Home / Topik / Agama / Kehidupan Kristen: Kristen ‘KTP’ atau Sungguhan Bertobat, Yang Manakah Anda?

Kehidupan Kristen: Kristen ‘KTP’ atau Sungguhan Bertobat, Yang Manakah Anda?

Kehidupan Kristen 20260311
3

Kristen ‘KTP’ alias Kristen Tanpa Pertobatan adalah sebuah idiom yang hingga saat ini masih populer. Entah sebagai bahan candaan belaka atau teguran, seringkali kita sebagai Orang-orang Percaya menganggap ‘ah, itu ‘kan di sana, di sini ‘mah gak ada!’ atau, ‘bukan saya, saya rajin berbakti, ngasih persembahan, ikut segala macam pelayanan.’ dan lain-lain. (Tidak hanya menjadi) ‘Kristen KTP’ bukan hanya sebuah ledekan atau bahkan teks ketikan pengisi kolom ‘agama’ di kartu identitas. Kira-kira, sikap hidup bukan KTP alias ‘sungguhan’ bertobat itu misalnya yang bagaimana aja, ya?

  1. Bukan lagi dirinya, melainkan Kristus hidup di dalamnya. Hal ini bukan berarti seseorang jadi tambah religius; rajin berdoa, pakai tanda salib besar-besar, ikut kebaktian dan sebagainya. Bukan pula ia jadi terlihat seperti orang suci yang harus tampil tanpa dosa. Berusaha selalu tampil pious? No, bukan itu yang Tuhan inginkan. Jadi, bagaimana cara menghidupkan Kristus dalam dirinya? Ia akan terus mencoba memberikan yang terbaik. Ia bukannya tak pernah salah atau takkan berbuat dosa lagi, namun ia sadar jika Tuhan mengawasinya, memimpin langkah hidupnya. Sekiranya ada pelanggaran, hati kecilnya berseru minta ampun. Ia takkan berdiam diri saja, ia akan coba memperbaiki keadaan, misalnya aktif/berani (dengan gentle) meminta maaf. Ia memiliki empati tinggi, tidak mudah terbujuk godaan dunia. Tentunya masih banyak lagi teladan Kristus, mungkin tak semuanya dapat sempurna dijalankannya, akan tetapi ia tak kenal lelah, apalagi berhenti.
  2. Hatinya selalu dipenuhi rasa syukur. Tidak lagi seperti dulu, misalnya; selalu dipenuhi kekhawatiran, kerap merasa bosan karena ‘hidup kok begitu-begitu saja’, bahkan kekosongan hati/kehampaan. Ia berusaha memaknai setiap detik bahkan setiap hari. Keadaan yang kurang menguntungkan, cuaca buruk, rasa sakit, doa belum dijawab Tuhan tidak mudah menggoyahkannya. Live your life to the fullest, as it’s your last day on earth.
  3. Memandang pelayanan kepada Tuhan dan sesama sebagai perwujudan rasa syukurnya, bukan pemenuhan kewajiban ibadah, demi dilihat orang, bahkan demi dapat imbalan atau pahala. Remunerasi dan atau kesuksesan tidak lagi jadi tujuannya. Melayani, melayani, lebih sungguh… Tuhan lebih dulu melayani kepadaku – Demikian penggalan lirik sebuah lagu rohani. Melayani lewat lagu pujian bukan hanya demi dapat like, love atau komentar apresiasi manusia. Bahkan jika tidak ada yang dengar, ya gak apa-apa. Tuhan selalu mendengar doa dan pujian yang dinaikkan di tempat-tempat tersembunyi. Upahmu besar di Sorga – demikian janji Tuhan yang ia pegang teguh.
  4. Tetap mengasihi lawan atau mereka yang bertentangan dengannya. Sangat sulit bagi dunia untuk mengasihi orang-orang yang tidak sepaham atau sepikiran dengan mereka. Bagi Orang Percaya yang sudah sungguh-sungguh bertobat, ia sadar jika ‘ia pernah ada dalam posisi’ lawan. Meskipun lawan-lawannya mungkin masih ada, tambah banyak, bahkan masih menentang hingga berusaha menjatuhkan, hatinya tetap teguh. Dalam diam mendoakan, tidak perlu show-off, dengan ketenangan ia berharap yang terbaik seperti Yesus berdoa bagi para penyalib-Nya, “Ya Bapa, ampunilah mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.”
  5. Terakhir namun bukan yang paling akhir, ia yakin dan sadar jika hidup-matinya hanya dari Tuhan dan untuk Tuhan. Ia tidak lagi seperti Ayub ‘lama’ yang sempat mengutuki hari kelahirannya. Ia sadar jika ‘ada rencana Tuhan mengapa ia lahir ke dunia ini’. Cara matinya kelak juga ia sadari, ia tak berhak menentukan ‘berapa usia’ atau ‘bagaimana caranya’, ia tahu itu adalah rahasia Tuhan semata-mata.

Hanya ‘jadi Kristen KTP’ atau ‘tak ingin hanya sekadar mengisi status agama dalam KTP’, kita hendaknya menyadari dan ‘memilih’ sendiri tanpa perlu ditegur siapapun. Cara kita menjalani kehidupan yang Tuhan karuniakan tanpa sadar selalu diamati dunia. Menjadi saksi-Nya bukan hanya lewat perilaku baik dan memenuhi kewajiban-kewajiban ibadah, melainkan dengan banyak sekali cara; meninggalkan hidup lama serta hidup baru sesuai teladan Kristus, tulus bersyukur, melayani tanpa pamrih, mengasihi sesama bahkan lawan, serta yakin dan sadar jika hidup-mati hanya untuk Tuhan.

Semoga bermanfaat dan Tuhan Yesus memberkati.


Tangerang, 11 Maret 2026

Penulis

  • Wiselovehope

    Wiselovehope adalah nama pena Julie D. (juga akrab disapa dengan nama Kak Jul) kelahiran Jakarta, 30 Juli.

    Ibu dua putra dan karyawati swasta yang sedari dini suka membaca dan mengoleksi buku. Juga berkarya sebagai seorang desainer komunikasi visual.

    Bersama beberapa rekan penulis, Kak Jul mendirikan Komunitas PenA dan KomPak’O (Komunitas PenA Kompasianers dan Opinians) sebagai sarana berkomunikasi dan edukasi bagi sesama penulis pemula.

    Beberapa karya tulis populernya adalah The Prince & I: Sang Pangeran & Aku, trilogi novel romansa misteri Cursed: Kutukan Kembar Tampan (Pimedia Publishing, 2021-2022), Cinta Terakhir Sang Bangsawan (Bookies Literasi, 2023) dan Antologi Komunitas PenA & KomPak’O: Risalah Rindu, 1001 Kata Hati: Sebuah Aksara Semiloka, Cyan Magenta, Lelaki yang Menjinakkan Naga, My One & Only, Ini Puisi?

    Instagram: @wiselovehope
    Situs link karya: linktr.ee/wiselovehope
    Facebook: facebook.com/wiselovehope.wiselovehope

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Kehidupan Kristen: Kesabaran Akan Berbuah Berkat, Cepat atau Lambat!

Kehidupan Kristen: Kesabaran Akan Berbuah Berkat, Cepat atau Lambat!

Secangkir Kopi

Secangkir Kopi

Eyang

Eyang

Rusi yang Sombong

Rusi yang Sombong

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Antologi KompaK’O

Random image