“Kurang ajar kamu Pazel! Sialan kamu! Beraninya kamu menyentuhku, Bajingan! Bahkan kamu berani memukul kepalaku! Akan aku balas kamu, brengsek!”
Rani syok dengan apa yang sedang terjadi. Bagaimana bisa dia berada dalam satu selimut dengan laki-laki yang dia anggap rendahan dan sudah beristri pula. Dan yang lebih menyakitkan dia dipukul dengan keras lalu dihempaskannya.
“Aduh. Maaf, aku benar-benar minta maaf. Lagian kamu juga yang salah! Kenapa kamu menggigitku! Apa kamu kira aku ini daging masak? Hah! Aku ini daging mentah! Aduh… Sakit banget. Dasar kanibal!”
“Aku tidak bisa bernapas, Tolol!” hardiknya.
Rani tidak tahu harus meluapkan emosinya pakai apa lagi agar hatinya puas. Mukanya memerah karena marah.
“Aku menyuruh kamu untuk menodai Silvia! Bukan menodaiku Tolol!” sambungnya lagi. Air matanya mulai menggenang.
“Tadi bukannya kita membawa…, aduh…. Kepalaku sakit banget,” ucapnya meringis menahan sakit bekas pukulan di kepala belakangnya.
Lengkap sudah penderitaan Pazel, kepalanya masih sakit dadanya juga terasa perih bekas gigitan Rani di tambah lagi dengan tuduhan pemerkosaan yang tidak dia lakukan.
“Kepalaku juga sakit. Pasti kamu memberikan minuman yang seharusnya kamu berikan ke Silvia kan? Bajingan!”
“Aku? Bukannya itu tugasmu? Lagian kenapa kita bisa berada dalam satu ranjang? Kau pasti melakukan sesuatu padaku!” tuduh Pazel yang tidak mau kalah.
Di ruangan pesta semua orang masih ternganga menonton pertengkaran mereka yang masih dibalut selimut. Sesekali selimut mereka tersingkap, maka orang-orang menutup mulut mereka yang ternganga lebar. Ada juga yang menutup mata mereka.
Pertengkaran mereka terus berlanjut membuat gelak tawa para tamu undangan yang menonton, hingga terungkaplah satu persatu kejahatan Rani.
“Aku tidak merasa menyentuhmu, Rani. Kenapa kita bisa satu selimut seperti ini? Bukankah tadi kita datang kesini bersama dengan membopong Silvia yang pingsan karena obat yang sudah diberikan ke dalam minumannya! Lalu di mana dia sekarang?” tanya Pazel.
Rani berusaha mengingat apa yang terjadi sebelum dia tidur bersama Pazel. Tapi sekuat apa pun dia berusaha, tetap saja dia tidak bisa mengingatnya.
“Aku tidak mau mengingatnya. Pasti kamu sengaja berbohong untuk menutupi kesalahanmu. Asal kamu tahu, ya. Bukan cuma kamu yang pandai berbohong. Aku juga. Aku pernah.membawa Kaila ke pinggir jalan dan menyuruh orang bayaranku agar mengarahkannya ke tengah jalan. Tapi sayang Silvia sialan itu mengingatkan kang ojek supaya tidak menabraknya. Lalu saat aku mencoba meracuninya di acara pemindahan kepemilikan perusahaannya. Tapi gagal juga, dan sekarang gagal lagi gara-gara ulahmu. Jadi kamu jangan pura-pura di depanku. Ah sialan. Harus dengan cara apa aku membunuh cewek sialan itu! Beruntung banget sih dia jadi orang! Dan dia juga beruntung bisa lepas dari laki-laki tolol seperti kamu!”
“Rani. Mungkinkah kita dijebak?” Bujuk Pazel. Tapi Rani tidak menghiraukan kata-kata Pazel. Dia meringis memegang kepalanya yang sakit. Lalu dia turun mengambil bajunya yang berserakan.
Selimut yang menutupi tubuh mereka berdua dia tarik hingga hanya menutupi tubuhnya sendiri. Akhirnya Pazel turun tanpa sehelai benang pun mengambil bajunya yang berserakan di lantai.
“Ingat! Tidak ada yang boleh tahu kejadian ini! Kalau ada orang yang tahu aku pastikan hidupmu tidak akan tenang!” ancam Rani sebelum dia meninggalkan kamar hotel itu.
Dia berjalan menuju ruangan pesta setelah dia merapikan pakaian dan rambutnya kembali.
Saat sampai di ruangan pesta, dia melihat layar besar sudah menyala. Di depan layar itu para undangan sedang menonton Pazel yang sedang mengenakan pakaiannya.
Seketika sekujur tubuhnya merasa dingin dan tak bertulang. Serasa berdiri di atas tumpukan duri. Hatinya sangat nyeri. Dia malu bukan kepalang. Ingin rasanya dia menghilang dari ruangan itu.
Bagaikan senjata makan tuan, niatnya ingin mempermalukan Silvia, ternyata dia sendiri yang dipermalukan di pesta ulang tahunnya sendiri.
Bagaikan berdiri di tengah-tengah kawanan serigala yang siap untuk menerkamnya, dia begitu ketakutan. Bahkan semua anak buahnya sekarang entah ke mana.
Dia berdiri sendiri memandangi kawanan harimau yang belum menyadari kehadirannya.
Sebuah tangan memegangi pundaknya. Dia menoleh dengan pelan dan ketakutan. Ternyata Pazel yang datang menghampirinya. Dia juga sudah melihat layar yang ada di ruangan itu.
“Ayo, kita keluar dari sini. Jangan sampai mereka melihat kita. Kalau mereka melihat kita, maka kita akan diamuk seperti seekor tikus dimangsa kucing,” bisiknya.
“Tapi bagaimana dengan Dana? Aku tidak mau dia berpikiran buruk tentang aku. Aku tidak mau dia menjauhiku gara-gara ini. Aku tidak mau kehilangan dia,” lirihnya seperti orang linglung.
“Kalau kita tidak pergi dari sini kamu tidak hanya akan kehilangan Dokter Dana, tapi juga kehilangan nyawamu. Ingat, kamu sudah mengatakan semua kejahatanmu di kamar tadi. Pasti mereka semua juga mendengarnya. Atau kamu mau masuk penjara? Aku ogah,” bisiknya menarik tangan Rani.
“Aku tidak mau! Tidak! Tidak! Aku tidak mau masuk penjara!”
“Kalau begitu ayok cepat kita pergi dari sini!”
Sebelum mereka sempat melangkahkan kaki ada teriakan dari belakang mereka.
“Kalian tidak akan ke mana-mana, karena kalian akan mempertanggung jawabkan perbuatan kalian.”
Seketika tubuh Pazel terasa kaku. Rani hanya diam membisu seperti orang kehilangan akal. Bahkan dia hanya melamun dan tidak peduli dengan apa pun lagi yang terjadi di sekelilingnya.
Dia seperti orang yang hilang ingatan.









