Beranda / Non Fiksi / Esai / Menjadi Penulis: Beri Waktu

Menjadi Penulis: Beri Waktu

Menjadi Penulis 20260919

Sebagai penulis, kita sering diberi nasihat untuk memberi waktu kepada sebuah naskah. Selesaikan dulu, kerjakan sedikit lagi, lalu simpan dan tinggalkan begitu saja selama beberapa minggu atau bahkan beberapa bulan. Jangan menyentuhnya. Jangan memikirkannya.

Ketika akhirnya kita kembali, rasanya seperti mukjizat.

Kita tidak lagi merasa jenuh, lelah, atau muak melihat halaman yang sama berulang-ulang. Semangat kita kembali. Mata kita terasa lebih segar. Dan tiba-tiba, kita mulai menemukan berbagai kekurangan: cacat kecil, kalimat yang terasa janggal, pemilihan kata yang kurang tepat. Segudang masalah yang untuk sesaat, membuat kita bertanya-tanya, Sebenarnya waktu itu apa sih, yang aku pikirin?

Ini nasihat yang sangat bagus. Bahkan, terkadang aku merasa bahwa inilah salah satu nasihat terbaik yang bisa diberikan kepada seorang penulis. Waktu dan sudut pandang yang segar benar-benar bisa melakukan keajaiban pada sebuah naskah.

Tapi, kalau kamu seperti aku, melakukan hal ini ternyata tidak mudah.

Aku tidak sabaran. Aku tidak mau menyimpan naskah begitu saja selama beberapa minggu. Aku ingin terus maju. Aku ingin menyelesaikan sesuatu. Berhenti terasa seperti sedang berjalan mundur.

Malah, dulu aku pernah curang.

Aku memang menyimpan naskah, tetapi beberapa hari kemudian aku mengambilnya lagi hanya untuk melakukan sedikit perubahan di sana-sini. Sedikit memperbaiki kalimat. Sedikit mengubah bagian tertentu. Sedikit menyentuh paragraf ini dan itu.

Dan ternyata, semua itu sama sekali tidak membantu.

Sebab begini: waktu tidak hanya membantu kita menemukan kesalahan dan kekurangan. Waktu juga bisa mengingatkan kita betapa bagusnya buku yang sudah kita tulis.

Dan menurutku, justru itulah bagian yang paling luar biasa.

Aku seorang idealis. Bahkan mungkin sedikit obsesif-kompulsif. Ketika sedang mengerjakan sebuah buku—dan yang aku maksud adalah benar-benar mengerjakannya, menulis sepuluh jam sehari sampai tidak bisa memikirkan hal lain—aku bisa terlalu tenggelam di dalamnya.

Dan bukan dalam arti yang baik.

Aku berhenti menulis dan mulai mengoreksi.

Aku mengedit. Lalu mengedit lagi. Setelah itu mengedit lebih banyak lagi. Ketika sudah terlalu lama melakukannya, ketika aku sudah terlalu sering melihat halaman yang sama, bahkan bagian yang sebenarnya bagus pun mulai terlihat salah.

Aku mulai memperbaiki sesuatu yang sebenarnya tidak perlu diperbaiki.

Aku mengubah kalimat yang sebenarnya tidak perlu diubah. Aku membuat sedikit perubahan di sini, lalu sedikit perubahan di sana. Perubahan kecil itu kemudian memaksaku untuk mengubah bagian lain di halaman berikutnya…

…dan begitulah seterusnya.

Pada akhirnya, aku hanya membuang waktu dan menghabiskan semangatku sendiri karena terus mengedit hanya demi mengedit.

Kedengarannya tsk asing?

Mari kita lihat dengan angka-angka nyata dari pengalaman saya sendiri.

NASKAH A

Draf pertama: 2 bulan
Penyuntingan: 3 bulan
Meninggalkan naskah: 3 hari
Penyuntingan berikutnya: 3 bulan
Total waktu: sekitar 8 bulan

NASKAH B

Draf pertama: 3 bulan
(Kali ini, draf pertama sudah melalui cukup banyak perubahan dan penyuntingan selama proses penulisan.)

Penyuntingan: 1 bulan
(Karena sebagian besar sudah diedit ketika saya menulis draf pertama.)

Meninggalkan naskah: 1 bulan
Penyuntingan berikutnya: 2 minggu
Total waktu: 5,5 bulan

Coba tebak, yang mana yang akhirnya diterbitkan?

Tentu saja, aku tidak mengatakan bahwa melakukan hal ini berarti naskah kamu pasti akan diterbitkan.

Bukan itu maksudku.

Yang ingin aku katakan adalah, memberi jarak terhadap naskah ternyata membantu menulis buku yang lebih baik pada akhirnya.

Dan ironisnya, tidak memberi waktu bagi bukuku untuk beristirahat justru membuatku menghabiskan lebih banyak waktu.

Jadi, tentang waktu.

Dengan Naskah A dan banyak naskah lain yang pernah kukerjakan, pada akhirnya aku selalu tenggelam dalam pekerjaankusendiri. Sampai tiba di satu titik ketika terkadang aku berpikir, “Buku ini sama sekali tidak berhasil. Aku sudah berminggu-minggu mencoba memperbaikinya, tapi tidak ada yang terasa lebih baik. Mungkin sebaiknya aku melupakannya saja dan menulis sesuatu yang lain.”

Atau, lebih buruk lagi:

“Aku lelah. Bahkan aku sendiri tidak tahu kenapa masih ingin menulis.”

Namun, ada juga saat-saat waktu aku benar-benar menyimpan naskah itu dan meninggalkannya untuk sementara waktu—seperti yang saya lakukan pada Naskah B.

Aku melupakannya sejenak.

Saya kembali menjalani hidup. Menulis hal-hal lain sekadar untuk bersenang-senang. Mengisi ulang tenaga dan semangat yang sudah terkuras.

Dan ketika akhirnya kembali membuka buku itu, tentu saja aku masih menemukan hal-hal kecil yang bisa dan memang seharusnya diperbaiki.

Tetapi kali ini ada sesuatu yang berbeda.

Aku membaca sekilas halaman-halamannya seakan-akan sedang membacanya untuk pertama kali. Dan kemudian aku berpikir,

“Oh… sekarang aku ingat kenapa dulu aku begitu menyukai buku ini.”

Penulis

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *