Cinta Menandak hingga Puncak Tak Terpeta
Bay sedang menatap langit-langit berjamur, tangannya menutupi mata. Sudah tiga jam ia berbaring di sofa kumal di ruang tamu, dan ia belum bergerak.
Di mejanya, tagihan listrik, sewa bulanan, dan surat penolakan dari dua perusahaan besar tergeletak seperti tumpukan salib. Tekanan finansial di Thornvillage terasa seperti beban fisik yang mencekik. Ia berusia dua puluh lima, seorang lulusan terbaik, tetapi mimpi masa muda—membangun startup teknologi yang mengubah dunia—kini terasa kian tak terjangkau.
Kerasnya kehidupan bukan lagi konsep; itu adalah rasa basi dari udara yang tidak pernah berganti di apartemen mereka.
Saat Bay hampir menyerah pada keputusasaan, pintu apartemen terbuka.
Na—selalu Na.
Ia tidak masuk dengan dramatis atau dengan suara keras. Ia masuk dengan sebungkus bakso bercampur mie putih di tangan, wajahnya begitu sumringah, seolah ia baru saja memenangkan lotre, bukan menembus kemacetan hujan hanya untuk makanan murah.
“Bay! Lihat!” Na berseru riang, meletakkan bungkusan plastik yang mengepul itu di meja. Aroma kaldu, bawang goreng, dan mie putih yang chewy segera menyeruak, mengusir bau putus asa di ruangan itu.
“Bakso Pak Min,” lanjut Na, melepas jaketnya yang basah. “Dia bilang dia baru saja mencoba resep cabai baru. Pedasnya gila. Aku bilang, Pak Min, jangan gitu dong, nanti suamiku ….“
Na berhenti bicara saat melihat Bay. Kehangatan di wajahnya tidak hilang, tetapi berubah, menjadi sesuatu yang lebih lembut dan mendalam.
“Hei,” Na berbisik, mendekat dan duduk di lantai di samping sofa tempat Bay berbaring. “Kau tidur?”
Bay menggeleng pelan, menurunkan tangannya dari mata. “Aku sedang mencoba melupakan tagihan.”
Na tidak mencoba menghibur dengan kata-kata klise. Na hanya meletakkan tangannya di lengan Bay, kehangatan sentuhannya melawan dinginnya sofa.
“Aku tahu,” kata Na, menatap Bay lurus. “Dunia ini memang brengsek. Tapi aku punya bakso terpedas di Thornvillage. Jadi, setidaknya malam ini, dunia kita tidak brengsek, kan?”
Saat itu, Bay menyadari kebenaran yang diungkapkan oleh puisi yang kelak akan ia tulis: seringkali cinta yang cetar membahana tak mesti luar biasa.
Melihat senyum Na, menyaksikan kebahagiaan murni yang Na temukan hanya dari sebungkus bakso, cinta entah mengapa seperti tersulut tiba-tiba, menandak-nandak hingga puncak yang paling arsy dan tak terpeta.
Bukan uang yang menyulutnya. Bukan janji masa depan yang cerah. Tapi kebiasaan Na merekayasa kebahagiaan dari hal yang biasa. Na tidak menunggu hal besar; Na menciptakan keajaiban kecil.
“Ayo makan,” kata Bay, tiba-tiba merasa lapar. Bukan karena bakso, lebih karena sisa kebahagiaan yang baru saja Na bawa pulang.
***
Cinta Sederhana yang Kau Reka hingga Gempita
Na adalah anomali di tengah kekalahan Bay.
Sebagai ghost writer, pekerjaan Bay adalah mengambil ide besar dari klien-klien yang sombong dan mengubahnya menjadi buku yang menjual. Ironisnya, ia mampu menciptakan mimpi bagi orang lain, tetapi ia tak mampu membuat mimpinya sendiri menjadi kenyataan. Padahal mimpi yang ia punya sungguh sangat sederhana, yaitu menyelesaikan novel fiksi ilmiah berlatar pedesaan yang benar-benar orisinil yang rencana besarnya ingin ia buat berseri melebihi Harry Potter dan Naga Buminya Seno Gumira. Yang paling menyakitkan, uang yang ia peroleh dari profesi ghost writing cukup untuk membayar tagihan, tetapi tidak pernah cukup untuk membeli waktu luang.
Na, sebaliknya, berjuang dalam dunia handmade. Kue-kue yang dibuat dengan cinta dan kesabaran ia jual melalui media sosial. Sayangnya, penjualan terlalu lambat hingga membuat pendapatan mereka selalu bergantung pada apakah ada kue pernikahan besar yang terjual bulan ini atau tidak, selalu begitu setiap bulannya. Namun, di studio kecil mereka—ruangan yang berbau vanilla dan kayu manis—Na selalu saja mampu untuk menemukan kegembiraan.
***
Tiga bulan setelah insiden bakso, Bay kembali dari pertemuan yang brutal. Kliennya menolak naskah 80.000 kata yang telah ia selesaikan, dan berkeras hanya membayar 30 persen dari biaya perjanjian awal. Bay memasuki apartemen dalam mode terburuknya: marah, kecewa, dan merasa kotor karena menjual bakatnya.
“Aku akan berhenti,” gerutu Bay, melemparkan tas punggungnya. “Aku tidak bisa lagi menulis omong kosong untuk orang-orang bodoh.”
Na yang saat itu tengah menghias cupcake kecil berwarna biru, tanpa menoleh langsung menimpali, “Duduklah. Hari ini, kita merayakan kegagalan.”
Bay terkejut. “Merayakan apa?”
Na memutar bangkunya, wajahnya sumringah. “Kau berhasil menuntaskan 80.000 kata, bukankah itu sebuah prestasi? Terlepas dari apakah orang bodoh itu tidak membayarmu penuh, itu masalah dia, tak ada urusannya sama kamu,” lanjut Na. “Ini kubuatkan cupcake rasa mint spesial.”
Na menyuapi Bay cupcake itu. Manis, mint, dan ada sedikit rasa pahit dari kopi.
“Kau tahu, aku sudah menaikkan harga cupcake-ku 2.000 per buah. Kau benar-benar memberiku ide, Bay. Jika kata-katamu dihargai 30 persen, maka cupcake-ku hari ini layak dihargai lima puluh persen lebih mahal.”
Tindakan Na merekayasa kegembiraan dari kekecewaan, menyentak Bay. Na tidak mencoba memperbaiki uangnya, tetapi memperbaiki mood-nya. Cinta yang aslinya biasa dan amat sederhana berulang kali kau rekayasa hingga menjadi amat gempita.
***
Suatu malam, Bay dan Na berdebat tentang uang. Tagihan bulanan mereka terlalu besar.
“Kita harus mencari pekerjaan tetap, Na,” kata Bay, frustrasi. “Kue handmade tidak bisa menopang kita. Kau harus menjual di marketplace besar, bukan hanya di Instagram!”
“Jika aku menjual di marketplace besar, aku harus mengurangi kualitas, Bay!” balas Na, suaranya naik. “Cinta ada dalam detail handmade itu. Jika aku jual murah, itu bukan lagi kueku. Itu hanya produk massal!”
Bay terdiam. Ia sadar, argumen Na sama persis dengan yang ia rasakan tentang ghost writing-nya. Ia menjual produk massal, mengorbankan kualitas seninya demi uang.
“Baik,” kata Bay, menyerah. “Aku akan ambil dua proyek ghost writing lagi bulan ini. Kita akan punya sedikit tambahan ruang untuk bernapas.”
Na berjalan ke arah Bay, memeluknya dari belakang saat Bay duduk di kursi kerjanya. Bukan pelukan dan ciuman hasrat, tetapi pelukan dukungan yang sunyi.
“Jangan ambil proyek yang membuatmu benci menulis, Bay,” bisik Na. “Ambil proyek yang membayarmu dengan baik, lalu gunakan sisanya untuk menulis novelmu. Aku akan membuat kue yang paling indah bulan ini.”
Itu adalah perjanjian diam-diam: Bay akan menjadi tameng finansial, dan Na akan menjadi perisai emosional. Mereka saling menyeimbangkan pengorbanan dan tugas.
***
Di sela-sela proofing naskah ghost writing yang membosankan, Bay menemukan catatan kecil yang diselipkan Na di antara halaman.
Catatan itu bukan pesan romantis yang panjang. Hanya tiga baris:
*Beli selai kacang. *Kau adalah penulis terbaik. Jangan lupa bernapas. —Na.
Bay tersenyum. Itu bukan pesan penting, tetapi itu adalah catatan keabadian dalam ruang hati bernama kenangan. Na tahu persis kapan Bay hampir lupa bernapas di tengah tekanan pekerjaannya.
Cinta mereka bukanlah kejadian luar biasa, tetapi kumpulan rekayasa kecil yang dilakukan Na setiap hari.
***
Garis Patah di Puncak Arsy
Penderitaan dimulai bukan dengan tangisan, melainkan dengan bunyi bip yang kering.
Bay sedang membalas email di meja kerjanya—tempat yang seharusnya menjadi ruang hati bernama kenangan—ketika notifikasi perbankan muncul. Saldo mereka, yang merupakan sisa tabungan bersama untuk modal startup kecil, telah hilang total. Investasi yang ia lakukan di perusahaan fintech baru terbukti sebagai skema penipuan.
Bay terpaku. Napasnya dangkal. Ia tidak bangkrut; ia menghapus harapan masa depan mereka.
Saat Bay masih mencoba memproses kerugian finansial yang mencekik, ponselnya berdering. Itu adalah panggilan dari klienghost writingterakhir yang proyeknya baru saja ia selesaikan.
Bay mengambil napas dalam-dalam, mencoba berpura-pura normal. “Halo?”
“Bay, ada yang harus kita bicarakan,” suara klien itu dingin. “Aku tidak akan membayar sisa 70 persen biayamu. Aku sudah menemukan penulis lain. Dan ngomong-ngomong, ide superhero dari desa fiksi yang kau sebutkan tempo hari? Itu ide bagus. Aku akan pakai. Terima kasih untuk sarannya.”
Bay merasa dingin, lebih dingin dari malam paling beku di Thornvillage. Ide itu bukan saran. Itu adalah sinopsis dari novel fiksi ilmiah orisinalnya yang ia ceritakan dengan semangat kepada klien—satu-satunya mimpi yang ia jaga dari ghost writing.
Bay tidak marah. Ia hanya merasa hampa, kosong, dan dikhianati hingga ke inti kreativitasnya. Mimpi masa muda yang sudah tak terjangkau, kini dicuri dan dirusak.
Ia menutup telepon, menjatuhkan diri di lantai, di antara remah-remah cupcake yang tadi pagi dibuat Na. Ia tidak menangis. Ia hanya terkubur di bawah beban kenyataan.
Mendengar bunyi telepon yang jatuh, Na keluar dari studio kecilnya yang berbau vanilla. Ia melihat Bay di lantai, terdiam.
Na tidak bertanya, tidak mencoba menghibur dengan kata-kata. Na hanya membaca cinta yang kerap merembes di haru mata Bay, memahami bahwa kegagalan kali ini bukan hanya tentang uang.
Na berjalan pelan, tanpa kata. Ia tidak menyalakan lampu. Ia tahu, Bay butuh gelap.
Na berlutut. Ia tidak mencoba memeluk wajah Bay yang tertutup tangan. ia hanya mendekap punggungku saat situasi memberiku tangis.
Pelukan itu bukan pelukan romantis yang gempita. Itu adalah pelukan yang sunyi, kokoh, dan penuh tugas. Pelukan yang mengatakan, Aku tahu. Dan aku di sini. Itu saja.
Bay membiarkan bahunya bergetar di dalam dekapan Na. Ia akhirnya menangis. Bukan tangisan kemarahan, tetapi tangisan melepaskan semua tekanan finansial, semua mimpi yang dicuri, dan semua kelelahan hidup yang ia tahan selama setahun ini.
Setelah tangisan itu mereda, Na menarik Bay ke atas, memapahnya ke sofa. Na menyeka air mata Bay dengan ujung kausnya, lalu menatap Bay.
Na berkata dengan amat lugu—kata-kata yang akan menghidupkan kembali hidup Bay:
“Tidak apa-apa. Sekarang, kau tidak punya apa-apa lagi untuk hilang. Hidup kita kembali hidup bersamaan dengan hadirku.”
Cinta tak lagi sekadar peluk dan cium. Cinta adalah kalimat lugu itu.
***
Mesin Ketik dan The Ghost yang Terbit
Bay menghabiskan dua hari di tempat tidur, hanya bangun untuk minum air. Ia tidak bisa menulis. Ia tidak bisa berpikir. Kehidupan yang telah dihidupkan kembali oleh hadirnya Na, kini terasa mati suri.
Di hari ketiga, Na tidak membujuk. Na juga tidak memaksa.
Pagi itu, saat Bay terbangun, ia melihat sudut meja kerjanya yang kosong sudah terisi. Di atas meja sebuah mesin ketik kuno berwarna mint pudar nongkrong dengan manisnya. Mesin ketik itu antik, berdebu, dan jelas bukan barang murah. Itu pasti menghabiskan seluruh sisa uang penjualan kue handmade Na minggu ini!
Na duduk di kursi seberang, tersenyum dengan raut wajah yang sedikit gugup namun penuh tekad.
“Aku tahu kau benci laptop,” kata Na. “Kau benci email. Kau benci notifikasi dari orang-orang yang mencuri idemu. Ini… ini tidak bisa dibajak. Ini hanya suara jari-jarimu, Bay.”
Itu adalah tantangan terbesar dan paling polos yang pernah diberikan Na. Na menantang Bay untuk kembali ke akar kecintaannya pada menulis, melepaskan ketergantungan pada teknologi yang mengkhianatinya.
“Aku menggunakan sisa uangku,” Na mengakui. “Tapi mesin ini bukan utang. Ini adalah masa depan.”
Bay hanya menatap mesin ketik itu. Suaranya, ketukannya, sensasi jari-jari di tombol keras—itu adalah sensasi menulis yang lama hilang. Namun, Bay harus realistis.
“Aku butuh uang, Na. Aku harus ambil proyek ghost writing lagi, yang membosankan itu.”
“Aku sudah memikirkannya,” kata Na sambil mengeluarkan tablet. Di layarnya, ada halaman depan sebuah platform web serial. Na memotret cupcake buatannya, menulis sinopsis cerita ghost writing yang Bay buat, dan menjualnya sebagai serial web kecil.
“Aku tahu itu bodoh,” Na tertawa malu-malu, “tapi aku bilang, ini cerita dari ‘The Ghost Writer’ yang hebat, dan orang-orang harus membacanya! Ini baru tiga episode, tapi… sudah ada lima puluh orang yang membayar, Bay.”
Bay menahan napas. Na telah melakukan pengkhianatan kecil terhadap kontrak kerjanya, tetapi itu adalah pengkhianatan yang dilandasi cinta, untuk membuktikan bahwa karya Bay memiliki nilai—dan menghasilkan uang—tanpa harus melayani klien besar.
“Na, kau gila.” Bay berbisik dalam sengau. Kali ini bukan riak kesedihan, melainkan rasa syukur yang membanjiri malu dan benci pada dirinya sendiri.
Na melakukan dua hal: Ia memberi Bay ruang sunyi untuk menulis melalui hadiah mesin ketik antiknya, dan sekaligus memberi Bay validasi bahwa ia masih berharga melalui penjualan serial kecil di web.
Bay akhirnya duduk di depan mesin ketik. Jemarinya menyentuh tuts. Clack. Clack. Clack. Suara itu adalah musik. Ia tidak menulis novel barunya. Ia menulis bab baru untuk serial web Na, yang kini memiliki nama: The Ghost.
***
Waktu berlalu. Na dan Bay memasuki rutinitas baru. Serial The Ghost Na sukses, memberikan mereka ruang finansial yang tidak lagi butuh banyak kerut kening serta hela napas. Bay juga kembali mendapatkan proyek ghost writing yang dibayar mahal, dan ia menggunakan mesin ketik itu untuk novel orisinalnya.
Namun, ternyata ada masalah baru. Masalah yang perlahan merambat tanpa disadari sebelum kemudian menusuk kepedihan yang amat ngilu di hati Na.
Masalah itu bernama: Jarak.
Bay terlalu fokus bekerja. Ia kembali menjadi penyendiri, terobsesi mengejar mimpi yang kian terjangkau. Ia mulai mengabaikan rekayasa kebahagiaan Na. Ia lupa memuji kue baru Na. Ia lupa menanyakan tentang penjualan hari ini.
Suatu malam, Bay menulis di mesin ketik hingga pukul 03:00 dini hari. Ia mendapati Na duduk di lantai ruang tengah, menatap langit-langit yang sama dengan yang ia tatap ketika tengah terpuruk dulu.
“Kau melupakan aku, Bay,” kata Na. Suaranya tenang, tetapi dingin. Dingin yang membuat Bay terkejut.
“Aku tidak melupakanmu, Na! Aku sedang menulis untuk kita! Aku sedang mengejar mimpi yang kau bantu aku raih!” bela Bay, yang agak ragu apakah itu kebenaran atau sekadar untuk membela dirinya sendiri.
“Mimpi kita bukan deadline 250.000 kata, Bay,” balas Na, berdiri. “Mimpi kita adalah bakso dan mie putih di malam hari. Kau kembali menjadi ghost bagi diriku. Aku harus merekayasa kebahagiaan untukmu, tapi kau bahkan tidak melihatnya lagi.”
Ini adalah titik kritis. Bay menyadari bahwa ia telah mengganti satu beban finansial dengan beban ambisi yang baru. Dan dalam prosesnya, ia mengkhianati kesederhanaan cinta yang Na ciptakan.
***
Bay tercenung. Ia merasa harus memperbaiki kesalahan ini, bukan dengan janji besar, melainkan lebih kepada melakukan pengakuan yang bisa untuk mencairkan semua konflik.
Bay mengambil sisa uang terakhir dari honor ghost writing-nya. Ia tidak membelikan Na perhiasan mahal atau liburan mewah. Ia mencari Pak Min. Ia membeli sebungkus bakso dan mie putih yang persis seperti malam pertama.
Bay kembali ke apartemen. Na sedang menangis pelan di studio, dikelilingi cupcake yang tidak terjual.
Bay meletakkan bakso di meja lalu berjalan ke Na. Ia tidak berbicara tentang uang atau mimpi.
Bay hanya mendekap punggungnya. Pelukan itu kini tidak lagi kaku, tetapi penuh dengan semua emosi yang telah mereka lalui.
Setelah tangisan Na mereda, Bay mengucapkan kalimat yang lahir dari semua pengalaman, kegagalan, dan kebangkitan mereka:
“Aku tidak butuh London, Na. Aku tidak butuh 100 juta pembaca. Aku tidak butuh startup yang sukses. Karena selama ini, cinta yang kucari selalu ada di sini.”
Bay menatap mata Na, penuh dengan air mata dan senyum.
“Mencintaimu,” bisik Bay, dengan malu yang amat tersipu karena harus mengakui hal yang begitu sederhana.
“membuatku lupa, akan apa itu cinta….”
Bay menarik napas dalam-dalam. Hela napas yang berat namun begitu penuh dan terasa utuh.
“… karena semua: menjelmamu.”
***
Bay dan Na makan bakso bersama, ditemani mesin ketik kuno. Mereka terus hidup di Thornvillage, menulis dan membuat kue, dengan uang yang pas-pasan, tetapi dengan cinta yang abadi.
Purbalingga-011025, diambil dari puisi berjudul sama “Cinta Sederhana yang Luar Biasa” dalam buku kumpulan puisi “Mencintaimu dengan Cara yang Paling Malu”.










