Home / Non Fiksi / Sejarah Makam Wali di Kaki Gunung Andong

Sejarah Makam Wali di Kaki Gunung Andong

Wisata Religi Makam Sunan Geseng (Radar Magelang)
1

Bagi warga Magelang dan sekitarnya pasti mengenal betul Desa Grabag, yang terletak di Kecamatan Grabag. Sebuah desa yang berada disebelah utara Magelang ini memiliki alam yang didominasi oleh lanskap perbukitan dan pertanian. Sebagian besar wilayahnya merupakan lahan kering yang dimanfaatkan untuk tegalan, perkebunan, dan hutan rakyat.

Grabag juga dikenal sebagai daerah hulu Kali Elo yang menjadi sumber air bagi PDAM Kota Magelang, memiliki mata air besar bernama Tuk Mas. juga potensi wisata alam seperti Air Terjun Sekar Langit dan jalur pendakian Gunung Andong.

Sebagai wilayah yang memiliki kontur berbukit-bukit, tentu mempengaruhi mata pencaharian penduduk sebagai petani. Letaknya yang berada di kaki Gunung Andong yang sejuk dan asri menampilkan pemandangan alam yang indah dan menenangkan. Udara pegunungan yang segar, sejauh mata memandang tampak perkebunan, serta pemukiman warga menciptakan suasana yang tenang.

Bagi para petualang atau yang sekadar ingin hiling melepas penat, tak perlu cemas karena Grabag adalah pemukiman yang cukup padat, banyak warung makan dan tempat istirahat tersedia, memungkinkan pengunjung yang ingin bersantai sambil menikmati spot yang indah dari berbagai sudut pandang.

Jika terus naik mendekati lereng gunung, maka akan menemukan hutan pinus yang rindang, menambah suasana tenang dan sejuk. Selain itu hamparan perkebunan sayur dan tanaman lain yang hijau menambah keindahan pemandangan.

Pemandangan lautan awan di antara lembah dan gunung-gunung lain juga menjadi daya tarik tersendiri, terutama saat matahari terbit. Gunung-gunung lain di sekitarnya, seperti Gunung Merbabu dan Merapi terlihat jelas membentuk siluet yang memukau, terutama saat pagi hari.

Jika ingin menikmati keindahan alam tapi tak punya tujuan yang pasti, di kaki Gunung Andong, tepatnya di Dusun Tirto, Desa Tirto, Kecamatan Grabag, terdapat sebuah makam yang dianggap sakral dan bersejarah.

Di area tersebut berdiri sebuah rumah kayu yang di dalamnya terdapat makam Sunan Geseng. Jika tidak ingin berziarah, bisa sekadar duduk bersantai di Gazebo yang ada di sekitar makam sambil memandang puncak Gunung Andong yang terlihat jumawa. Jika beruntung bisa melihat proses penyadapan nira yang dilakukan oleh warga setempat.

Di dekat makam juga ada masjid dan pondok pesantren yang didirikan oleh Sunan Geseng. Namun, jika tidak ingin salat di masjid, di area makam pun tersedia mushala dengan ornamen kayu yang artistik.

Melansir dari berbagi sumber, Sunan Geseng atau yang dikenal sebagai Raden Mas Cakrajaya atau Cokrojoyo berasal dari Bedhug, Bagelen, Purworejo. Beliau adalah tokoh yang memiliki peran penting dalam penyebaran agama Islam di Jawa bagian selatan.

Julukan lain yang diberikan masyarakat untuk Sunan Geseng adalah Ki Petungmlarat, karena kondisinya yang sangat miskin atau mlarat dalam bahasa Jawa.

Pada suatu hari, ketika Petungmlarat sedang menyadap nira sambil melantunkan tembang, dia dihampiri oleh seseorang dan memberinya sebuah nasihat tentang cara berdoa yang benar, yaitu dengan menyebut nama Tuhan.

Setelah cukup lama berbincang-bincang, Petungmlarat mengajak orang tersebut ikut ke rumahnya. Di rumah Petungmlarat, orang tersebut juga turut membantu mencetak gula dalam tempurung kelapa dari nira hasil sadapan si Petung. Keesokan harinya sebelum pergi, sosok tersebut memberikan sebuah cetakan gula, tetapi dia berpesan agar tidak membukanya.

Didorong oleh rasa penasaran, Petungmlarat akhirnya membuka cetakan gula tersebut. Apa yang terjadi membuat Petungmlarat terkejut. Saat membukanya, di dalam cetakan gula tersebut berisi bongkahan emas.

Semakin penasaran, Petungmlarat berusaha mencari tahu kesana kemari tentang sosok misterius tersebut. Akhirnya Petungmlarat mengetahui bahwa si pemberi cetakan gula ternyata seorang wali yang kondang bernama Sunan Kalijaga.

Sebagai ucapan terima kasih Petungmlarat pun mencari sosok yang telah mengubah hidupnya tersebut. Akhirnya takdir mempertemukannya kembali dengan Sunan Kalijaga, dan mulai belajar ilmu agama.

Setelah beberapa waktu belajar dan dirasa ilmu sudah cukup, Sunan Kalijaga kemudian memberikan mandat kepada Cakrajaya atau si Petung untuk mensyiarkan atau menyebarkan agama Islam yang telah ia pelajarinya.

Selain berkelana menyebarkan agama Islam, si Petung juga mendapatkan amanah untuk menjaga tongkat bambu milik gurunya yang ditancapkan ke tanah.

Waktu terus berjalan, setelah 17 tahun berlalu akhirnya sang sang guru kembali ke tempat di mana si Petung menjaga tongkat bambunya, tapi keadaan telah berubah. Sunan Kalijaga tidak melihat si Petung. Sang guru hanya menemukan belantara bambu. Akhirnya sang sunan membakar belantara bambu tersebut.

Namun, sang guru terkejut, ketika semua bambu yang ada sudah terbakar, beliau menemukan Petungmlarat dengan tubuh yang hangus terbakar bersama bambu-bambu yang ada. Saat hutan terbakar, ternyata Petungmlarat sedang melakukan tapa atau lelaku. Meski hutan tersebut terbakar, tetapi Petung tidak menghentikan tapanya, sesuai pesan sang guru untuk tidak memutus ibadah, apapun yang terjadi.

Keajaiban pun terjadi, meski seluruh tubuhnya hangus terbakar, tapi Petung masih hidup. Sejak saat itu Petungmlarat dijuluki Geseng yang artinya hangus atau gosong. Oleh Sunan Kalijogo, kemudian Petung dimandikan di Sendang Jati Luweh Yogyakarta dan selanjutnya berganti nama menjadi Sunan Geseng.

Sejak peristiwa tersebut, Geseng atau Sunan Geseng mengikuti Sunan Kalijaga ke Demak untuk menyebarkan syiar dan mendirikan Masjid. Setelah pembangunan Masjid Demak selesai Sunan Kalijaga memberikan sisa kayu pembangunan masjid dan berpesan agar Sunan Geseng melanjutkan syiar agama.

Suatu hari saat melakukan syiar, Sunan Geseng merasa lelah dan beristirahat di Desa Kleteran, Kecamatan Grabag. Di tempat itu kemudian dibangun sebuah masjid dan pondok pesantren.

Sunan Geseng akhirnya meninggal di desa Tirto Kecamatan Grabag dan dimakamkan di sana. Hingga sekarang, makam Sunan Geseng menjadi tempat yang ramai dikunjungi oleh para peziarah.

Sebagai penghormatan terhadap Sunan Geseng maka makam Sunan Geseng yang juga disebut sebagai wali yang menyebarkan agama Islam di wilayah Grabag digunakan sebagai tempat wisata spiritual keagamaan. Hingga saat ini ajaran-ajarannya masih dilaksanakan oleh masyarakat di wilayah Grabag.

Hal tersebut diwujudkan dalam kehidupan keagamaan yang dilakukan oleh masyarakat di wilayah komplek makam Sunan Geseng. Sebagai contohnya diadakannya tradisi selikuran yang dilaksanakan setahun sekali pada malam ke-21 bulan Ramadhan di kompleks makam Sunan Geseng.

Masih banyak lagi kegiatan keagamaan masyarakat yang menganut ajaran Sunan Geseng seperti tradisi slametan, gendurenan, methoan, dan tradisi-tradisi yang lainnya. Hal lain yang menarik adalah banyak pengajaran maupun pengelolaan pondok pesantren di sekitar wilayah Grabag menggunakan sistem yang serupa dengan pondok pesantren rintisan Sunan Geseng. Hal ini membuktikan bahwa peristiwa sejarah masa lampau dan peninggalan-peninggalan Sunan Geseng menjadi dasar sentimen kemasyarakatan.

Adanya makam Sunan Geseng juga memberikan dampak positif bagi pengembangan UMKM warga sekitar. Bagi pengunjung dan peziarah, bisa membeli beragam oleh-oleh dan menikmati kuliner khas Magelang dijajakan masyarakat sekitar makam.

**

Penulis

  • Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi.

    Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi. Penulis Historical Fiction, Travel love, dan Misteri. Untuk mengenal lebih jauh ikuti FB : tari abdullahdua

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Secangkir Kopi

Secangkir Kopi

Eyang

Eyang

Rusi yang Sombong

Rusi yang Sombong

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Putri Pewaris Mafia: Bab 29

Putri Pewaris Mafia: Bab 29

Antologi KompaK’O

Random image