Beranda / Genre / Fiksi Sejarah / 17. Langkah Pertama Sultan Mehmed

17. Langkah Pertama Sultan Mehmed

Muhammad al-Fatih
1
This entry is part 19 of 20 in the series Muhammad al-Fatih

Setelah naik tahta, Sultan Mehmed langsung mengarah pada Konstantinopel. Dalam pertemuan dewan kenegaraan pertamanya, Ia akan menuju Korps Janissary untuk memantapkan tujuannya, yaitu memberi instruksi kepada Doğan Ağa. Akan tetapi, kenaikan tahta Sultan Mehmed dirahasiakan terlebih dahulu.

“Para Pasha yang terhormat. Selagi kita mengarah pada pembebasan Konstantinopel, kenaikan tahtaku sementara waktu dirahasiakan terlebih dahulu. Biarlah mereka mengira kita terlihat lemah, agar kita mengetahui pergerakan mereka.” Kata Sultan Mehmed.

“Şahabettin Pasha, kau temui Bali Bey. Bawa sepuluh Pasukan Akinji dengan penyamaran untuk menjadi mata-mata, dan lihat dari jauh situasi di sekitar Konstantinopel. Selain itu, Akinji yang tersisa berjaga-jaga dari semak-semak untuk melindungi sepuluh Akinji yang sedang menyamar.” Titah Sultan Mehmed.

“Baik, Sultanku.” Jawab Şahabettin Pasha.

Kota Konstantinopel adalah kota yang begitu megah dan kuat. Area luarnya sudah dijaga ketat oleh pasukan yang terlatih. Temboknya tebal dan tinggi. Sejak zaman sahabat nabi, hingga zaman Sultan Murad II, belum ada yang mampu menembus tembok Konstantinopel. Hal inilah yang membuat ambisi Sultan Mehmed begitu besar untuk menaklukkannya. Hatinya begitu membara untuk memiliki kota tersebut. Maka, dengan mengerahkan seluruh kekuatan yang ia miliki, Sultan Mehmed tanpa henti bekerja siang dan malam, membuat strategi yang berbeda dari sebelumnya.

Langkah pertama Sultan Mehmed—setelah bertemu Doğan Ağa, yaitu membuat meriam yang kokoh, senjata pelontar, dan kereta bertingkat 5 yang berisi Pasukan Pemanah. Sultan Mehmed menunjuk Saruca sebagai arsiteknya.

***

Di Konstantinopel, Kaisar Konstantinos XI Palaiologos tengah menerima tamu yang bernama, Dacia Orban.

Ia sebetulnya tengah bekerja membuat meriam bagi Bizantium. Pada saat bekerja, Dacia Orban mempunyai ide untuk meruntuhkan Turki Utsmani secara efektif. Maka, ia pun berinisiatif mendatangi kaisar untuk meminta izin agar dapat membuat meriam tersebut.

“Kaisar, aku akan membuatkan meriam besar untukmu dalam melawan Turki Utsmani.” Kata Orban membuka percakapan kepada kaisar.

“Berapa dana yang kau butuhkan untuk membuat meriam besar itu?” Tanya kaisar.

“Membutuhkan banyak kantong emas, karena meriam ini adalah meriam terbaik.” Jawab Dacia Orban.

Karena biaya yang terlalu mahal, Kaisar Konstantinos XI Palaiologos menolak tawaran Dacia Orban. Namun Orban berusaha membujuk kaisar.

“Yang mulia, kita tidak akan mampu melawan Utsmani jika menggunakan meriam kecil. Maka…” belum selesai bicara, Kaisar Konstantinos memotongnya.

“Cukup! Aku tidak mau tahu, kau harus maksimalkan pekerjaanmu dengan biaya dan bahan yang ada. Notaras! Suruh dia keluar.”

Dengan tanpa ragu, Loukas Notaras memerintahkan Orban untuk keluar ruangan dan kembali bekerja. Adapun Orban, keluar dengan perasaan kecewa.

Di sekitar Konstantinopel, pengerjaan meriam pun diketahui oleh Şahabettin Pasha dan Pasukan Akinji.

“Beberapa dari kalian masuk ke tempat itu, dan bawa kemari salah satu dari mereka.” Perintah Şahabettin Pasha.

Dengan langkah mengendap, beberapa Pasukan Akinji mencoba masuk ke para pekerja meriam. Pada saat hendak maju lebih dalam, mereka melihat seseorang datang dengan wajah kesal. Lalu, terdengar percakapan antara mereka.

“Ada apa Orban? Wajahmu terlihat tegang.” Tanya salah seorang dari mereka.

“Kaisar tak mengizinkanku untuk membuat meriam besar yang disebut Meriam Basilica. Padahal,  daya hancur meriam itu sepuluh kali lipat meriam yang kita buat ini.” Jawab Orban.

Mendengar percakapan tersebut, Pasukan Akinji yang ditugaskan oleh Şahabettin Pasha kembali untuk memberikan laporan. Akhirnya, Pasukan Akinji pun kembali ke tempat Şahabettin Pasha berdiam.

Pada saat sampai, Şahabettin Pasha sedikit terkejut. Karena, Pasukan Akinji yang ditugaskan kembali dengan tangan kosong.

“Dimana salah satu pekerja itu?” Tanya Şahabettin Pasha.

“Pasha, aku ingin melaporkan hal penting kepadamu.” Jawab salah seorang Pasukan Akinji.

“Perihal apa, Yiğit?”

“Pada saat kami hendak membawa salah satu pekerja dari mereka, kami melihat seseorang datang dengan wajah kesal. Kami menduga ia adalah kepala pekerja disana.” Jawab Yiğit.

“Lalu?” Tanya Şahabettin Pasha lagi.

“Ia merasa kecewa terhadap Kaisar Konstantinos, karena gagasannya ditolak oleh kaisar. Ia mempunyai gagasan ingin membuat meriam besar yang kekuatannya sepuluh kali lipat dari meriam biasa. Jika kita membawanya kepada sultan, itu akan bermanfaat bagi negara kita.”

“Masya Allah, Yiğit. Rencana yang luar biasa itu.” Balas Şahabettin Pasha.

“Lantas, kenapa kalian tidak membawanya?” Sambung Şahabettin Pasha.

“Itulah masalahnya. Kita harus menunggu hari sudah gelap, karena kediamannya dijaga ketat oleh Pasukan Bizantium. Saat ini tidak memungkinkan untuk membawanya.” Jawab Yiğit lagi.

“Baiklah. Kita tunggu waktu pada saat hari sudah gelap. Kita buat rencana yang matang untuk membawanya.”

“Baik, Pasha.”

Apa rencana selanjutnya Sultan Mehmed dalam persiapan ekspedisi ke Konstantinopel? Dan, bagaimana langkah Şahabettin Pasha dengan Pasukan Akinji untuk membawa Dacia Orban?

Muhammad al-Fatih

6. Naik Tahtanya Sang Penerus Sultan Murad 8. Keputusan Penting Sultan Mehmed

Penulis

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *