiri merasa sangat malu dan bingung.
Lalu Waiz mendekat dan memegang tangannya.
“Apa yang terjadi dengan Ghea-ku? Karena ini bukan Ghea-ku.”
Waiz tidak tahu betapa benar kata-katanya itu.
“Waiz, maaf. Aku sadar kalau hari ini aku terlihat agak lain,” Ghea berkata lembut.
“Agak? Bagaimana dengan ‘sangat aneh’? Membiarkan kekasihmu dalam keadaan bersemangat dan kering? Itu sangat kejam, sayang. Kamu tidak pernah melakukan itu padaku sebelumnya. Apakah aku perlu mengkhawatirkan kalau ternyata kamu sudah bosan denganku atau dia membuatmu jatuh cinta?”
“Tidak, Waiz. Aku sedang….”
“Sedang apa, sayang?”
“Aku sedang datang bulan, Waiz,” kata Ghea tanpa berpikir panjang.
Dia tidak tahu bagaimana caranya memutuskan hubungan dengan cowok ini. Ada sesuatu tentang Waiz yang belum dia mengerti, tapi putus sekarang dengannya, Ghea merasa itu akan terlalu berbahaya.
Waiz tersenyum dan mendekat ke arah Ghea dan Menciumnya di kening.
“Aku percaya, Ghea. Tapi lain kali jangan segampang ini membuatku kecewa,” katanya ke telinga Ghea sambil mencium lagi.
Ghea menghela napas.
Berhasil.
“Ayo, duduk.”
Keduanya duduk di atas tikar saat Waiz menuangkan arak untuk mereka berdua. Sementara Waiz sedang memegang botol, Ghea memperhatikan wajahnya lebih jelas dalam cahaya lampu teplok. Dia tampak besar dengan tubuh seperti seorang ksatria. Waiz mengenakan kain yang tergantung di lehernya. Dia benar-benar pria yang sangat menarik, tipe yang hanya biasa muncul sebagai model sampul depan majalah.
Sebenarnya Ghea masa depan tidak benar-benar menyalahkan Ghea sekarang. Tapi bagaimana dia bisa bersama pria seperti itu dan membuat begitu banyak kesalahan?
Tuhan tolong aku. Mengapa aku tidak memutuskannya sekarang, dan mengapa aku menatap padanya tanpa bisa beralih pandang? Mengapa aku menginginkannya dasn pada saat yang sama dan aku masih merasakan betapa berbahayanya dia? Bagaimana mungkin aku merayu seorang pria yang tidak menginginkanku dan meninggalkan orang yang menyukaiku dan bisa menjadi bahaya bagiku dan….
“Jika kamu terus menatapku seperti itu, aku akan melakukannya sekarang, masa bodoh kamu sedang bocor atau tidak,” katanya sambil tertawa dan pipi Ghea bersemu merah karena malu, tetapi dia ikut tertawa.
“Pesta akan segera datang. Buat semuanya sengsara dan biarkan suamimu memberi tahu raja. Kita akhirnya bisa melarikan diri bersama. Seperti yang kita rencanakan,” kata Waiz sambil tersenyum.
Oh, Wow! Jadi itu rencananya!
Arya Daringin akan memberi tahu raja bahwa dia ingin bercerai dan kemudian aku melarikan diri bersama Waiz, meninggalkan rakyatku….
“Bagaimana dengan orang-orangku?”
Waiz terkekeh dan meremas tangan Ghea dengan mesra.










