Juli, 2025
Setelah Palestina tak memiliki rupa, dan ribuan korban syahid dalam serangan kejam zionis, aku melihat kabar, bahwa dunia menggelar sebuah gerakan, yaitu Global Sumud Flotilla. Gerakan ini berfokus pada pengiriman bantuan kemanusiaan, dan mendobrak blokade Gaza. Gerakan itu, diinisiasi oleh Thiago Avila dari Brazil. Tak hanya Thiago Avila, nama-nama tokoh masyarakat lainnya pun turut serta, seperti Greta Thunberg, Nadir Al-Nuri, Muhammad Husein Gaza, Muhammad Fatur Rahman, Rezamaisalamah, Susan Sarandon, Gustaf Skarsgard, Liam Cunningham, dan Mandla Mandela, dengan nama gerakannya, Global Sumud Flotilla (GSF).
Kampanye itu berhasil menggalang kekuatan kapal berjumlah 50 buah, 15.000 peserta dari 44 negara, dan diantaranya ada Indonesia yang turut serta. Aku menduga, bahwa gerakan ini menjadi satu diantara konvoi maritim masyarakat sipil terbesar dalam sejarah. Namun, dengan kondisi Palestina yang sedemikian rupa, aku pun tertegun, karena hal ini menandakan kita sudah berada di akhir zaman.
“Di zaman ini, perjuangan untuk sebuah harga keadilan bagi Palestina begitu mahal—terlebih, mereka sudah bertahun-tahun lamanya mengalami penjajahan.” Aku bergumam pilu.
Agustus-September, 2025
Mereka menjadwalkan waktu pemberangkatan dimulai pada akhir bulan Agustus dengan cara bertahap. Sementara Indonesia yang tergabung dengan Sumud Flotilla Nusantara, berangkat pada tanggal 23 Agustus 2025, bersama negara-negara Asia Tenggara lainnya. Dengan tekad yang kuat demi sebuah keadilan bagi Palestina, mereka berkumpul, untuk mendobrak blokade Gaza. Perjalanan mereka bukan tanpa bahaya, justru mereka pergi kesana untuk melawan bahaya yang sangat tinggi. Sebab, sudah kita ketahui bersama, peralatan senjata para zionis bisa dikatakan canggih, karena dapat pasokan dari negeri Paman Sam.
Greta Thunberg yang ikut pada rombongan Spanyol mengalami gangguan teknis saat hendak berangkat. Dari cuaca buruk, mesin yang bermasalah, hingga ada drone yang tidak diketahui dari negara mana mengikuti kapal mereka, membuat perjalanan menuju Palestina sedikit terhambat. Sehingga, pemberangkatan dari Barcelona berhenti di Minorca dan Mallorca pada tanggal 3 September. Beruntung, komite GSF Thiago Avila mengumumkan dari Kapal Alma, bahwa konvoi Spanyol akan berangkat pada tanggal 5 September dengan dibagi 2 kelompok.
Italia menentukan jadwal keberangkatan mereka yaitu pada tanggal 30 Agustus yang dimulai dari Genoa. Pelayaran Italia tanpa ada kendala yang berarti. Kapal-kapal mereka yang terdiri hampir 30 kapal, berhenti di pelabuhan Siracusa pada tanggal 3 September. Sebelumnya mereka mampir ke Catania untuk bertemu dengan organisasi Emergency yang sudah mempersiapkan timnya untuk dikirim dengan membawa obat-obatan. Di pelabuhan Siracusa, rombongan Italia menunggu arahan dari Thiago Avila.
Tunisia pun berangkat pada tanggal 3 September. Konvoi pertama mereka di pelabuhan selatan Djerba dan Zarzis, lalu berkumpul di pelabuhan Tunis. Setelah itu, mereka menunggu Maghreb Flotilla yang berasal dari Aljazair. Pada saat itu, ada kejadian menarik yaitu Kapal Familia da Madeira dan Alma dari Spanyol/Portugal terjadi ledakan api. Banyak aktivis dari GSF yang percaya bahwa itu adalah serangan bom api oleh drone untuk melumpuhkan mereka dan membunuh Thiago Avila yang berada di dalam dek.
Akan tetapi, pemerintah Tunisia mengatakan jika pernyataan dari GSF itu terlalu mengada-ada. Pihak Tunisia mengatakan jika kobaran api tersebut berasal dari puntung rokok peserta GSF itu sendiri. Sementara aktivis Mesir tidak mendapatkan izin untuk berlayar, malah justru ditangkap oleh Kepolisian Mesir.
30 September 2025
Armada Italia dan armada Spanyol yang mengawal Sumud Flotilla menarik diri, setelah sampai di Laut Internasional pada jarak 150 mil nautika. Maka, kapal-kapal Sumud Flotilla tanpa pengawalan. Meski demikian, mereka memutuskan untuk mendobrak blokade Israel. Namun, Kapal Alma, Kapal Sirius, dan kapal-kapal lainnya dihalau oleh angkatan laut Israel di Perairan Internasional dekat dengan wilayah Mesir.
Pada titik ini, aku melakukan jeda terlebih dahulu. Ada pertanyaan-pertanyaan yang membuatku berpikir sedikit dalam.
“Apakah tekad mereka kurang kuat? Atau kurangnya kekompakan karena dalam jumlah yang besar? Atau bahkan, apakah ada penyusup disana?” Aku bertanya dalam hati sambil mencari jawaban sendiri.
Di tengah pertanyaan-pertanyaan itu, aku melanjutkan kembali perkembangan jalur mediterania. Kapal Mikeno yang berada paling depan mempercepat lajunya. Muhammad Küçüktigin selaku nakhoda dari Turki mematikan alat komunikasi dan mengarahkan kapalnya ke tepian. Namun, Kapal Mikeno pun dicegat oleh Kapal Perang Israel, dan melakukan penangkapan. Hingga pada akhirnya—setelah kapal satu-satunya berhasil masuk perairan Palestina, terdengar berita dari pemerintah Israel, bahwa seluruh kapal GSF tak dapat menembus blokade yang dibuat oleh zionis.
Jika benar apa yang diklaim oleh pemerintah Israel, aku menduga ada yang tidak beres pada aksi kemanusiaan yang digalang oleh Thiago Avila. Karena, kapal dan relawan sebanyak itu tak ada yang mampu menembus blokade. Padahal aku berekspektasi, kapal-kapal yang berangkat kesana dapat membantu Palestina setidaknya lebih dari 30%.
Kabar dari Tokoh Masyarakat Indonesia
Ada satu nama yang aku lewatkan pada aksi kemanusiaan ini. Ia berangkat dari negeri ini dengan niat yang tulus untuk membantu Palestina. Ia adalah, Wanda Hamidah. Tak sedikit pun gentar pada bahaya—kemungkinan ia tahu sedang menunggu di depannya. Akan tetapi, ia meneguhkan hatinya untuk tetap berangkat—bergabung dengan Sumud Flotilla Nusantara, demi menjalankan satu misi mulia, yaitu kemanusiaan.
Di Porto Fallo, Sicilia, Italia, Wanda Hamidah mengalami problema yang cukup serius. Ia dan relawan lainnya mendapatkan intimidasi dari warga lokal—yaitu hendak diambil paksa kapal-kapal mereka.
Namun, entah sekeras apa perjuangan mereka—pada akhirnya ada yang dapat mendobrak blokade Gaza, dan Wanda Hamidah adalah satu-satunya Warga Negara Indonesia yang mendapatkan kehormatan itu.
Mendengar kabar itu, rasa haru membuncah—sebab dengan segala aral yang melintang, cobaan yang sekeras batu karang, dan dinamika drama di tengah samudra, perjuangan yang gigih tentunya akan berbuah hasil. Keteguhan hati Wanda Hamidah dan relawan lainnya mematahkan pernyataan pemerintah Israel yang mengklaim tak ada satu kapal pun yang dapat menembus blokade yang mereka buat—meskipun kita belum menjadi pemenang dalam pembebasan Palestina.
Tangerang, 17 Desember 2025











