Home / Genre / Young Adult / 7. Hujan Kesedihan di Mata Rin

7. Hujan Kesedihan di Mata Rin

Cinta dalam Secangkir Hujan 1600x900
1
This entry is part 8 of 8 in the series Cinta dalam Secangkir Hujan

Kami masih di pos ronda, duduk di bawah atap seng yang terus diguyur hujan. Rin merapatkan jaketnya sementara aku menggosok-gosokkan telapak tangan untuk mengusir dingin

“Kau masih ingat pohon besar depan gerbang sekolah? Tempat kita selalu menunggu, menatap hujan turun bersama-sama?” tanyamu tiba-tiba.

Aku mengangguk, tersenyum tipis. “Kau selalu datang dengan rambut basah, padahal aku sudah sediakan payung. Kau bilang, payung membuatmu merasa terkurung.”

Rin tertawa kecil.

“Aku aneh, ya? Tapi saat itu aku merasa hujan adalah sahabat. Ia menemaniku, bahkan ketika tak ada seorang pun di sampingku, bahkan ketika dunia tak memedulikanku.”

Rin kembali tertawa, tapi matanya basah, membuatku menatap dirinya dengan agak lama sebab-entah mengapa- aku merasa kata-kata itu datang dari ruang luka yang jauh, seolah keluar dari sudut yang amat dalam di hatinya.

“Mungkin itu sebabnya aku selalu menunggumu di setiap hujan, Rin, karena aku tak ingin kau merasa sendirian, karena aku tak akan membiarkan hujan menjadi satu-satunya yang menemanimu.”

Rin menatap hujan, matanya berkabut. “Tapi aku tetap merasa sendirian, Bay. Bahkan ketika ada orang di sampingku. Bahkan ketika aku bersama dia. Hujan tahu itu, ia selalu tahu.”

Kata-kata itu membuat dadaku sesak. Ingin sekali aku merengkuhnya, menenangkan gelisahnya, menutup luka itu dengan pelukan. Tapi aku hanya mampu berkata pelan: “Mungkin karena dia bukan rumahmu, Rin.”

Rin menoleh, matanya mencari-cari wajahku.

“Lalu, siapa rumahku, Bay?”

Pertanyaan itu seperti panah. Aku ingin menjawab: Aku. Tapi lidahku kembali kelu.

Hujan menabuh atap seng dengan irama yang tak bisa ditebak. Angin mendorong percikannya masuk hingga membasahi ujung sepatu kami, seolah menegaskan bahwa tak ada yang bisa benar-benar terlindung di bawah amukannya.

“Aku lelah, Bay.” Suaramu serak. “Aku lelah berpura-pura kuat, lelah untuk selalu berusaha terlihat tengah tersenyum di hadapan dunia. Semua orang mengira aku bahagia. Padahal aku ini… hanyalah langkah tanpa jalan.”

“Kau tak perlu kuat di depanku. Kau boleh rapuh, aku akan tetap di sini, akau akan selalu di sampingmu,” sahutku buru-buru, berusaha menguatkanmu seperti dulu, seperti waktu lalu, seperti waktu yang jauh lebih lalu lagi yang selalu kau tahu memang itu sikapku terhadapmu selalu.

Rin terdiam, lalu tersenyum samar meski matanya basah.

“Kau terlalu baik, Bay. Kadang aku takut, kebaikanmu justru akan melukai dirimu sendiri.”

Aku menggeleng.

Rin meremas jemari kosongnya, seolah menggenggam cangkir yang tak ada.

“Bay, cinta itu seperti kopi. Kita kembali bukan karena manisnya. Tapi karena pahitnya yang membuat kita merasa nyata.”

“Kalau begitu… apakah cintamu kini terlalu pahit untuk ditelan, Rin?”

Rin menunduk. Tak ada jawaban. Hanya kesedihan yang perlahan luruh di kedua bola matanya.

***

Purbalingga, 21925.

Cinta dalam Secangkir Hujan

. Hujan Melahirkan Puisi atau Ia Terlahir dari Kebersamaan Kita?

Penulis

  • Ahmad Maulana S

    Ahmad Maulana S, lahir di Jakarta.

    Sejak kecil ia terbiasa bertualang. Lulus SMU langsung singgah di sebuah madrasah/sekolah sebagai guru, dilanjutkan dengan menjadi pekerja bengkel, pramuniaga, kuli bangunan, pedagang ayam setan, tukang pasang tenda, pengelola pabrik bulu mata palsu, pemilik lapak barang rongsok, penulis buku puisi dan buku serial pendidikan anak, ghost writer, publisher novel-novel motivasi serta pernah menyelenggarakan kelas fiksi berbayar berbasis online lintas negara.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Antologi KompaK’O

Random image