Home / Genre / Chicklit / Paket Misterius

Paket Misterius

Paket Misterius
1

Udara sejuk menyegarkan pikiranku saat aku menyusuri trotoar yang dipenuhi dedaunan menuju halaman rumahku. Mendekati rumah, aku terdiam.

Sebuah kotak cokelat kecil tertata rapi di depan pintu rumahku.

Aku melihat sekeliling, perasaan takut menggelitik tulang punggungku.

Tenanglah, Ratna. Mungkin ini hanya perlengkapan yang kau pesan.

Tapi tidak mungkin. Pengiriman dari toko seni tidak secepat itu. Lagipula, Nirwan—tukang pos yang imut—sudah datang hari ini.

Melihat kotak itu mengingatkanku pada episode thriller mengerikan tadi malam. Tanganku masih berlumuran tanah liat saat meraih ponselku—setelah berdering berkali-kali, aku yakin aku melewatkannya.

Seandainya saja.

“Halo?” Aku berusaha terdengar ceria meskipun kelelahan. Penyakit kronis memang menyulitkan aktivitas, bahkan di saat-saat terbaik sekalipun, tetapi seharian penuh memahat dan mengurus berbagai tugas membuatku sama sekali tak bugar untuk mengobrol.

“Halo?” ulangku, setelah hanya diam.

Hembuskan napas.

Memang, mengingatnya saja sudah membuatku merinding.

Aku menahan napas, mendengarkan. Menunggu.

“Ada orang di sana?” Aku hampir berhasil menjaga suaraku tetap tenang.

Tarik napas lagi, dalam dan pelan.

Aku mengakhiri panggilan, melempar ponselku seolah-olah benda itu laba-laba raksasa.

Sekarang ini.

Dengan hati-hati aku melangkah menuju anak tangga—dan kotak itu duduk dengan gagah di atasnya. Mencondongkan tubuh lebih dekat, aku memeriksanya. Tidak ada label. Bahkan, tidak ada apa-apa di atasnya.

Udara beku mencekam leherku. Itu tidak dikirim kepadaku—seseorang telah membawanya ke sini. Secara langsung.

Beranilah. Tidak apa-apa.

Tapi, waktu aku mengambilnya, adegan-adegan dari novel misteri dan film thriller berkelebat di benakku.

Seorang wanita sendirian. Sesuatu yang tak biasa terjadi. Dia meyakinkan dirinya sendiri bahwa semuanya baik-baik saja. Ketegangan mereda, lalu—braaak! Seseorang melesat keluar dari bayang-bayang dan menangkapnya, atau bom meledak, atau dia pikir dia aman di dalam … tetapi ancaman itu ada di dalam rumah bersamanya! Dan—

“Hentikan!”

Mungkin memarahi diri sendiri dengan suara keras akan membantu. Kecuali, tentu saja, kotak itu menyembunyikan alat peledak yang diaktifkan suara…

Hm. Aku mungkin harus beralih menonton film komedi romantis.

Menghela napas gemetar, aku mencengkeram kotak itu lebih erat, meraba-raba saku jaketku untuk mencari kunci dengan tanganku yang lain.

Begitu masuk, aku bergegas ke dapur. Wortel mengitari kakiku, menyapaku dengan meong lembut. Aku menghidupkan lampu dan meletakkan kotak itu di atas meja kayu cemara tua.

Remah-remah tanah liat  bertebaran di permukaan, dan patung kucing terbaruku teronggok di satu sisi. Wajahnya yang belum selesai tampak mengerikan sementara satu mata yang kupahat di dalamnya sejauh ini menatap langsung ke bungkusan misterius itu.

Aku menggosok-gosokkan jari-jariku, merasakan sesuatu yang lengket di tanganku. Melirik ujung jariku, aku membeku. Sesuatu yang lengket menyelimutinya.

Lengket dan … merah.

Aku memeriksa kotak itu lagi. Lupa bernapas ketika aku melihat sudut gelap dan lembap di bagian bawahnya.

Terhuyung mundur beberapa langkah, dadaku terasa sesak. Tidak mungkin…

Haruskah aku melapor ke polisi? Tentu saja panggilan iseng dan kotak berdarah lebih cocok untuk petugas keamanan—bukan pematung yang sakit kronis dengan imajinasi yang terlalu hidup.

Jangan panik, Ratna.

Sebuah doa yang sering dibacakan nenekku untukku terlintas di benakku.

Jangan takut, karena Aku menyertaimu. Aku akan menolongmu…

Menarik napas dalam-dalam dan menaruh keyakinanku yang rapuh pada kebenaran kata-kata itu, aku melangkah maju lagi.

Aku bisa melakukan ini.

Jantungku berdebar kencang seperti kaleng yang dibenturkan dengan jeruji pintu penjara saat aku menarik penutup atasnya.

Sejauh ini tidak ada ledakan…

Menarik tutup lainnya hingga terbuka, seluruh tubuhku menegang ketika aku melongok ke dalamnya.

Terletak di atas kertas robek adalah sebuah jantung. Untungnya, bukan jantung sungguhan. Lebih tepat hati sebagai lambang CINTA.

Sebuah jantung, eh, hati yang dipahat dari tanah liat. Juga di dalam kotak itu—dua kuas cat, dan sebuah stoples kaca berisi cat merah.

Stoples pecah.

Rasa lega menyelimutiku. Lalu aku melihatnya—sebuah kertas persegi panjang kecil terselip di samping stoples. Aku mengambilnya, berhati-hati agar cat tidak mengenai jariku lagi.

Pengirimnya menuliskan nomor telepon—dan sebuah pesan.

Mungkin kita bisa menyelesaikan ini bersama?

Apakah orang yang mengirim ini benar-benar berharap aku menelepon orang asing—memberi tahu mereka bahwa aku sendirian di rumah—untuk mengerjakan semacam proyek kerajinan tangan bersamanya?

Aku memeriksa semuanya lagi. Maksudnya manis, kan? Tidak mengancam. Tapi kenapa tidak ada nama?

Ponselku bergetar di saku, membuatku tersentak. Meraihnya dari mantel, aku membeku. Nomor di layar, tampak tak asing.

Aku melirik pesan itu.

Nomor yang sama.

Aku seharusnya tidak menjawabnya. Sungguh tidak seharusnya. Tapi semalu-malunya aku, aku tak pernah bisa menahan diri untuk tidak bertanya.

Aku mengetuk layar, berharap aku tidak menyesalinya.

“Halo?”

Kalau terdengar hela napas yang aneh aku pasti akan langsung menelepon polisi kali ini.

“Halo … Ratna?”

Suara pria itu terdengar lembut dan malu-malu. Dan familiar.

“Ya… Apakah… Nirwan? Ini kamu?”

“Ya,” katanya sambil tertawa gugup. “Aku, eh … aku meninggalkan sesuatu untukmu di luar rumahmu. Lalu aku sadar aku lupa mencantumkan namaku. Aku … kuharap kamu tidak keberatan aku menelepon.”

Nirwan kurir paket—dia yang meninggalkan kotak?

Kotak berisi jantung, eh … hati?

Jantungku sendiri berdebar kencang, tapi kali ini bukan karena takut.

Nirwan seusiaku—dan sangat tampan. Lebih dari itu, dia pria sejati. Kami sudah banyak mengobrol selama kurang lebih setahun terakhir—beberapa pagi lebih sering daripada yang lain. Sejujurnya, bertemu dengannya adalah hal terpenting dalam hariku.

Dan bukan hanya karena lingkaran pertemananku sebagian besar terdiri dari kucing.

“Tidak juga,” jawabku.

“Oh, bagus. Aku sebenarnya mencoba meneleponmu tadi malam, tapi aku sangat gugup sampai bingung harus berkata apa. Kupikir kotak itu mungkin ide yang lebih baik, tapi…”

Tercengang, aku meniru tawanya. Aku memang tidak menyangka proyek kerajinan ini akan datang—tapi aku sungguh tidak sabar untuk mengerjakannya.

Nirwan. Kurirku. Mengantarkan sebuah jantung, eh … hati untukku.

Hatinya.

Bekasi, 3 September 2025

Penulis

  • Rayhan Rawidh

    Penulis genre urban fantasy, chicklit, dewasa, action. Karyanya bisa ditemukan di KBM.id dan fizzo.org,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Kehidupan Kristen: Kesabaran Akan Berbuah Berkat, Cepat atau Lambat!

Kehidupan Kristen: Kesabaran Akan Berbuah Berkat, Cepat atau Lambat!

Secangkir Kopi

Secangkir Kopi

Eyang

Eyang

Rusi yang Sombong

Rusi yang Sombong

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Antologi KompaK’O

Random image