Tanggal 23 Februari, gereja tempat penulis berbakti berulang tahun. Gereja bukan hanya sebuah gedung/ bangunannya saja, apalagi hanya sekadar ‘harus’ besar atau indah. Benar, semakin besar atau lengkap maka akan semakin banyak juga mampu menampung jemaat atau memfasilitasi jemaat yang terus bertumbuh. Namun sebuah gereja juga harus menjadi…
- Wadah pertumbuhan secara rohani. Ibarat sebuah pot atau kebun bertanah subur, gereja adalah wadah/lahan bagi setiap jemaat bertumbuh. Wadah yang dibutuhkan agar jemaat dapat tumbuh dengan baik bukan ibarat sebuah pot mahal/besar atau kebun luas belaka, melainkan memiliki ‘zat hara’ seimbang, ‘disiram air sejuk’ dari tegur-sapa dan khotbah para penyampai Firman Tuhan, ‘disinari’ cahaya mentari/terang kebenaran Tuhan sehingga selesai ibadah/persekutuan, jemaat pulang tidak sama seperti ketika datang. Sesuatu terjadi dalam hidup, di balik layar kesulitan, Tuhan sedang mengadakan perubahan besar mengambil alih segala beban dan masalahmu.
Tumbuh hingga berbuahnya Orang-orang Percaya adalah sebuah proses. Tidak instan matang ala-ala buah hasil karbit/peram. Tidak langsung dapat cuan atau berkat ibarat hujan duit dari langit. Sakitmu tidak langsung sembuh seperti dalam iklan obat di TV. Perubahan mungkin sangat lambat bahkan tak terasa dan tak terlihat, namun berangsur-angsur, ada dan nyata. - ‘Tempat kita mencari Tuhan’, bukan hanya sekadar mencari-cari tanpa menemukan, melainkan bertemu dengan Tuhan. Bertemu Tuhan tidak berarti seperti dalam kisah fiksi Aladin bertemu blue genie alias jin biru. Banyak orang ingin mengenal Tuhan/rindu berjumpa dengan Tuhan namun kecewa karena Tuhan seperti ‘gak’ ada di gereja. Akibatnya mereka malas datang ke gereja lagi bahkan ‘mencari Tuhan’ di tempat lain. Cara bertemu dengan Tuhan gak seperti ketemu hantu, seperti kisah dalam Injil tentang Petrus yang terkejut melihat Tuhan Yesus berjalan di atas air saat terjadi badai di Danau Galilea. Gereja hendaklah mencerminkan kasih Tuhan. Contohnya, begitu masuk ruang kebaktian, terbersit rasa hangat dalam seperti hendak berkencan untuk pertama kali dengan gebetan. Tuhan hadir dalam setiap doamu, Dia tak terlihat mata namun Dia mendengar syafaatmu. Meskipun di rumah juga bisa berdoa, ruang gereja atau ibadah persekutuan lainnya ibarat sebuah ruang orkestra; semua instrumen / alat musik berbunyi atau beresonansi bersama-sama. Betapa luar biasa indahnya, apalagi efeknya!
- Persekutuan tubuh Kristus. Ada bermacam-macam anggota/organ tubuh dalam setiap makhluk hidup. Ada yang sangat penting, gak ada ‘dia’ ya bisa-bisa jadi benda mati. Tapi etapi, jika seluruh anggota tubuh adalah jantung, atau otak, apa jadinya? Jantung dan otak memang wajib ada, akan tetapi begitu pula darah, jaringan saraf, otot, tulang, dan lain-lain. Semua dibutuhkan dan semua penting. Barangkali gak terasa, gak barengan kolab, gak ngefek banget pas gak dibutuhkan. Tetap saja, tubuh gak mungkin dilepas-rakit setiap dibutuhkan saja. Saling membantu, support, lakukan apa saja sebisanya sesuai talenta, waktu yang ada serta kemampuan (dukungan tenaga, finansial, dan lain-lain).
- Last but not least, gereja takkan dapat berfungsi sebagai Rumah Tuhan apabila hanya mementingkan kuantitas (besarnya gedung, jumlah jemaat), keviralan (sukses menyelenggarakan acara-acara besar yang jadi buah bibir), menonjolkan nama serta kepemimpinan para pelayan Tuhan. Jauh lebih baik membangun iman secara personal dan keluarga (dari dalam) terlebih dahulu. Pertumbuhan rohani masing-masing kita, pengalaman mulai dari awal/nol bersama Tuhan, bagaimana Dia mengubahkan kita, itulah hal-hal terpenting yang menjadikan gereja sebuah rumah yang indah, membuat betah, menjadi berkat bagi jemaat, sesama anak-anak Tuhan, bahkan sesama umat manusia.
Semoga bermanfaat dan Tuhan Yesus memberkati.
Tangerang, 23 Februari 2026











