“Terkadang apa yang menjadi milik kita, tidak akan selalu bersama kita.”
Hans begitu bersemangat dengan tujuannya. Dibantu sepupu dan beberapa temannya, dia menargetkan segera bisa menerbangkan helikopter mini yang kini hampir selesai dikerjakan. Siang malam dia bekerja tanpa mengenal lelah. Tabungannya pun dikuras demi memuaskan egonya. Ya. Hans sangat berambisi ingin menjadi salah satu tokoh teknologi terkenal. Apapun akan dilakukannya, termasuk meminjam gudang milik ayahnya sebagai tempat perakitan. Tidak tanggung-tanggung, biaya yang digelontorkan cukup besar. Untung saja, liburan kali ini jangka waktunya agak panjang. Sebelum nanti dia mengikuti pameran teknologi, setidaknya sudah harus memiliki satu karya nyata yang akan memberikan kejutan bagi semua.
Hari-hari berlalu, tanpa terasa sudah sebulan Hans bekerja membuat percobaan hasil rancangannya. Dan selesailah sudah. Hari itu, Hans memperlihatkan hasil karyanya kepada kedua orang tuanya, Karl dan Helga. Tidak hanya itu, beberapa teman, saudara, dan kerabatnya ikut senang dengan pencapaian Hans. Tidak pernah menyangka jika seorang pemuda dari keluarga petani pekerja keras sebentar lagi akan mengguncang tanah kelahirannya.
“Ayah, Ibu. Ini adalah karya pertamaku. Aku ingin mempersembahkannya untuk kalian sebagai orang terhormat. Tanpa dukungan Ayah dan Ibu, aku takkan bisa seperti ini.”
Karl dan Helga tersenyum. Mereka berkata, “Kami bangga padamu, Nak. Apa yang kau lakukan sungguh membanggakan kami semua. Kau nyatakan ilmumu dan prakteknya pada kami.”
“Putraku sangat membanggakan. Ibu yakin kelak namamu akan besar di negara ini,” ucap Helga dengan haru. Dia sangat bangga dengan pencapaian putranya itu. Tidak sia-sia selama ini perjuangannya dan juga Karl mendidik putra-putri mereka dengan kedisiplinan dalam hal pendidikan. Mereka telah memanen hasil yang sekarang sudah terlihat nyata.
“Aku ingin, Ayah dan Ibu menjadi orang pertama yang menaiki heli mini ini. Ini untuk kalian berdua. Orang tuaku yang hebat!”seru Hans, tersenyum puas.
Lagi-lagi, Karl dan Helga terharu. Mereka mengangguk, mengiyakan.
Dengan latar belakang di bidang otomotif, sudah tidak asing bagi Karl menjalankan beberapa helikopter mini yang dulu biasa digunakannya saat mengikuti patroli udara. Karl sudah piawai menerbangkannya, meski akhirnya dia beralih profesi menjadi seorang petani biasa karena amanat mendiang ayahnya untuk mengelola tanah pertanian mereka yang luas. Meski Karl tidak turun langsung, dia memiliki beberapa pekerja. Sesekali dia mengecek usaha pertaniannya.
Dengan pengelolaan yang baik, Karl pernah dinobatkan sebagai salah satu petani produksi paling kreatif secara nasional. Hal itu pula yang dicontoh Hans. Berulang kali kegagalan demi kegagalan tidak menyurutkan langkahnya. Dari kegagalan itulah, dia terus memperbaiki diri.
Karl menerimanya. Dia dan Helga sudah berada di dalam heli mini karya putra mereka. Suatu kebanggaan bersama usaha dan kerja keras yang dilakukan Hans selama ini. Dengan sigap, Karl menjalankan heli mini itu dengan pasti. Karl bangga bisa menerbangkannya. Baginya, bukan hal baru lagi. Mengingat, Karl sering kali bertugas dengan menaiki helikopter ketika masih bekerja di tempat terdahulu sebelum berhenti. Bersama Helga dia bisa melihat orang-orang di bawah sana bersorak-sorai ketika heli mini itu meninggalkan landasan pacu.
“Helga, ini sungguh luar biasa! Putra kita benar-benar luar biasa. Aku sangat bahagia dengannya, Helga.” Tatapan mata Karl begitu berarti pada istrinya.
“Tentu saja, Karl. Dia pemuda yang sangat cerdas. Aku yakin kelak Hans akan mampu menjadi ahli di negara ini. Ahli yang bukan saja ahli, tapi gurunya ahli.”
“Itulah harapan kita. Dia memang selalu begitu. Semangatnya tinggi menggapai sesuatu. Tidak kenal lelah, dan ambisius.”
Karl dan Helga terus berputar-putar dengan heli mini itu. Baginya, ini suatu kebanggaan. Jauh di sana, Hans, Müller, dan beberapa orang tengah berbahagia dengan keberhasilan mereka. Dia sangat yakin, keberhasilannya kali ini dinantikan oleh banyak pihak. Rasa bangga diri kini menyelimuti hati Hans. Entah apa namanya, yang jelas semua usahanya seperti sudah membuahkan hasil. Di benaknya, Hans sudah mempersiapkan ide terbaru.
“Lihatlah, Müller! Percobaan pertama ini semoga saja kita berhasil. Aku yakin, semua usaha kita takkan sia-sia.” Hans sangat bangga.
Karl dan Helga telah beberapa kali berputar dengan heli. Mereka merasa puas. Saatnya mereka akan segera turun dan melakukan pendaratan. Dengan hati-hati, Karl mencoba turun, melintasi perbukitan dan juga lembah menuju tempat semula. Tetapi naas. Ketika hampir mendarat, heli itu tanpa sengaja kehilangan keseimbangan dan menabrak sisi bukit. Salah satu sisinya terbakar. Karl dan Helga panik. Hans dan semua yang melihat kejadian itu juga panik. Hans berlari-lari menuju arah bukit bersama yang lain.
“Karl …!” teriak Helga keras-keras, “kita akan jatuh. Kita akan mati, Karl!”
“Berpeganglah, Helga! Kita harus keluar dari sini …!” Karl mencoba melepaskan diri dan ingin segera melompat. Dilihatnya Helga sedang berusaha keluar. Heli mini itu kian kehilangan kendali.
“Karl …!” Helga berteriak kencang. Tangannya berusaha menggapai tangan suaminya.
“Helga …!”
Duaarrrr!!
Heli mini itu jatuh dan meledak. Hans yang melihatnya lemas seketika.
“Ayah … Ibu …,” Hans berlari dengan air mata tak tertahan melihat hasil rancangannya hancur berkeping-keping. Seiring dengan itu, dia melihat tubuh kedua orang tuanya terbakar. Hans menjadi shock. Begitu juga dengan yang lain. Hans berlari menuju arah mereka. Hatinya sangat hancur. Semuanya hancur.
“Ayah … Ibu … Tidakkkkkkk!” Hans menangis sejadi-jadinya. Melihat kedua orang tuanya telah tiada bersama hasil rancangannya. Hans menangis sejadi-jadinya. Begitu juga dengan Müller. Melihat kematian paman dan bibinya yang sangat tragis. Tubuh Hans lemas, tak sadarkan diri.
Pihak berwenang segera datang dan membantu menangani mereka. Beberapa orang di sekitar tempat itu pun membantu mengevakuasi jasad Karl dan Helga. Hans masih tak sadarkan diri. Müller tidak bisa berkata apa-apa. Hatinya sangat sedih dan terluka. Tidak tega melihat keadaan paman dan bibinya serta Hans.
Jasad Karl dan Helga segera dibawa ke mobil ambulans untuk dibawa ke rumah sakit. Liona tak kalah histeris melihat jasad ayah dan ibunya sudah terbujur kaku dengan kondisi sangat mengenaskan. Liona tak sadarkan diri.
Müller dan orang tuanya masih berjaga-jaga di rumah sakit. Dietrich, ibu Müller tidak henti-hentinya menangis. Melihat kakaknya, Karl, meninggal dengan cara mengenaskan.
“Aku tak pernah menyangka jika Karl dan Helga akan mengalami nasib tragis seperti ini. Kasihan sekali Hans dan Liona. Mereka sudah tidak memiliki orang tua lagi,”ucap Dietrich terisak dalam pelukan Arthur, suaminya.
Arthur, ayah Müller, hanya bisa terdiam dan tertunduk sedih. Karl telah tiada. Saudaranya itu pergi dengan keadaan sangat mengenaskan. Mereka bertangisan. Dietrich tidak tega melihat wajah Liona yang sangat pucat, begitu juga dengan Hans.
Hans sudah sadar dan menatap sekeliling ruangan dengan nanar. Dia teringat dengan kedua orang tuanya. Hans berteriak histeris hingga membuat orang-orang terkejut dan panik.
“Ayah … Ibu … Aku sudah jadi pembunuh! Aku jadi pembunuh! Aarrrghhh …,” Hans berteriak menjadi-jadi. Dia tidak menyangka jika kedua orang tuanya akan pergi selamanya karena ulahnya. Hans mengamuk. Dua orang perawat datang dan memberikan suntikan penenang kepadanya. Hans terkulai lemah. Dia sangat sakit, terluka, tetapi juga dia memiliki dosa besar yang akan terus diingat sepanjang hidupnya.
Ambisi berlebihnya, telah mengantarkan kedua orang tuanya menuju alam baka. Tanpa nyana.
Hans merasa hampa. Pikirannya entah ke mana.










