Home / Non Fiksi / Menjadi Penulis: Menghindari Membuang Waktu Percuma

Menjadi Penulis: Menghindari Membuang Waktu Percuma

Menjadi Penulis 20260718

Rasanya lucu juga aku menulis artikel ini sambil menunggu istriku menyiapkan makan malam, tepat ketika aku menyelesaikan bab-bab harian di beberapa platform novel online.

Karena kali ini, kita akan membahas sesuatu yang selalu menjadi tantangan bagi penulis: waktu.

Banyak orang berkata bahwa mencari waktu untuk menulis itu sulit. Dan memang benar. Namun, yang sering kali mengejutkan adalah, bahkan ketika kita punya banyak waktu luang, tetap saja menulis tidak terjadi.

Selalu ada hal yang mengalihkan perhatian. Selalu ada sesuatu yang terasa lebih mendesak.

Tahu-tahu hari sudah sore, lalu malam datang, dan kita menyadari bahwa hari itu berlalu tanpa satu kalimat pun berhasil ditulis.

Aku pernah membahas bagaimana cara menyediakan waktu untuk menulis. Kali ini, aku ingin melihatnya dari sudut pandang yang berbeda.

Bukan tentang mencari waktu, melainkan tentang apa saja yang diam-diam mencuri waktu kita.

Aku termasuk beruntung.

Aku bekerja dari rumah sehingga punya keleluasaan mengatur jadwal sendiri. Hampir setiap pagi aku punya beberapa jam yang sengaja aku sisihkan khusus untuk menulis.

Tetapi anehnya, masih saja ada hari-hari ketika aku tidak menghasilkan satu kata pun.

Kadang aku sendiri heran. Bagaimana mungkin itu bisa terjadi?

Jawabannya sederhana.

Karena aku selalu merasa masih ada waktu “nanti saja.”

Ketika sedang bersiap menulis, tiba-tiba ada klien yang menghubungi.

Akuberpikir, “Ah, kerjakan sebentar saja.”

Akumembuka komputer untuk menyelesaikan satu atau dua hal kecil.

Lalu masuk pekerjaan lain.

Ada pesan baru. Ada urusan mendadak. Ada sesuatu yang perlu segera dibalas.

Tanpa terasa, jam terus berjalan. Ketika aku akhirnya melihat ke arah jam, hari sudah habis.

Kalimat kecil seperti, “Cuma mau cek sebentar…”, sering kali menjadi jebakan terbesar. Mengecek email. Membuka Facebook. Melihat media sosial.

Bahkan menulis artikel blog—ya, aku akui, ini pun pernah membuatku menunda mengerjakan novel.

Semuanya tampak sepele. Cuma lima menit, kok. Cuma sepuluh menit.

Tapi, waktu tidak benar-benar hilang sekaligus, melainkan menguap sedikit demi sedikit, sampai akhirnya kita tidak sadar bahwa berjam-jam sudah berlalu.

Karena itu, kalau kau sudah sengaja menyediakan waktu untuk menulis, jangan biarkan diri sendiri mencari alasan untuk tidak menggunakannya. Bahkan alasan yang terdengar masuk akal sekalipun bisa menjadi jebakan.

Misalnya, “Aku ke laundry dulu saja. Nanti sore masih banyak waktu buat menulis.”

Kenyataannya?

Begitu keluar rumah, kau akan teringat lima atau enam urusan lain yang sekalian bisa dikerjakan. Satu urusan berubah menjadi banyak urusan. Ketika semuanya selesai, tenaga sudah habis terkuras dan waktu menulis ikut menghilang.

Hari-hari terbaikku sebagai penulis selalu dimulai dengan cara yang sama.

Aku langsung memanfaatkan waktu yang memang sudah saya sisihkan sejak pagi. Aku menulis dulu.

Baru setelah target tulisan selesai, aku mengurus hal-hal lainnya.

Apa pun jadwalmu—entah hanya tiga puluh menit sebelum berangkat kerja, satu jam setelah anak tidur, atau dua jam di akhir pekan—jangan pernah menganggap waktu itu selalu akan ada.

Lindungi waktu tersebut. Hargai waktu itu.

Dan ketika waktunya tiba…

Pakai untuk menulis.

Cikarang, 18 Juli 2025

Penulis

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 58

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 58

Tegar

Tegar

Menjadi Penulis: Menghindari Membuang Waktu Percuma

Menjadi Penulis: Menghindari Membuang Waktu Percuma

31. Ancaman

31. Ancaman

Terbangun Tengah Malam

Terbangun Tengah Malam

Antologi KompaK’O

Random image