Catatan: Seperti tulisan saya yang lain, opini tips penulis dan pembaca Kristen ini juga bisa dibaca dan direnungkan oleh semua kalangan bijaksana yang berkenan singgah membacanya. Semoga bermanfaat.
Karena bidang sampingan sekaligus hobi-talenta saya adalah tulis-menulis, maka opini kali ini lebih terfokus pada menulis. Terpanggil untuk menulis? “Ah, saya gak bisa, saya belum mampu, saya ‘kan masih muda.” Demikianlah kira-kira Yeremia (sewaktu awal panggilannya sebagai nabi) menjawab panggilan Tuhan seperti dituturkan dalam Perjanjian Lama. Dalam kalimat lain, nanti ajalah, tunggu saya udah dewasa dulu, tunggu saya lulus sekolah/kuliah dulu, nanti saya mau melayani Tuhan. Selain Yeremia, mulai dari Musa, Samuel, Timotius dan juga masih banyak tokoh lagi dalam Alkitab mendapat panggilan Tuhan untuk bernubuat/melayani dari masa muda. Pada awalnya mereka ragu, ingin menolak atau segan. Benaran gak ‘sih? Atau, ‘kan ada kakak saya, kok gak dia aja ‘sih?
Demikian pula halnya di masa kini. Banyak kita seringkali melakukan atau mengatakan hal yang sama apabila ingin menulis untuk Tuhan. Sudah ada talenta literasi kepenulisan alias kemampuan/kelebihan dalam hal baca-tulis di tangan, berkat kasih karunia Tuhan yang istimewa. Bisa saja talentanya sami mawon, sejenis dengan teman-rekan sekitar, baik di dunia maya atau dunia nyata. Misalnya sama-sama berbakat menulis namun lain topik/tema/genrenya, lain bidang yang dikuasai, bisa nulis fiksi dan atau juga nonfiksi.
Tidak bisa (mampu) dengan tidak mau adalah dua hal yang sangat berbeda. Untuk berkata saya tidak bisa/tidak mampu barangkali berat untuk sebagian orang. Segan, nanti dianggap gak punya kemampuan. Untuk menutupinya seringkali kita menolak atau berkata gak mau ah, nanti dulu aja, skip karena saya masih muda, saya takut, saya khawatir. Apalagi ada saingannya, chatGPT atau AI lainnya!
Inilah beberapa hal yang bisa kita renungkan.
- Tidak mau menggunakan talenta, bukankah itu sama saja dengan menyia-nyiakan senjata andalan yang ada dalam tangan kita? Senjata yang ada di tangan orang lain malah ibarat rumput yang lebih hijau di halaman tetangga. Dia hebat ya, bisa dapat sekian juta Rupiah sebulan. Dia beruntung banget, instan viral, laris manis, karyanya best seller, udah dikenal di mana-mana. Akibat terlalu fokus pada senjata orang lain, kita seringkali enggan menggunakan talenta sendiri. Padahal belum tentu selamanya nasib orang lain akan selalu lebih beruntung daripada kita.
Seperti Imam Eli dalam kisah Samuel yang memiliki dua anak laki-laki, Hofni dan Pinehas, sebagai calon-calon penerusnya. Imam Eli barangkali dianggap beruntung, putra-putranya sudah dewasa dan siap jadi penerus, comfort zone, udah secure. Akan tetapi sayang, mereka hidup jauh dari Tuhan sehingga nasib malang malah menghampiri. Malah Samuel yang masih kecil dipanggil menjadi hamba-Nya.
Kita yang masih kecil atau noob, baru, hanya remahan rengginang (bahasa gaulnya), barangkali merasa insecure karena banyak penulis yang lebih pro. Akan tetapi tetaplah menulis sebisa dan semampu kita, jangan menyerah! Bukankah segala sesuatu yang sekarang besar juga pasti pernah kecil? - Talenta apa saja harus bertumbuh/diasah, tidak dapat langsung besar/hebat dalam sekejap. Ya, punya modal awal atau start baik belum tentu berarti semua bisa sukses, instan cuan dan sebagainya. Demikian pula halnya dengan menulis. Menulislah yang mudah dahulu bagimu, bukan langsung mau yang sulit-sulit tapi dirasa lebih menguntungkan. Ibarat mendaki gunung, sebelum menaklukkan Mount Everest, cobalah dulu mendaki Gunung Gede-Pangrango. Jangan karena gengsi, udah punya uang tunai lantas langsung bayar sekian puluh juta Rupiah demi bisa mendaki gunung-gunung tertinggi di dunia. Dengan pengalaman mendaki gunung yang mudah-mudah saja terlebih dahulu, tentu kelak puncak-puncak gunung yang semakin sulit akan lebih mudah ditaklukkan.
- Ketidakmauan berkarya sama saja dengan membiarkan pensil tetap tumpul. Bukan orang-orang lain yang akan rugi, melainkan si pemilik talenta sendiri. Jika punya waktu luang, daripada hanya ngobrol atau gabut saja, mulailah menulis beberapa kata. Nanti atau besok, lanjutkan tulisan Anda. Rugi juga bukan hanya melulu masalah keuangan. Rugi karena hilang kesempatan yang takkan pernah terulang lagi, sesungguhnya jauh lebih besar daripada rugi karena uang.
Kesimpulan: Tidak mau dan tidak mampu adalah hal berbeda. Merasa tidak mampu kemudian mau mencoba jauh lebih baik daripada tidak pernah mau. Asahlah talenta Anda, lawan rasa tak mau itu. Jangan biarkan pensilmu tumpul.
Semoga bermanfaat dan Tuhan memberkati.
Tangerang, 29 Januari 2026









