“Du bist mir gehort nich. Valentine.”
*Ambacher Straßë, München-Deutschland*
“Hei … Warte mich auf!” teriakku. Aku berlari sekencang-kencangnya kala melihat bus yang biasa membawaku ke tempat kerja baru saja melintas. Ah, naas sekali. Ada sedikit sesal kurasa ketika satu detik berlalu begitu tak berarti. Kulangkahkan kakiku menuju salah satu stasiun U-Bahn yang harus di tempuh selama dua puluh menit.
“Ah, sial! Seandainya tadi aku tidak mengabaikan kata ibuku supaya bangun lebih cepat, pasti takkan begini kejadiannya,” rutukku, “Semoga saja bos killer tidak marah-marah lagi.” Mengingat, hari ini bertepatan minggu kedua aku bekerja di salah satu kantor periklanan di salah satu sudut kota Munchen.
Aku belum lama kerja di sana, setelah mendapat pemutusan hubungan kerja dari kantor sebelumnya.
Uff …
Kusibak beberapa helai rambutku yang menutupi dahi. Kuseka keringat yang sedikit mulai membanjir dan membasahi bajuku. Cepat-cepat kulangkahkan kaki agar tidak ketinggalan U-Bahn yang sebentar lagi kan segera berangkat. Kutahu jadwal itu karena pernah beberapa kali menaikinya. Iya, satu-satunya jalan adalah dengan U-Bahn. Lebih cepat, itu saja.
Belum lepas aku dari lamunan, satu VW pink membunyikan klakson. Aku kaget dan menghindar. Pengemudi yang ternyata seorang gadis cantik berambut coklat berkacamata hitam menyapa dari dalam mobil, “Hai, ikutlah denganku. Tampaknya kamu sedang kepayahan,” katanya dengan senyum manis menghias bibir merahnya yang merekah bak buah ceri.
Aku mengedikkan bahu, menaikkan alisku tanda memang aku sedang gamang.
“Oke. Aku ikut denganmu.”
Tanpa banyak berpikir kuterima tawarannya. Sejurus kemudian aku telah berada di mobilnya. Tak banyak bicara antara kami. Sesekali aku hanya melirik ke arahnya yang tampak fokus menyetir dengan jari-jari lentiknya
Hingga akhirnya aku tak tahan dengan suasana yang menurutku terasa garing. Aku memberanikan diri bertanya, mengajaknya berkenalan, “Aku Müller, kamu siapa?”
“Valentine.”
“Itu saja?”
“Valentine Hoffman.”
Dari sanalah kami akhirnya akrab. Ternyata tempat kerja Valentine tidak jauh dari tempat kerja baruku. Dari ceritanya, rupanya dia memperhatikanku semenjak aku berada di sana. Tak hanya itu, ia juga tahu jika aku sering menunggu bus atau U-Bahn di sekitar Munchen.
Lama-lama, kami terbiasa bersama. Aku diam-diam menyimpan rasa pada Valentine. Gadis itu selalu riang dan ceria mendengar setiap cerita yang kututurkan. Dia tampak antusias dengan cerita-ceritaku. Kadang-kadang ia menimpali pula dengan candaan.
“Das ist sehr lustig!”
Lambat laun, aku tahu jika hatiku telah tertambat dengan pesonanya yang misterius. Memang kusadari, rasa di hati ini takkan pernah ada yang tahu jika aku tak pernah ungkapkannya.
Suatu hari, saat kami bergantian menyetir, kukatakan bahwa aku menyukainya. Aku memendam rasa yang kuyakini bernama cinta. Valentine tertawa. Renyah, ceria. Seolah tiada beban. Hanya saja belum ada jawaban atas semua itu.
Aku berkata padanya bahwa aku akan menunggu jawaban atas perasaannya. Aku akan bersabar dengan apapun keputusan yang akan dia katakan nanti. Dia biasa-biasa saja. Entahlah yang ada di benaknya. Kuharap dia segera memberi jawab.
Beberapa hari sebelum perayaan kasih sayang, kuterima pesan dari Valentine. Dia mengundangku ke acara keluarganya di perbatasan Austria. Tanpa berpikir panjang, aku menemui Valentine di sana. Hari ini sengaja kubeli sebuket bunga mawar merah khusus untuknya.
Hatiku berdebar-debar kencang, manakala kucoba pijakkan kakiku di perbatasan. Ternyata, rumah keluarga Vaalentine sangat sederhana. Rumah itu adalah rumah tua khas pedesaan dengan pekarangan yang luas. Di sekitarnya, ada beberapa pohon khas yang ditanam. Namun, pandanganku tertuju pada salah satu pohon mirip mapple. Ah, tak kupedulikan. Segera kuambil buket bunga itu dan menuju ke sana.
Sepi. Sangat sepi. Lalu, mengapa Valentine tidak mengajak keluarganya pindah ke München? Justru malah bertahan di sini.
Kuketuk pintu rumah Valentine perlahan. Daun pintunya yang terbuat dari kayu masih kokoh. Kuketuk lagi berulang kali hingga derit pintu terbuka. Sepasang mata tua di hadapanku, menatapku dengan pandangan teduh. Gelambir-gelambir dan kerut di wajahnya yang masih terlihat kuat membuaiku dalam lamunan sesaat. Siapakah dia?
“Siapa yang kamu cari?” tanyanya padaku dengan lembut dalam bahasa Jerman aksen Austria. Berbeda dengan bahasa Jerman aksen München-ku.
“Saya mencari rumah Valentine Hoffman, Pak. Apakah benar ini rumahnya?” aku berbalik tanya padanya.
Tanpa berucap kata, ia mengajakku masuk tanpa menjawab sepatah kata pun, hingga kami duduk berdua di bangku tua di rumah itu. Meja bundar yang telah berusia lama menjadi penghias antara ruang tamu dan beberapa ruang. Di tengah-tengah, ada perapian yang telah padam, tetapi masih kurasakan hangatnya menjalar ke tubuhku.
“Pak, saya mau ketemu, Valentine. Apa saya bisa bertemu dengannya?” tanyaku penasaran. Pria dihadapanku tersenyum. Meski aku tak tahu makna yang tersembunyi dibalik senyumnya.
“Kamu mau bertemu Valentine?”
Aku mengangguk. Ingin rasanya aku segera bertemu dengannya. Mengucapkan kata cinta yang telah kurangkai sedemikian rupa ibarat baris-baris madah yang begitu indah. Hanya saja, mulutku bak terkunci.
“Müller, bukankah itu namamu?” dia bertanya lagi. Kuanggukkan kepala pelan.
“Benar, Pak.”
Pria tua itu mengembuskan napasnya. Sesaat kemudian kulihat mendung menghias wajah renta yang kian membuatku tersentuh. Dia bertanya padaku banyak hal tentang Valentine. Jujur kuungkap, aku mencintainya. Dia telah merubah beberapa sisi kelamku. Aku berubah juga untuknya, untuk cintanya.
“Kau sangat mencintainya, Müller?”
Aku kembali mengangguk.
“Kalau kamu mencintainya, relakan dia, Müller. Dia akan segera menikah.”
“Apa? Menikah?”
Pria itu mengangguk.
Aku sangat terkejut. Tak pernah kuduga jika penantianku selama ini hanyalah sia-sia. Ternyata, inilah jawaban Valentine atas perasaanku. Hatiku hancur, harapanku pun sirna. Seluruh tubuhku menghangat, bergetar. Tak kuasa lagi aku ingin langkahkan kaki ini. Persendianku terasa lemah terasa lolos satu per satu. Betapa sakitnya hati ini. Cintaku telah salah alamat.
Aku belum mampu bicara, hingga pria itu berkata lagi, “Maafkan dia, maafkan kami. Dia sudah memiliki tambatan hati yang lain. Pria yang benar-benar tulus mencintainya, mau berkorban dan memperjuangkannya, menerimanya apa adanya, Müller. Maafkan Valentine.”
Air mataku hampir saja tumpah, meski akhirnya bisa kutahan. Pria itu menceritakan tentang kesedihan-kesedihan Valentine yang tak pernah kuduga sebelumnya. Gadis yang selalu riang dan ceria rupanya dulu pernah terluka dan tergadai karena cinta. Kupasrahkan semua ini jika aku harus kehilangannya dan menjadi milik orang lain. Aku segera berpamitan ingin segera pulang menuju München. Membawa luka yang mungkin tak mudah bias, entah sampai kapan.
Namun ….Langkahku terhenti. Ingin rasanya aku berteriak sekencang-kencangnya manakala kulihat dua sosok tubuh keluar dari mobil yang baru saja datang. Aku berdiri menatap ke arah mereka. Ternyata, seorang wanita bergaun pengantin bersama seorang pria turun. Wanita itu menggamit lengan sang pria. Dan–kenyataan yang paling menyakitkan adalah ketika kutahu bahwa wanita itu adalah Valentine.
Valentine yang selama ini kuharap jadi penghias taman hatiku, ternyata akan segera dimiliki oleh orang lain. Lalu, mengapa dia harus memberiku undangan, jika itu hanya menyakiti hatiku? Hatiku terluka dalam. Hampir saja emosiku tak terbendung. Valentine melihatku.
“Müller, akhirnya kamu datang. Aku berterima kasih sekali padamu. Kau memang sahabat yang baik,”katanya diiringi senyum manis menghias bibir indahnya.
Jadi, selama ini dia menganggapku hanya sebagai teman?











