1 Kami masih di pos ronda, duduk di bawah atap seng yang terus diguyur hujan. Rin merapatkan jaketnya sementara aku menggosok-gosokkan telapak tangan untuk mengusir dingin “Kau masih ingat pohon bes...
1 Hujan menjelma jarum-jarum lembut ketika kami akhirnya meninggalkan warung. Namun payung renta yang kupinjam dari bapak tua penjaga warung agaknya terlalu kecil untuk menaungi dua tubuh. Bahu Rin ba...
2 Waktu berjalan diam-diam. Kopi telah lama kehilangan uapnya, tinggal cairan hitam dingin yang seolah merupakan kubangan kecil dari malam itu sendiri. Rin masih memegang cangkirnya seperti tengah men...
1 Rin menggenggam cangkir kopinya yang mulai dingin. Tangannya bergetar halus, entah karena cuaca dingin atau karena sesuatu yang tak terucap. Aku menunggu kata-kata berikutnya, tapi ia hanya menatap ...
1 Hujan masih deras ketika kutemani Rin menyusuri gang kecil dekat rumah menjelang senja. Jalanan licin, genangan memantulkan lampu jalan yang temaram. Udara menusuk seperti jarum dingin. Hujan di pen...
1 Semenjak pertemuan terakhir dengan Bay malam itu, mengapa aku merasa ada yang berbeda dengan hatiku? Ada apa antara aku dengan Bay sesungguhnya? *** Malam ini aku kembali menghitung hujan, membilang...
1 Disclaimer: Novel/Novella Cinta dalam Secangkir Hujan pertama kali muncul pada 15 Mei 2015 dalam bentuk embrio puisi singkat “Apa yang Lebih Kuyup dari Hujan?” pada sebuah platform User...







