Home / Topik / Wisata / 11. Tersamber Cinta di Situs Samberan

11. Tersamber Cinta di Situs Samberan

Ananta Kama 1600x900
This entry is part 12 of 33 in the series Ananta Kama

Diam-diam aku memperhatikan Ayesha dan Zack, keduanya terlihat langsung akrab. Meski usia mereka terpaut jauh, tapi sikap Ayesha yang kadang manja kadang dewasa bisa mengimbangi Zack yang hampir seumurku. Keduanya juga memiliki minat yang sama.

Dari obrolan yang kudengar secara kebetulan, Ayesha adalah keponakan jauh Bhaskoro. Ayahnya Ayesha yang merupakan sepupu Bhaskoro menikah dengan wanita berdarah campuran Belanda dan Malaysia. Namun, Ayesha lahir dan besar di Giethoorn, sebuah desa kecil di Belanda yang terkenal tanpa jalan raya dan dijuluki “Venesia dari Belanda”, karena kanal dan rumah tradisional di sana beratap jerami.

Mungkin hal juga itu yang cepat membuat mereka akrab, karena memiliki satu bahasa ibu. Aku melanjutkan penjelasan tentang situs situs Samberan yang juga bercorak Hindu seperti halnya situs Brongsongan. Hal ini bisa dilihat dari temuan beberapa Yoni yang berada di lokasi candi. Oleh sebab itu, kedua situs disebut sebagai peninggalan dinasti Sanjaya.

Temuan situs yang merambah pedesaan di wilayah kecamatan Tempuran dan Borobudur,  sekaligus menunjukkan pengaruh yang kuat kekuasaan dinasti Sanjaya di wilayah Magelang.

“Situs Samberan dan Brongsongan masih banyak menyisakan misteri. Karena tidak ditemukannya sumber tertulis yang dapat membantu membuka misteri keberadaannya. Atau mungkin … belum,” ulasku.

“Berdasar narasi Balai Konservasi Borobudur, pada situs Samberan hanya ditemukan beberapa Yoni dan Umpak. Sedangkan di situs Brongsongan ditemukan lima arca dan dua yoni.” imbuhku.

“Hmmm … situs Brongsongan? Apakah dia berada dekat dari sini?” tanya Ayesha.

“Ya, kemarin kami sudah mengunjungi situs Brongsongan,” jawab Zack mewakiliku. Aku mengiyakan dengan anggukan.

“Yah, sayang sekali aku telat,” keluh Ayesha sedikit kecewa.

“Ik kan je een andere keer meenemen,” jawab Zack sambil tertawa, ada nada menggoda dalam kalimatnya. Aku hanya mengedikkan bahu … bukan menjadi urusanku.

“Uhmmm … tadi Mbak Tantri bilang situs Samberan terdapat beberapa misteri yang perlu dijawab?” tanya Ayesha.

“Benar, beberapa misteri tersebut antara lain, siapa raja yang memerintah saat situs Samberan dan Brongsongan dibuat? Keduanya tidak memiliki bukti tertulis, tapi pada situs Plandi ditemukan reruntuhan batu candi yang juga terbuat dari batu merah. Selain itu juga ditemukan yoni besar bercerat.”

“Situs Plandi? Kalian sudah mengunjungi juga?” sela Ayesha. Zack mengangguk sambil nyengir. Ayesha mencebik kesal, merasa tertinggal banyak hal.

“Kenapa Mas Bhaskoro nggak ngajakin ketemu Mbak Tantri, sih? Coba kalau dari kemarin ketemu Mbak Tantri, pasti aku udah dapat banyak.”

“Mungkin memang jodohnya baru hari ini,” ujarku menghibur.

“Jadi tertinggal banyak, kan?” dengusnya kesal.

“Zack mencatat semua, dia juga punya photo-photonya, Kamu bisa minta dia,” saranku.

“Beneran?” tanya Ayesha meyakinkan

“Met plezier, wat je maar wilt,” jawab Zack dengan kerling menggoda. Duh, bule satu ini kayaknya buaya juga … aku menggeleng kepala.

“Ok, kita lanjutkan. Sampai di mana tadi?” tanyaku mengalihkan.

“Kondisi situs …? Atau tentang situs Plandi?” Ayesha bertanya sambil menatap Zack.

“Oh, ya. Berdasar kondisi yang ada, situs Samberan dan Brongsongan termasuk candi Wanua atau desa. Selain kecil, juga lokasinya berada di wilayah pedesaan. Maka kehadiran situs tersebut bisa jadi sebagai tempat pemujaan warga wanua. Dari fakta tersebut disimpulkan kemungkinannya penerus Sanjaya ingin menguasai wilayah pedesaan sebagai basis kekuasaanya. Tapi  hal ini tentu memerlukan langkah kajian lebih mendalam,” ulasku melanjutkan. Zack dan Ayesha menyimak ulasanku dengan serius, sesekali mengangguk-angguk, tapi Ayesha lebih aktif bertanya dan menyela.

“Penerus Sanjaya masa Kayuwangi memang mempunyai peran yang besar secara politik di wilayah Magelang. Banyak candi-candi yang dibuat pada masa pemerintahannya menunjukkan besarnya pengaruh kekuasaannya di Magelang yang peninggalannya berada di wilayah pedesaan,” lanjutku.

“Bisa beri contoh?” pinta Ayesha.

“Contohnya Candi Pendem, Asu, Lumbung, Candiretno, candi Umbul dan masih banyak lagi jejak portofolio kekuasaanya.”

“Apakah kita akan mengunjungi candi-candi yang Mbak Tantri sebut tadi?” tanya Ayesha.

“Tentu saja, jika waktu dan situasinya memungkinkan,” jawabku. Ayesha berbinar, penuh rasa penasaran.

“Dari segi bahan, bahan yang sama juga ditemukan pada situs Plandi. Namun, pada situs Plandi, struktur candi yang terbuat batu bata masih belum dilakukan ekskavasi. Dengan kata lain masih terpendam di dalam tanah, walaupun pernah dilakukan langkah awal untuk diteliti. Hanya saja pada situs Plandi, terdapat prasasti yang berangka tahun 856 M. Pada periode tersebut kekuasaan dinasti Sanjaya berada dalam kekuasaan raja Kayuwangi.” Aku menyudahi penjelasanku

Zack mengamati kondisi candi.  Baik situs Samberan maupun situs Brongsongan berbahan baku batu bata. Namun, beberapa komponen candi tertentu tetap berbahan batu andesit. Arca maupun yoni juga masih terbuat dari batu andesit.

“Mengapa candi dibuat dengan batu bata?” tanya Zack penasaran.

“Digunakannya batu bata sebagai bahan bangunan candi, merupakan salah satu wujud kearifan lokal masyarakat. Kondisi demikian kelak dilanjutkan di periode candi-candi di Jawa Timur. Di sana banyak ditemukan candi yang terbuat dari batu bata. Misal candi Tikus, Brahu, Bajangratu, Namun, di wilayah Sumatra candi-candi juga dibuat dari batu bata. Sehingga masih dibutuhkan kajian yang lebih mendalam, benarkah batu bata sebagai bahan candi dimulai oleh raja Kayuwangi?”

“Interessant,” komen Zack berdecak.

“Menarik, hal tersebut menunjukkan bahwa masyarakat saat itu sudah mampu mengenal cara mencetak, membakar dan memilih jenis tanah yang cocok untuk dibuat batu bata,” imbuhku

“Tapi situs ini sepertinya belum dilakukan revitalisasi secara utuh.” Zack mengemukakan pendapat.

“Benar, menurut Badan Perlindungan Balai Konservasi Borobudur, revitalisasi paling menarik pada situs Samberan adalah sudah terbentuk wujud candi, dan masih akan dilakukan penggalian situs untuk membuka seluruh struktur bangunan. Setelah tampak struktur candinya, tentu akan memperkuat narasi situs Samberan sebagai bukti semangat  toleransi beragama di wilayah Magelang yang bisa dilihat dari keberadaan Borobudur sebagai candi Buddha, tetapi di sekelilingnya banyak candi Hindu.”

Kami mengakhiri kunjungan di situs Samberan saat matahari mulai meninggi. Zack menatap dataran hijau dengan takjub. Pelahan tangannya mencoret buku di buku catatannya terlihat fokus, hingga beberapa saat kemudian dia menyerahkan buku itu pada Ayesha. Gadis itu menatap ragu, tapi segera membacanya.

Deretan perbukitan Manoreh dengan kabut pagi yang turun perlahan seperti doa yang dijatuhkan dari langit, berdiri dua jejak kemegahan masa lampau,  candi-candi Hindu dan candi-candi Buddha yang saling berdekatan. Tidak ada tembok pemisah, hanya hamparan bukit dan sawah yang seolah menjadi saksi betapa perbedaan pernah dirayakan sebagai kekayaan.

Para leluhur membangun tempat suci itu bukan untuk saling menantang, tetapi untuk saling menguatkan. Di satu sisi, pahatan kisah Shiwa terukir dengan anggun, berkisah tentang pengabdian, keberanian, dan kesetiaan. Di sisi lain, relief kehidupan Buddha mengalun lembut, berkisah tentang welas asih, kebijaksanaan, dan pembebasan diri. Dua ajaran, dua jalan, tetapi satu getaran: cinta kasih terhadap sesama dan alam.

Masyarakat masa itu hidup berdampingan, menyapa pagi yang sama, mengelola tanah yang sama, merayakan upacara yang berbeda tanpa rasa saling curiga. Mereka tahu bahwa keyakinan bukanlah tembok, melainkan  jembatan menuju pengertian. Dan keberadaan kedua candi itu Hindu dan Buddha, yang berdiri hanya beberapa langkah dari satu sama lain, menjadi bukti bahwa harmoni bukan sekadar kemungkinan, melainkan kenyataan yang pernah mereka wujudkan.

Kini siapa pun yang melangkah di antara batu-batu candi dan arca,  dapat merasakan pesan, bahwa cinta kasih selalu lebih kuat daripada perbedaan, dan toleransi yang pernah tumbuh di tanah ini dengan akar yang dalam, meninggalkan jejak yang tak lekang oleh waktu. Semoga cinta yang tumbuh saat pertama melihatmu, juga tumbuh sempurna menyatukan hatiku dan hatimu.

Ayesha membaca coretan itu keras-keras sehingga aku pun mendengarnya. Wajahnya merona malu, tapi kulihat bibar matanya menyiratkan rasa yang sama dengan penulisnya.

Ananta Kama

0. Jejak yang Tak Pernah Selesai 2. Candi Selogriya, Keindahan Tersembunyi di Lereng Bukit

Penulis

  • Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi.

    Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi. Penulis Historical Fiction, Travel love, dan Misteri. Untuk mengenal lebih jauh ikuti FB : tari abdullahdua

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image