Lebaran tahun 2003 menjadi kisah tersendiri dibanding lebaran-lebaran sebelum dan setelahnya. Arus mudik dan arus balik dengan menggunakan motor, juga sebuah firasat.
***
Sabtu pagi saat memasuki arus balik, aku dan bapak berencana kembali ke Bandung setelah sepekan mudik dan berlebaran di Jawa Tengah, tepatnya di Magelang kampung halaman bapak.
Pukul 05.30 wib, setelah salat subuh, aku dan bapak bersiap-siap untuk kembali ke Bandung dan semua berjalan normal seperti biasanya. Setiap mudik, aku selalu tidur di rumah pakde, karena ada kamar tidur yang kosong. Sementara di rumah mbah, semua kamar sudah terisi penuh.
Pukul 05.00 wib, dari rumah pakde, aku bertolak ke rumah mbah dengan berjalan kaki karena memang rumahnya tak begitu jauh.
“Lan, ini bekal untuk Alan, ya?” Bude memberikan dua lembar uang berwarna merah, sebelum saya bertolak ke rumah mbah. Begitulah bude ku, begitu baik kepada keponakannya.
“Iya Bude, terima kasih,” aku menimpali dengan senang sekali dan aku pun bertolak ke rumah mbah.
Sesampainya di rumah Mbah, kulihat Mbah Putri sedang memasak sayur asem untuk sarapan sebelum memulai perjalanan. Aku pun menunggu Mbah Putri di ruang tengah.
Beberapa menit kemudian, sayur asemnya matang. Aku pun ke dapur untuk sarapan. Sesampai di dapur, saat hendak mengambil nasi, tiba-tiba aku mendapatkan firasat yang sangat tidak enak. Awalnya, aku hendak mengambil nasi agak banyak, karena firasat tersebut, akhirnya aku mengambil nasi hanya sedikit.
“Kok, ambil nasi sedikit, Mas Alan?” tanya Mbah Putri.
“Cukup segini saja, Mbah. Belum begitu lapar,” jawabku sambil merasakan firasat yang tiba-tiba datang.
Selepas makan, aku bilang ke Bapak.
“Pak, gimana kalau Mas pulangnya hari Senin bareng Ibu naik kereta?”
“Ngawur aja. Bapak gak ada temen di jalan.” Jawab bapak, yang sudah bersiap dengan semangat sedari tadi.
Saat itu, entah kenapa aku begitu enggan balik ke Bandung, dan ingin bareng ibu sama adik-adik yang berangkat menggunakan kereta api pada hari senin. Padahal, setiap kali mudik, aku selalu ingin cepat-cepat balik lagi ke Bandung. Mungkin karena firasat yang tidak enak ini penyebabnya.
***
Pukul 06.00 pagi, dengan perasaan terpaksa, aku dan bapak berangkat menuju Bandung. Kita pun berpamitan kepada semua keluarga yang sudah berkumpul di rumah mbah.
Di perjalanan, masih di Magelang, bapak menuju pom bensin, untuk mengisi full tangki motornya.
Saat di pom bensin, firasat yang tidak enak itu semakin terasa.
Dalam hati aku berkata “Ada apa ini, perasaan gak enak hati semakin kuat?” Namun, aku diam saja, dan mengikuti bapak.
Dari pom bensin di Magelang, berangkatlah kita melalui jalan Purworejo, jalur yang biasa kita lewati.
Pukul 06.35, di jalan Purworejo tersebut, bapak berjalan sedikit lambat, karena mengikuti sebuah bus di depannya. Bapak tidak menyusul bus tersebut, karena jalur cepat dan jalan berliku.
Tanpa disadari, tiba-tiba “Baam!, Cekiiiit, sedikit mengeluarkan percikan api, dan praaak!”
Motor yang kita kendarai tertabrak bus dari arah berlawanan. Aku jatuh terpelanting ke tengah aspal, sementara bapak jatuh ke gundukan pasir. Sementara motor, tangkinya penyok dan bocor.
Kaki kananku terasa begitu sakit dan tidak bisa digerakkan, lalu warga setempat berhamburan keluar untuk melihat. Tak lama, datang seorang bapak-bapak membawakan secangkir teh hangat berukuran besar, yang cangkirnya terbuat dari plat berwarna hijau bercorak cendol.
“Mas, minum dulu biar tenang, Mas” Kata bapak tersebut sambil menyodorkan cangkir yang berisi teh hangat ke mulutku.
Aku pun meminumnya, namun ketika teh hangat jatuh ke lambungku, terasa ada kebocoran seperti tangki motor bapak yang bocor itu. Tak lama, aku dibawa ke rumah sakit yang berada di Magelang dengan menggunakan angkutan umum.
Setibanya di rumah sakit, dokter langsung menangani kakiku dengan menggunakan gips. Setelah itu, aku dibawa ke ruang operasi untuk diperiksa lambung, dan aku pun dioperasi. Namun sayangnya, rumah sakit tersebut tidak memiliki peralatan operasi yang lengkap, sehingga harus dirujuk ke rumah sakit yang berada di Jogja yang peralatan operasinya lebih lengkap.
***
Hampir 3 pekan hari aku dirawat, setelah semua proses operasi yang sangat menegangkan, aku mengalami tiga kali mimpi bersambung pada malam hari.
Pertama, aku bermimpi bapak sedang bersama adik sedang ngobrol-ngobrol.
“Pur, nanti kita ke piknik borobudur habis ini, ya?” Ajak bapak ke adik, ditengah obrolan itu.
Aku yang menguping obrolan bapak bersama adik, langsung menghampiri mereka.
“Mas juga ikut, Pak. Mas siap-siap sekarang.” Dengan nada kegirangan.
Tapi bapak menolak, “Siapa yang ngajak mas? Bapak perginya cuma sama pur aja!.” Dengan nada bicara yang tinggi.
Mendengar penolakan bapak, aku marah dan pundung¹.
Aku berlari ke kebun pisang dan mengamuk dengan meninju-ninju pohon pisang sekuat tenaga.
Tanpa disadari berbarengan dengan mimpi itu, di bangsal ternyata aku pun mengamuk sungguhan. Pada hari pertama bermimpi, aku ditemani oleh mbah putri.
Aku pun dibangunkan Mbah Putri sambil berkata “Mas, mas, mas Alan kenapa?”
Aku terbangun dengan keadaan linglung dan bingung.
“Emang ada apa, mbah?” Tanyaku.
“Mas Alan ngamuk-ngamuk, seperti orang kerasukan sampai tangan mbah kena cakar.” Jawab mbah putri.
“aku mimpi, mbah. Mimpi dimarahin bapak.”
“Oalah, ya sudah gak apa-apa, cuman mimpi. Bapak gak mungkin marah-marah.” Jelas mbah putri menenangkanku. Lalu, mbah putri menceritakan kepada keluarga, termasuk kepada bapak dan ibu.
Keesokan harinya, aku kembali bermimpi. Melanjutkan mimpi yang kemarin.
Di dalam mimpi, setelah kemarin ngamuk-ngamuk karena tidak diajak bapak ke borobudur, aku pun membuat perahu sekaligus membuat dayungnya dengan menggunakan batang pisang, dengan maksud menghibur diri. Layaknya tukang, aku membuat perahu dengan lancar dan cekatan.
Ketika hendak beranjak, datang dua orang yang tak lain adalah saudaraku. Mereka datang bukannya ingin membantu, melainkan hendak memalak.
“Lan, njaluk duit. Nek ora tak tinju!²” Kata salah seorang saudaraku dengan nada mengancam.
“Ora duwe duit!³” Jawabku dengan tegas.
Tanpa basa-basi, kedua saudaraku itu menyerangku. Namun, dengan sigap aku menghindar. Entah dari mana salah satu saudaraku ada di belakang, dan menendang punggungku hingga tersungkur. Lalu, setelah tersungkur, aku dikeroyok oleh keduanya. Tentu saja aku berusaha menangkis dengan cepat meski seringkali terkena pukulan.
Pada saat yang bersamaan, di bangsal, aku mengamuk lagi tanpa sadar. Hari itu bagian ibu yang menjagaku. Ibuku berusaha membangunkan, walaupun sudah terkena cakaran dan hantaman tangan.
Beberapa kali dibangunkan, akhirnya aku bangun juga dengan keadaan sama seperti hari kemarin. Bingung dan linglung.
Ibuku bertanya “Mas kenapa, mimpi lagi?”
“Iya, bu.” Jawabku.
Lalu ibu memanggil dokter.
Setibanya dokter di bangsal, kening, dada dan perut diperiksa, sambil berkata “Oh, ini hanya shock saja pasca operasi.” Setelah itu, dokter memberikan obat ukuran 140ml, berbentuk cairan berwarna orange. Sehabis diberi obat tersebut aku pun terlelap.
Hari berikutnya, aku bermimpi lagi. Episode ketiga dari mimpi sebelumnya.
Di dalam mimpi, aku membawa perahu dan dayung dari kebun pisang ke sungai yang tak jauh dari pemukiman.
Sesampainya di sungai, aku mengarungi sungai itu dengan menggunakan perahu. Aku mendayung dengan santainya hingga hampir satu kilometer jauhnya.
Tiba-tiba datanglah seekor buaya hendak menyerangku. Tanpa pikir panjang, aku melompat dari perahu itu, dan berkelahi dengan buaya.
Aku memukul punggung buaya, “Bug!” sementara buaya itu hendak menerkam, namun saya menghindar dan memukul perut buaya “Baaam!”
Entah dari mana datangnya, aku memiliki keahlian bela diri, namun buaya itu pun tak kalah tangguh. Sungai itu menjadi arena pertarungan yang sengit.
Buaya itu loncat dan menyergapku, “Splosh!” Mendarat ke sisi sungai yang agak dalam “blupup, blupup, blupup” Di dalam sungai aku terlepas dari sergapannya, dan aku palingkan tubuhku ke samping kanan untuk menghindar.
Lalu aku menuju ke daratan, sementara buaya yang berada di tengah sungai mengikutiku dengan cepat. Setelah dekat, ia hendak menyergapku lagi, dengan cepat aku menghindar berguling-guling ke kiri.
Setelah itu, aku bangkit “craaak!” Kakiku menginjak ranting kering, lalu loncat hendak menyergap balik. Namun, pertarungan itu usai tatkala aku dibangunkan oleh mbah putri.
Aku terbangun bermandikan keringat dengan ekspresi yang sama, yaitu linglung dan bingung.
“Mas Alan mimpi, lagi?” Tanya Mbah Putri.
“Iya, mbah.” Jawabku.
Lalu Mbah Putri menghampiri ibu, untuk memanggilkan dokter.
Sepuluh menit kemudian, dokter datang dengan membawa obat lagi berbentuk cairan, dan aku pun terlelap.
Keesokan harinya, aku bermimpi lagi. Namun kali ini mimpinya berbeda dari hari-hari sebelumnya.
Di dalam mimpi, aku berada di bangsal yang lampunya mati. Hanya bangsal tempatku saja yang mati, sementara koridor rumah sakit lampunya menyala dengan terang. Namun, meski demikian, ruangan terasa gelap dan sedikit menakutkan.
Tak lama, datang sesosok perempuan dengan rambut panjang terurai yang menutupi wajahnya. Kulihat pakaiannya, ia mengenakan keatasan kebaya hitam dan kebawahan mengenakan selendang abu-abu bercorak warna hitam.
Ia menghampiriku yang seluruh tubuhnya bergerak datar mendekat. Tidak terlihat seperti orang yang sedang berjalan. Aku penasaran dan melihat kakinya ternyata tidak menapak ke lantai. Aku semakin ketakutan, namun tak bisa berbuat apa-apa.
Ia semakin mendekat, mendekat, dan mendekat hingga sampai ke kaki kananku yang cidera. Lalu, ia mengusap-ngusap telapak kakiku beberapa kali.
Saking takutnya, aku berteriak “Aaaaaa!” hingga terbangun dan teriakannya itu terbawa ke alam nyata. Seketika, satu ruangan di bangsal kaget. Termasuk mbah kakung yang menjaga saat itu.
“Mas, mimpi lagi?” Tanya Mbah Kakung.
“Iya mbah.” Jawabku.
“Mimpi apa sekarang?” Tanya
Mbah Kakung penuh penasaran
“Mimpi didatengin perempuan, wajahnya gak keliatan ketutup rambut pake kebaya hitam, mbah.”
“Perempuan itu mau ngapain?”
“ngusap-ngusap telapak kaki kanan, mbah.”
“Oh, nanti tak tanya kyai.” Kata Mbah Kakung dengan mantap, karena mungkin melihat ekspresiku benar-benar takut.
Selepas itu, kembali aku diberi obat lagi oleh dokter, yaitu obat yang sama berukuran 140ml.
***
Tiga hari setelah kejadian itu, aku diperbolehkan pulang oleh pihak rumah sakit, dan keluar dari bangsal menuju tempat parkir dengan menggunakan kursi roda.
Sesampainya di rumah, setelah setengah jam, mbah kakung menghampiriku dan berkata.
“Nanti kalau mimpi lagi perempuan itu, jangan takut. Coba tanya siapa namanya.”
“Oh iya, mbah.” Jawabku sambil mengangguk.
Setelah itu Mbah Kakung pergi dari rumah tanpa berpamitan kepada siapa pun.
Hingga waktu maghrib tiba, Mbah Kakung belum juga pulang. Orang rumah semua sudah khawatir pergi kemana mbah kakung ini.
Semua mencarinya, ada yang ke rumah pakde, ada yang menelpon saudara, dan ada pula yang mencari ke masjid, barangkali sudah ada di masjid. Namun, mbah belum juga ketemu. Akhirnya semua menyerah, dan orang-orang yang mencarinya kembali ke rumah.
Pada saat menjelang isya, akhirnya Mbah Kakung pulang juga, tapi tidak sendiri. Mbah bersama dua orang yang berpakaian rapi.
“Mreneo kabeh. Iki, aku wis karo kyai ne.⁴” Kata mbah, saat tiba di ruang tamu.
“Wis seka nangdi? Lungo ra ngabari wong omah⁵.” Tanya Mbah Putri.
“Arep nyelok pak kyai, ra keburu ngabari.⁶” Jawab Mbah Kakung, dan semua orang pun berkumpul di ruang tamu.
Setelah semuanya siap, Mbah Kakung menjelaskan permasalahanku kepada Pak Kyai selama berada di rumah sakit, dari mimpi pertama hingga mimpi terakhir.
Dari penjelasan Mbah Kakung, ternyata yang menarik perhatian Pak Kyai adalah mimpi yang terakhir. Yaitu mimpi didatangi sosok perempuan.
Setelah merenung keras sambil mengangguk-ngangguk, Pak Kyai seperti menemukan sesuatu.
“Begini, saya menjelaskan dengan bahasa Indonesia, biar mas Alan ngerti, ya?” Kata Pak Kyai.
“Pada saat Pak Mail dan Mas Alan tertabrak bus, itu Mas Alan ada yang menolong. Sosok yang menolong itu, sedang berada di pinggir sawah, ia melesat ke jalan untuk menolong mas Alan.” Jelas Pak Lyai.
“Ia menolong dengan cara membopong Mas Alan dan diletakkan perlahan ke tengah jalan. Nah, sosok itu adalah perempuan yang ada di mimpi Mas Alan. Itu kalau tidak dibantu, maaf-maaf Mas Alan kemungkinan akan meninggal ditempat” Lanjut Pak Kyai.
Aku sedikit terhenyak, dan membatin “Pantas saja, pada saat insiden kecelakaan itu, tidak ada darah sedikit pun yang keluar. Hanya betis samping kiri saja yang lecet, karena celana levisku robek di bagian itu.
“Mas Alan kalau mimpi lagi, tanya siapa namanya dan mau apa. Jangan takut, ya. Nanti saya bantu dari jauh?” Terang Pak Kyai yang seolah tahu maksud Mbah Kakung.
Aku hanya mengangguk saja.
***
Jam tidur tiba, aku tidur ditemani oleh Mbah Kakung.
Pada saat hendak tidur, aku memantapkan niat untuk bertanya kepadanya bila ia muncul kembali di mimpiku.
“Namaku Widyaningsih, namaku Widyaningsih, namaku Widyaningsih.” Terdengar sayup-sayup suara perempuan dalam mimpiku.
Aku celingukan dengan perasaan takut, mencari asal suara itu.
“Jangan takut, namaku Widyaningsih. Jangan takut.” Terdengar lagi suara perempuan itu.
Aku pun mencari-cari asal suara, namun rasa takut semakin menguasai. Semakin mencari, semakin takut, akhirnya aku berteriak “Aaaaaa!” Hingga kuterbangun.
Mbah kakung yang tidur, ikut terbangun yang kaget oleh teriakanku.
“Mas, mimpi lagi, Perempuan itu?” Tanya Mbah Kakung kepadaku.
Aku yang berkeringat menjawab “Iya, mbah.”
“Apa mas nanya namanya?” Tanya Mbah Kakung lagi.
“Enggak, mbah. Dia ngasih tau namanya sendiri.”
“Siapa namanya?”
“Widyaningsih, mbah.”
“Oh iya. Ya sudah. Sekarang mas tenang dulu, besok pak kyai datang lagi.”
“Iya, mbah.”
“Sekarang mas Alan tidur lagi. Sebelum tidur berzikir dulu biar gak takut.” Jelas Mbah Kakung.
“Iya, mbah.” Dan aku kembali untuk tidur dengan berzikir sebisaku.
Keesokan harinya, pak kyai datang lagi setelah salat maghrib. Semua orang yang berada di rumah, kembali berkumpul di ruang tamu.
“Gimana mas Alan, apa mas Alan sudah bertanya, siapa namanya?” Tanya Pak Kyai penuh antusias.
“Enggak, Pak Kyai, dia ngasih tau sendiri namanya.” Jawabku.
“Oh, iya. Itu saya bantu dari jauh biar mas Alan tidak kesulitan pada saat bermimpi.” Jelas Pak Kyai.
“Siapa namanya, mas?” Tanya Pak Kyai.
“Widyaningsih, Pak Kyai.” Jawabku lagi.
“Dari yang saya temukan, sosok perempuan itu semasa hidupnya memiliki seorang anak. Tapi anaknya meninggal terlebih dahulu, sehingga membuatnya dia bersedih.” Jelas Pak Kyai.
“Nah, kenapa dia mau membantu mas Alan saat kecelakaan, karena wajah mas Alan sangat mirip dengan wajah anaknya.” Lanjut Pak Kyai, sambil memasang wajah serius.
Aku dan semua yang berada di ruang tamu, agak terkejut mendengarnya. “Kok bisa?” Batinku bertanya-tanya.
“Tapi tidak apa-apa, dia cuma mau membantu dan menjaga Mas Alan, jadi jangan diusir. Sekarang, dia ada disini ngikutin Mas Alan dan sedang berada di luar karena kita sedang membicarakannya.”
Seketika, bulu kudukku berdiri, sambil melihat malu-malu ke arah jendela rumah.
“Sekarang saya pamit dulu, jangan takut perempuan itu baik tidak akan mengganggu mas Alan, tapi mungkin dia akan mengikuti terus kemana pun mas Alan pergi, karena untuk menjaga mas Alan.” Kata Pak Kyai sambil bersalam-salaman pamit pulang.
“Iya, Pak Kyai.” Jawabku, berlagak berani, padahal aku diselimuti ketakutan sedari tadi, karena berpikir “Akan mengikuti terus?”
***
Sudah hampir dua minggu berada di rumah mbah, dan keadaanku sedikit membaik, kami sekeluarga memutuskan kembali ke Bandung. Akhirnya kami semua menggunakan kereta api, karena motor itu dilarang dipakai oleh mbah kakung pasca diperbaiki.
Beberapa bulan di Bandung, efek dari rumah sakit masih ada. Yaitu saat mimpi buruk, tidurku masih suka teriak-teriak.
Pernah pada satu malam, aku tidur dengan dengan saudaraku, pada saat tidur aku mengamuk tidak jelas. Sampai-sampai saudaraku terkena hantaman beberapa kali.
Saat kuterbangun saudaraku bertanya “Mas, mas Alan kenapa?”.
“Saya mimpi buruk, mas.” Jawabku sedikit gugup. Karena, setiap aku bangun akibat mimpi buruk dan mengamuk, aku selalu linglung dan bingung.
Mungkin, sosok perempuan itu masih terus mengikutiku sampai saat ini. Karena 5 tahun yang lalu ada yang memberitahuku, ada perempuan mengikutiku kemana pun aku pergi.
Apalagi, walaupun aku sudah tidak bermimpi dia lagi, tidurku seringkali tidak wajar. Sering kagetan dan terkadang memukul siapapun tanpa sadar yang tidur berdekatan denganku.
Aku hanya berharap, jika benar dia selalu mengikutiku, kumeminta semoga tidak ada hal-hal buruk yang menimpaku dan keluargaku. Sebab, aku tidak bisa mengusirnya, mungkin sebagai rasa terima kasihku, kalau benar dia telah menolongku pada saat terjadi kecelakaan di tahun 2003 silam.
=================================
Glossarium:
¹ Pundung artinya merajuk dalam bahasa Sunda.
² Lan, minta uang, kalau tidak aku tinju.
³ Tidak punya uang!
⁴ Kesini semuanya. Ini, aku sudah bersama kyainya.
⁵ Sudah dari mana? Pergi tidak ngabarin orang rumah.
⁶ Mau manggil Pak Kyai, tidak sempat ngabarin.











