Home / Genre / Komedi / Pengadilan Pencuri

Pengadilan Pencuri

Pengadilan Pencuri

Menurut ayahku, kakeknya adalah seorang Tuha Peut di kampung kami, salah satu pangkat tertinggi di antara suku Aceh. Dia dilahirkan oleh seorang pengembara sehingga naik pangkat dengan usahanya sendiri. Setahun sebelum kematiannya, ayahku bercerita tentang pengembara yang melahirkan kakeknya. Untuk kalian ketahui, dia bukan hanya seorang pengembara. Dia telah diasingkan dari tanahnya. Jadi ibuku tidak sepenuhnya salah ketika menyebut nenek dari pihak ayah sebagai penyihir. Darah lama penguasa ilmu gaib masih mengalir dalam nadinya. Itulah terakhir kalinya aku mendengar ayahku tertawa.

Bagaimanapun, cerita ini bukan tentang ayahku atau kakeknya. Ini tentang sepupuku yang telah mempermalukan nama keluarga. Ia dinamai seperti kakek buyutku, yang lebih tua dan dia adalah seorang pencuri.

Seluruh warga kampung telah berkumpul—lebih tepat disebut keluarga besar, karena kami semua saling terkait satu sama lain dengan ikatyan darah atau perkwinan–berkumpul di kompleks perumahan abang ayah—kami memanggilnya abuwa—hari ini untuk mendengarkan kasusnya dan memberikan hukuman jika terbukti bersalah. Keuchik Gampong dan Teungku Imum Meunasah juga sudah hadir.

Dia akan dinyatakan bersalah, warga kampung tahu, kami tahu, bahkan ibunya tahu.

Ibunya menyiapkan bubur kanji untuknya di pagi hari dan menimbakan air untuk mandi. Anak-anak tidak diperbolehkan dalam pertemuan para tetua, tetapi abuwa pohon mangga besar di belakang kedainya yang reyot dan aku bermaksud untuk bersembunyi di salah satu dahannya.

Abuwaku adalah seorang Tuha Peut dan dia memimpin kasus tersebut. Tetangga sepupuku memulai dengan masuk dan berdiri ke tengah lingkaran.

“Tambi datang dan memberi tahuku bahwa lembu-lembu harus dibawa ke penampungan untuk divaksinasi. Karena aku jarang keluar, tidak ada yang mengirim pesan kepadaku. Seperti yang kalian semua tahu, aku seorang lelaki tua yang kakinya tidak dapat membawanya ke tempat penampungan ternak. Aku sangat gembira ketika dia menawarkan untuk membawa lembuku. Seperti yang kalian semua tahu, anak-anakku sudah dewasa dan tidak pernah pulang ke rumah.”

Dia berhenti dan meludah, dan semua tuah peut meludah. ​​Sungguh memalukan bagi seorang anak untuk tidak mengunjungi orang tua yang sakit.

Orang tua itu melanjutkan, “Ketika aku pergi untuk membeli tembakau dan beristirahat di balik pohon di luar pekaranganku, aku bertemu Walid, tetangga sebelah rumah. Aku  bertanya apakah Tambi kembali dengan lembu-lembu dari tempat penampungan hewan. Dia bilang, tidak ada vaksin, dan lembu-lembu dia ada di kandang. Tambi mencuri lembuku. Aku tidak punya lembu lagi padahal tulang-tulang orang tua butuh susu.”

Korban berikutnya dan terakhir adalah pamanku yang lain. Ceritanya singkat.

“Tambi mencuri pestisidaku, menjualnya, dan memakai air kali untuk menyemprot pohon buah di kebunku. Sekarang aku tidak punya hasil panen.”

Para Tuha Peut terdiam sejenak dan kemudian mulai berceloteh. Mengotak-atik hasil panen seseorang melanggar adat dan hukum negara. Siapa yang akan membayar mahar putra pamanku yang hendak melamar perawan kampung tetangga? Dan peningset untuk antaran anak itu?  Bahkan istrinya—bibiku—pasti akan meninggalkannya.

Abuwaku memukul tanah dengan tongkatnya dan Tuha Peut berhenti berceloteh.

“Tambi akan diusir dari kampung ini selama sepuluh tahun. Sudah diputuskan.”

Kerumunan terdiam. Sang ibu meratap dan ayahnya menggelengkan kepalanya.

Dahan pohon mangga tempat aku bertengger patah.Aku panik lalu jatuh di tengah lingkaran.

Ibuku terkesiap dan abuwaku menggelengkan kepala. Beruntung bagiku, anak-anak tidak bisa diusir, tetapi aku tidak merasa seberuntung itu saat tongkat itu mendarat di punggungku.

14 Mei 2025

Penulis

  • Resi Bujangga

    Resi Bujangga, seorang penulis cerita anak yang suka menyadur karya-karya klasik.

Tag:

Satu Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Kehidupan Kristen: Kesabaran Akan Berbuah Berkat, Cepat atau Lambat!

Kehidupan Kristen: Kesabaran Akan Berbuah Berkat, Cepat atau Lambat!

Secangkir Kopi

Secangkir Kopi

Eyang

Eyang

Rusi yang Sombong

Rusi yang Sombong

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Antologi KompaK’O

Random image