Silvia dapat mendengar dengan jelas semua percakapan mereka.
Saat mereka pingsan Silvia bangun.
“Kenapa kalian langsung memukulnya? Padahal kita belum mendapatkan rekaman pembicaraan mereka.”
“Buatku keselamatanmu jauh lebih penting, Sayang.” \Dokter Dana menuju ke tempat tidur dan membantu Silvia untuk berdiri.
“Tapi kita sudah melangkah sejauh ini, Mas. Tinggal sedikit lagi,” ujarnya dengan lembut.
“Kita masih punya kesempatan kok,” ujar Kanaya.
Seketika Dokter Dana dan Silvia menoleh ke arah Kanaya.
“Ya. Kalian tidak salah dengar. Kita masih punya kesempatan.”
Kanaya mengambil alat perekam suara dari punggung Silvia. “Kita tidak lagi membutuhkan ini. Yang kita butuhkan adalah sebuah rekaman gambar dan suara,” lanjutnya seraya memperlihatkan sebuah benda kecil berbentuk sebuah pulpen.
“Apa itu CCTV mini?” tanya Silvia.
“Tepat sekali. Ini adalah CCTV mini. Kita akan pasang di ruangan ini. Mudah-mudahan saja kita bisa mendapatkan bukti kejahatannya dengan ini,” ucap Kanaya dengan perasaan yang sedih bercampur amarah.
Dokter Dana menghubungi anak buahnya melalui ponsel agar mereka masuk dan meletakkan tubuh dua orang itu ke atas tempat tidur.
Beberapa orang berpakaian pelayan hotel yang tadinya menyamar, sekarang masuk untuk memindahkan tubuh Pazel dan Rani ke atas tempat tidur.
“Lucuti semua pakaian mereka!” perintah Kanaya.
Sebelum menuruti perintah Kanaya, mereka melihat ke arah Dokter Dana seolah meminta izin kepada Bos mereka.
Dokter Dana menganggukkan kepala dan mengedipkan matanya.
Sebelum mereka melakukan tugas mereka, Silvia menarik tangan Dokter Dana untuk keluar dari kamar itu. Dokter Dana mengikuti dengan senyuman di bibir seksinya.
Sesampainya di luar Dokter Dana bertanya, “Ada apa Sayang?”
Dia membelai rambut Silvia dengan penuh kasih sayang.
“Aku gak mau Mas melihat tubuh wanita lain selain….” Dia tidak melanjutkan ucapannya.
“Selain apa?” tanya Dokter Dana dengan senyum menggoda.
“Bukan apa-apa.”
SIlvia hendak berlalu meninggalkan Dokter Dana untuk menghilangkan rasa malu dan gugupnya. Tapi Dokter Dana segera menarik tangan Silvia dan memeluk tubuhnya yang ramping.
“Selain apa, Sayang?”
Dokter Dana berbisik di telinga Silvia dengan suara basnya. Dia mencium aroma parfum Silvia yang menenangkan perasaannya. Dia semakin mendekatkan wajahnya hingga kulit mereka saling bersentuhan. Sentuhan itu menciptakan sensasi hangat di sekujur tubuh Silvia.
Dia begitu terpesona dengan suara bas Dokter Dana dan terhanyut dalam dekapannya.
“Ehem….”
Sebuah suara menghentikan ciuman yang membuat mereka melayang dalam kenikmatan cinta yang tulus. Mereka bersyukur suara itu menghentikan bisikan setan yang menghasut mereka untuk menikmati sentuhan yang akan menjerumuskan mereka ke dalam jurang dosa.
“Maaf kalau aku mengganggu kalian. Silakan dilanjutkan,” ucap Kanaya segera meninggalkan mereka. Tapi Silvia menahannya.
“Kanaya, tunggu.”
Kanaya menghentikan langkahnya dan berbalik melihat ke arah Silvia.
“Apa sudah selesai?” tanyanya.
Saat itu beberapa anak buah Dokter Dana pun keluar dari kamar itu. Mereka mengangkat dua jempol mereka saat Dokter Dana mengangkat alis kepada mereka.
“Kita tinggal menunggu hasilnya saja. Aku sudah menyambungkan CCTV itu ke ponselku. Saat mereka terbangun, mereka akan mengungkap kejahatan mereka, karena aku sudah menyuntikkan obat ke tubuh Rani.”
“Obat?” Silvia menatap Dokter Dana.
Dokter Dana gelagapan menghindari tatapan Silvia, kemudian dia memeluknya.
“Maaf sayang, untuk melawan kejahatan, terkadang kita harus melakukan sedikit kecurangan.”
Silvia hanya bisa pasrah mendengar jawaban tunangannya.
“Tidak Silvia. Sebenarnya akulah yang memaksa Dokter Dana untuk memberiku obat itu. Jadi ini bukan kesalahan beliau.”
“Tapi tetap saja itu tindakan kriminal. Yang sudah terjadi biarlah terjadi. Tapi untuk ke depannya, Mas tidak boleh melakukan hal itu.”
“Siap, Bos!” ucap Dokter Dana lalu mengecup kening Silvia.
“Ehem…. Nanti saja mesranya, jangan di depanku,” ucap Kanaya pura-pura ngambek.
“Kalau kamu mau, aku bisa menjadi teman mesramu juga Kanaya,” celetuk seseorang yang baru datang.
“Darwin. Lama banget sih datangnya,” ujar Kanaya tersenyum riang melihat kedatangannya.
“Kenapa? Gak sabarnya mau bikin mereka juga kepanasan melihat kemesraan kita?” tanyanya seraya mengedipkan sebelah matanya.
“Ngawur kamu. Sebaiknya kita kembali ke ruangan pesta sekarang sebelum mereka bangun.”
Mereka semua kembali ke ruangan pesta.
Sebelum acara dimulai tadi, Rani sudah menyiapkan layar lebar untuk mempermalukan Silvia. Dia sudah memberikan arahan kepada pengelola acara, kapan waktu yang tepat untuk mengumumkan dan menyalakan rekaman itu.
Kebetulan sekali saat Dokter Dana, Silvia, Kanaya, dan asisten Dokter Dana yaitu Darwin datang tepat di saat pengumuman untuk menonton rekaman itu. Semua mata tertuju ke arah layar besar itu. Hingga saat yang ditunggu-tunggu pun tiba.
Dua orang sejoli sedang tidur lelap sambil menggeliat di baluti selimut. Rani menggeliat manja bergelayut ke tubuh Pazel hingga selimut yang menutupi badan mereka tersingkap. Tampaklah tubuh mereka yang tidak ditutupi sehelai benang pun.
Dengan mata yang masih tertutup, Pazel pun merengkuh tubuh Rani ke dalam dekapannya.
Muka Rani terbenam ke dalam dada Pazel. Pada saat itu dia terbangun. Tapi tubuhnya susah digerakkan karena di apit oleh kaki Pazel.
Dia menggigit dada Pazel sekuat tenaga hingga mulutnya di penuhi darah. Seketika Pazel berteriak dan memukul kepala Rani.
Rani meringis kesakitan. Tubuhnya sudah terlepas dari kungkungan kaki Pazel. Rani menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
Dia benar-benar emosi tapi juga ketakutan karena kepalanya dipukul dengan keras oleh Pazel. Dia sungguh tidak menyangka laki-laki yang dianggapnya lemah karena dari kalangan bawah yang tidak berkelas seperti dirinya akan berani menyentuhnya dan memukul kepalanya dengan keras.










