Ketika pintu kamar mandi terbuka, Adam tak mengalihkan pandangannya dari TV, bersikap seolah-olah masalah sama sekali.
“Kamu punya sampo yang wangi,” kata Cinta.
Seolah ingin menegaskan maksudnya, Adam langsung mencium aroma jeruk ketika Cinta berjalan ke arahknya dan duduk di ujung lain futon. Cinta duduk sejauh mungkin, tetapi tetap saja tak masih dekat Adam, jadi mau tak mau dia menerima aroma wangi itu.
“Ya, sampo apel hijau atau apalah,” jawabnya sambil menatap Cinta dengan santai. “Mamaku yang membeli barang itu.”
Adam sama sekali tidak mengira bahwa Cinta bahkan lebih cantik dengan kemeja longgar dan celana boxer-nya. Rambut Cinta yang hitam terurai dan basah di bahunya, dan dia mengeringkan rambutnya dengan handuk sambil menonton TV.
“Kenapa celanaku kelihatan sangat pendek kalau kau pakai?” tanya Adam, berharap celana itu tidak terlihat seperti itu ketika dia yang memakainya. Lagipula, dia jauh lebih tinggi dari Cinta.
Cinta mengangkat bagian bawah baju kaus.
“Aku harus menggulungnya beberapa kali di bagian pinggang supaya nggak melorot.”
Cinta tersenyum dan napas Adam tercekat di tenggorokannya.
Cinta seharusnya tidak melakukan itu. Adam bisa melihat pinggul dan pusarnya. Kulit perutnya yang halus membuat Adam ingin mengusapnya. Tapi dia hanya mengangguk dan mencoba menenangkan diri setelah Cinta menurunkan bajunya seolah tidak ada apa-apanya.
Adam menghela napas pelan. Dia harus bisa menahan diri duduk di sebelah cewek ini.
“Kamu nggak mandi?” tanya Cinta beberapa saat kemudian.
Adam tadi basah kuyup berenang di danau, jadi ya, dia harus mandi. Tapi dia belum siap untuk itu.
Cinta mengangguk ke arah kamar mandi. “Air panasnya seharusnya sudah kembali sekarang.”
“Hah?”
“Air yang aku gunakan untuk mandi,” jelasnya, seolah-olah dia tidak mengerti mengapa Adam tidak mengerti. “Butuh waktu lama untuk mengisi ulang pemanas air? Kenapa kau menatapku seperti itu?”
Adam terkekeh.
“Air panas kami bukan seperti itu. Kita bisa mandi air panas di setiap kamar mandi secara bersamaan dan itu tidak masalah.”
Cinta tampak terkesan.
“Bagus. Mamaku dan aku biasanya bertengkar tentang siapa yang mandi lebih dulu karena orang kedua tidak pernah mendapat air panas.”
“Bukan di sini,” kata Adam, berpikir sebaiknya dia buru-buru mandi.
Dia mandi dengan cepat. Kehadiran Cinta di kamar membawa suasan yang lain baginya, dan dia tidak sabar untuk kembali padanya.
Setelah mengeringkan rambutnya dan memakai deodoran yang mungkin terlalu banyak, dia mencoba menyamarkan kegugupannya dan kembali ke kamar.
Cinta tertidur dan melihatnya membuat Adam sakit hati. Cewek itu meringkuk di futon, selimut supercross Adam menutupi tubuhnya. Cinta menggunakan tangannya sebagai bantal dan meskipun tampaknya tidak terlalu nyaman, dia tampak tenang.
Adam menggigit bibir. Dia bisa saja pergi tidur dan membiarkan Cinta tidur di atas futon, tetapi dia benar-benar ingin menjadi pria sejati dan membiarkan Cinta tidur di tempat tidur malam ini. Adam duduk di tengah futon dan menyentuh lengan Cinta dengan lembut.
“Cinta?” katanya pelan sambil mengguncang lengan cewek itu. “Bangun.”
Mata Cinta ya terbuka lebar dan dia menyingkirkan lengan Adam dengan cukup kuat sehingga Adam meringis kesakitan.
Cinta duduk tegak, dadanya naik turun, tetapi matanya melebar ketika melihat Adam dan kemudian dia sedikit rileks.
“Ya Tuhan! kau membuatku takut,” desahnya, sambil meletakkan tangan di dadanya.
“Maaf,” kata Adam sambil berdiri sambil tersenyum ramah. “Kamu baru saja tertidur tanpa bantal dan … yah, aku akan memberikanmu tempat tidurku….”
Cinta menoleh ke arah tempat tidur lalu menatap Adam. “Tempat tidur itu terlalu besar untukku. Ambil saja.”
Adam menggelengkan kepala.
“Aku akan tidur di futon. Silakan, kamu yang dapat tempat tidur.”
Cinta menggigit kuku jempolnya lalu mendesah. “Kenapa kita tidak tidur di tempat tidur saja. Tempat tidurnya begitu besar, kita bahkan tidak akan tahu ada yang tidur di sebelah kita.”
Ya, katakan itu pada masa puberku, kata Adam dalam hati. Tapi dia tentu saja tidak mengatakannya dengan jelas.
Adam bisa menjadi cowok yang baik untuk satu malam saja.
“Tentu, kedengarannya bagus.”
Mereka naik ke tempat tidur. Adam tidur di sebelah yang ada meja nakas dan Cinta di sisi yang selalu kosong sampai saat ini.
Jantung Adam berdebar kencang seperti palu godam ketika dia mencolokkan ponsel ke charger dan menyetel alarm untuk pukul satu siang. Peewee lock in tidak akan dimulai hingga sekitar pukul empat, jadi dia punya waktu untuk membeli makanan untuk mereka berdua lalu dia akan meninggalkan Cinta di sini hingga dia pulang kerja.
Ketika Adam berbaring kembali di tempat tidur dan berbalik, Cinta sudah tertidur. Dadanya naik turun dengan teratur dan beberapa helai rambutnya yang basah jatuh menutupi wajahnya.
Dia sangat cantik kalau tidak cemberut padaku, kata Adam dalam hati.
Adam bergeser sedikit, mengulurkan tangannya dan menyibak rambut dari mata Cinta. Cewek itu bergerak, tetapi tetap tertidur. Lalu tangannya terangkat dan meraih tangan Adam.
Adam membiarkan jari-jarinya terselip di antara jari Cinta, lalu memejamkan mata dan tertidur.
***
Sinar matahari menerobos tirai jendela kamar Adam ketika dia bangun di pagi itu. Dia menoleh dan melihat Cinta menghadapnya, tidur meringkuk dengan tangan Cinta masih menggenggam tangannya. Cinta menggenggam tangan Adam dengan erat ke dadanya, dan Adam begitu terkungkung sehingga tidak bisa melarikan diri kalaupun dia mau.
Dengan hati-hati, Adam menggeser lengannya yang lain keluar dan menepuk-nepuk ponsel. Ketika dia meraihnya, dia menyalakan layarnya. Sial. Sekarang jam tiga sore.
Bagaimana mungkin aku tidur selama ini? Apa yang terjadi dengan alarm ponselku? pikirnya.
Dan kemudian dia mendengar suara yang mungkin membangunkannya semenit yang lalu. Papanya memanggil namanya.
“Kau sudah bangun?” seru papany, hanya beberapa langkah dari pintu.
“Ya, tunggu bentar,” teriaknya.
Tapi terlambat.
Pintu terbuka. Papanya tampak sangat kesal karena dia kesiangan di hari kerja.
Adam menahan napas ketika mata papanya menatap lurus ke cewek yang sedang tidur di tempat tidur.
“Nggak seperti yang kelihatan, Pa,” kata Adam, merasakan Cinta bergerak di sampingnya.
Papanya menempelkan telapak tangan di dahi dan menggelengkan kepala.
“Jadi yang nggak seperti yang kelihatan apa?”
***
Ya Tuhan. Aku sudah beberapa kali merasa malu dalam hidupku, pikir Cinta.
Dibully di taman bermain ketika kelas empat karena celana olahraganya “celana cingkrang ” dan kemudian dibully lebih parah lagi karena dia tidak tahu apa artinya cingkrang. Terlihat di depan umum dengan om-om yang pernah dikencani mamanya selama bertahun-tahun, melihat mereka mabuk berat di kafe kecil dan kemudian melihat dia dan mamanya diusir karena membuat keributan.
Tak satu pun dari kejadian itu yang sebanding dengan besarnya rasa malu yang dia rasakan sekarang.
Cinta duduk di meja dapur bersama Adam. Mama Adam duduk di seberang mereka, jari-jarinya bertautan di atas meja.memberikan Cinta senyuman penyemangat seolah-olah Cinta harus mempercayainya.
Ya, benar.










