Home / Genre / Romansa / 31. Ancaman

31. Ancaman

SEBIRU LANGIT CASABLANCA - SATYA PADMA
This entry is part 32 of 32 in the series Sebiru Langit Casablanca

“Daniel, aku menunggumu di ruanganku,” kata Youssef saat pagi mereka bertemu, “ada sesuatu yang harus aku sampaikan padamu. Ini penting!”

Daniel menangkap ada gurat gelisah dari wajah Youssef. “Baiklah.”

Dia tidak banyak bertanya lagi. Keduanya memasuki kantor. Beberapa orang menyapa dengan ramah dan dibalas dengan senyum ramah pula oleh keduanya.

Youssef mempersilakan Daniel duduk saat berada di ruangannya. Mereka berhadapan. Tatapan mata Youssef sedikit tertunduk, tidak tahu dari mana harus memulainya.

“Apakah kau sedang ada masalah, Youssef? Wajahmu terlihat tidak seperti biasanya.”

Youssef menutup wajahnya dengan telapak tangan. Dia menggeleng. “Daniel. Ada seseorang yang mengancamku,” akhirnya dia berkata terus terang.

Mata Daniel terbelalak lebar. “Mengancam? Mengancam bagaimana?” Daniel mencondongkan tubuhnya lebih dekat kepada Youssef.

“Tentu saja ada pihak-pihak yang tidak suka jika aku berada di perusahaan ini.”

“Siapa?”

“Entahlah!”

“Apakah Marco?” terka Daniel, curiga.

“Kurasa tidak,” Youssef menepis dugaan Daniel, “kami sudah berbaikan dan menjadi saudara sesungguhnya.”

Daniel bangkit berdiri. Dia berjalan mendekat ke kaca transparan dan memandang keluar. “Kau berprasangka baik padanya setelah ia mengakuimu sebagai saudara?” Daniel bertanya tanpa menoleh.

“Aku mencoba menjauhi prasangka buruk, Daniel. Tidak hanya dengan Marco, tetapi juga semua orang,” sanggah Youssef.  Daniel paham jika sebenarnya Youssef memiliki hati yang sangat lembut. Di luar dia memang terlihat tegas dan tidak ramah, tetapi salah satu sisi dirinya ternyata menyimpan keindahan hati dan perasaan kepada sesama yang jarang dimiliki.

Empati yang tinggi.

Setelah dia tahu jika Youssef putra dari Leon d’Oro, Daniel makin dekat dengannya dan terus membersamainya.  Bukan karena apa, tetapi dia tahu siapa-siapa saja yang bermain baik dan buruk di sana.

“Kau terlalu baik, Youssef.  Sangat baik,”puji Daniel

“Ya. Untuk saat ini. Bukan saat dulu.”

Daniel mendekati sahabatnya.  Dia menguatkan Youssef. “Apapun yang terjadi, aku akan selalu bersamamu, kawan. Jangan khawatir. Aku akan mencari tahu siapa saja pihak-pihak yang ingin menghancurkanmu,” pungkas Daniel.

Youssef tersenyum.  Mereka melanjutkan pembicaraan mereka sehingga  menemukan ada beberapa poin penting untuk melindungi perusahaan dari pihak-pihak yang mengancam mereka.

Daniel meninggalkan Youssef.  Di luar dia menghubungi seseorang.

“Datanglah ke tempatku nanti. Ada yang harus kita bicarakan.”

“Baiklah. Aku siap.”

“Gracias.”

Youssef kembali fokus pada pekerjaannya selepas kepergian Daniel. Dia memikirkan ucapan Daniel tentang Marco. Tidak mungkin Marco begitu. Dia adalah saudaraku, dan kami sudah berbaikan. Tidak mungkin dia akan menghancurkanku karena ayah sudah memberikan kepercayaan sendiri-sendiri kepada kami.

Usai jam kerja dia berjalan-jalan untuk mencari udara segar.Casablanca  di senja hari begitu indah. Youssef melihat keindahan itu seperti halnya hidup yang kini tengah ia jalani. Langkahnya menuntun ke salah satu kafe yang tak jauh darinya berada. Beberapa langkah lagi ia akan sampai ke sana, tetapi pandangannya kini beralih ke arah lain.

Dilihatnya seorang wanita paruh baya seusia neneknya tengah berjalan membawa keranjang belanja yang cukup berat. Tanpa banyak kata Youssef segera mendekatinya dan membantu membawakannya.

“Di mana rumah Anda, Nyonya?” Youssef bertanya sambil menuntunnya pelan-pelan menyeberang jalan.

“Tidak jauh, Nak. Biarlah aku pulang sendiri. Kau tak perlu repot-repot,” jawabnya.

“Tidak apa-apa, Nyonya. Saya justru senang menemani Anda.”

“Terima kasih, anak muda. Apakah kau orang baru di sini?”

Youssef mengangguk. “Iya. Saya pendatang dari jauh.”

“Kau sangat baik. Aku yakin banyak orang yang menyayangimu.”

Youssef mengantarnya hingga ke rumahnya. Wanita itu mempersilakannya masuk, tetapi dia memilih pergi meninggalkan tempat itu. Langkahnya mantap menuju kafe yang sempat ia tunda tadi. Youssef tidak menyadari ada sepasang mata memperhatikannya. Ia tampak tenang dan memesan makanan dan minuman di sana.

“Bos, aku melihatnya ada di sini. Apakah aku harus bertindak sekarang?” orang itu berbicara melalui saluran telepon.

“Jangan gegabah. Awasi dulu pergerakannya. Kau harus menyelidiki siapa saja yang dekat dengannya. Jangan sampai lengah. Jangan bergerak terlalu cepat. Awasi semuanya dengan teliti terutama orang-orang terdekatnya.”

“Siap, Bos. Jangan lupakan hal satu itu.”

“Sudah kutransfer ke rekeningmu. Jangan khawatir. Kau dapat bonus berlipat ganda jika bisa menyingkirkannya.”

“Siap, Bos. Laksanakan!”

Orang itu menutup percakapannya. Dia masih saja mengawasi Youssef yang tampak tenang.

**

Youssef bersama Daniel menuju rumah sakit menjenguk salah seorang rekan mereka yang tengah sakit selama beberapa hari. Seorang pemuda tengah terbaring lemah tak berdaya dengan selang infus yang masih menancap di tangannya. Wajahnya pucat, tubuhnya kurus. Matanya cekung. Namun wajahnya terlihat ceria saat melihat Youssef dan Daniel datang. Kedua orang tuanya setia mendampingi.

“Terima kasih sudah menjenguk saya,  Tuan Youssef.  Saya tidak pernah menyangka jika Anda berkenan datang,” ucapnya lemah. Dia hendak duduk, tetapi dicegah oleh Daniel.

“Tidak perlu begitu, saudaraku. Keadaanmu masih sangat lemah. Beristirahatlah!” titah Youssef.  Pemuda itu tersenyum.  Ada rasa segan pada Youssef. 

Daniel mengajaknya berbicara, sedangkan Youssef berbicara dengan kedua orang tuanya agak menjauh.

“Untuk pengobatan putra Anda biar saya yang tanggung. Anda berdua tidak perlu risaukan itu. Kalian adalah keluarga saya yang harus saya lindungi.”

Kedua orang tua itu terharu mendengar ucapan Youssef. “Entah bagaimana kami harus membalas kebaikan Anda, Tuan Youssef.”

“Jangan panggil saya tuan. Saya seumuran putra Anda–mungkin lebih tua sedikit. Panggil saja Youssef.” Kata-katanya teduh, menenangkan.

“Baiklah. Kami panggil kau Nak Youssef saja.”

“Bagitu lebih baik. Saya lebih suka.”

Jam berkunjung telah habis. Youssef dan Daniel bergegas meninggalkan rumah sakit. Mereka berjalan menuju lobi di mana mobil mereka terparkir di sana. Tatapan mata Youssef membentur sesosok tubuh yang sangat dikenalnya.

“Karima,” teriak Youssef, memanggil.

Gadis itu menoleh. Karima berdiri di sana dengan senyum mengembang. “Youssef, sedang apa kau di sini?”

“Menjenguk teman. Dia dirawat di sini. Kau?”

“Aku pun mau mengunjungi kerabatku, Youssef.”

“Baiklah, Karima. Aku pergi dulu. Sampai nanti.”

“Sampai nanti, Youssef. “

Dua orang tampak memperhatikan mereka dari jarak yang cukup terlindung. Mengambil beberapa foto dari tempat tersembunyi.

“Sepertinya wanita itu dekat dengan Youssef.  Dia bisa kita jadikan alat supaya Youssef enyah dari perusahaan Leon selamanya,” bisik salah satunya.

“Hmm … kau yakin?”

“Ya. Aku yakin.”

“Selidiki dulu kedekatan mereka. Jangan gegabah! Jika tidak nyawamu jadi taruhannya.”

“Ok. Kita atur langkah selanjutnya.”

Mereka masuk ke sebuah mobil dan tetap memperhatikan Youssef, Daniel, dan Karima berada.Youssef dan Daniel meninggalkan rumah sakit. Sementara Karima masuk lift dan menuju salah satu lantai di rumah sakit itu. 

“Apakah kita akan menunggu sampai wanita itu keluar?”

“Kita berbagi tugas saja. Kau awasi dia, aku akan awasi Youssef.”

“Baiklah. Kita beraksi.”

Sebiru Langit Casablanca

0. L’amour de ma vie

Penulis

  • Satya Padma

    Satya Padma adalah penulis yang masih terus belajar. Salah satu karyannya yang sudah terbit adalah Sang Elang dari Mesir (SEDM)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 58

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 58

Tegar

Tegar

Menjadi Penulis: Menghindari Membuang Waktu Percuma

Menjadi Penulis: Menghindari Membuang Waktu Percuma

31. Ancaman

31. Ancaman

Terbangun Tengah Malam

Terbangun Tengah Malam

Antologi KompaK’O

Random image