Home / Fiksi / Cerbung / Cinta Kedua & Terakhir: Bab 25

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 25

CINTA KEDUA & TERAKHIR
1
This entry is part 26 of 45 in the series Cinta Kedua & Terakhir

Silvia berlari ke dalam toilet dan segera mengunci pintunya.

Air bening menggenang di bola mata indahnya. Dia sama sekali tidak menyangka akan bertemu dengan lelaki itu. Dan yang lebih parah lagi dia berani untuk menciumnya secara paksa. Untung saja dia refleks untuk menghantam harta pusaka kebanggaan Pazel, sehingga Silvia bisa terbebas dari hal yang tidak diinginkannya.

Sungguh hal yang tidak terduga dan tidak diinginkannya. Dia tidak ingin percaya kalau selama ini laki-laki seperti itu yang dia cintai. Tapi inilah kenyataannya.

“Kenapa juga tidak ada orang yang lewat, sih tadi?”

Dia menghapus air mata yang mulai jatuh. Bajunya yang tadi berantakan kini sudah rapi lagi.

Dia mendongak ke atas dan bicara dalam hatinya.

“Ya Tuhanku, beri aku kekuatan untuk menghadapi semua permasalahan dalam hidupku. Aku tidak dendam, tapi aku ingin memberinya pelajaran agar dia mengerti dengan rasa sakit yang aku alami.”

Silvia berusaha sekuat mungkin untuk melupakan penderitaan batinnya akibat diselingkuhi. Namun dia tak menyangka akan bertemu lelaki brengsek di tempat ini sehingga dia berniat ingin memberinya pelajaran berharga secara manis.

“Apa yang dilakukan lelaki brengsek itu di tempat ini? Apa mungkin dia datang bersama perempuan sundal itu?”

Setelah mukanya dipolesi dengan sedikit riasan, dia pun berjalan kembali dengan santai ke meja tempat sahabatnya menunggu.

Boby merasa ada yang janggal dengan gerak gerik Silvia. Tapi dia tidak tahu apa yang janggal. Sehingga dia pun menghapus pikiran buruknya dan bertanya.

“Kok lama banget, Sil?”

Keningnya berkerut melihat ada yang beda dengan sahabatnya. Saat pergi, sahabatnya terlihat sangat ceria, tapi saat kembali wajahnya agak tegang dan seperti menyembunyikan kesedihan.

“Ada apa, Sil?” Tanpa sengaja pandangan matanya melihat Pazel yang sedang duduk bersama calon istrinya dan ibunya. Seketika dia paham kenapa seperti ada yang janggal dengan sahabatnya.

“Oo, sekarang aku mengerti kenapa ada yang beda dengan lu. Apa lu ketemu bajingan itu tadi? Lu diapain sama dia?”

Boby segera berdiri dan hendak menghajar laki-laki brengsek yang sudah menyakiti sahabatnya.

Silvia cemas melihat sikap sahabatnya yang ingin memberikan pelajaran kepada Pazel. Dia tidak ingin ada kegaduhan. Dia sudah bertekad untuk membalasnya secara cantik dan elegan.

“Bukan, bukan, Beb. Udah ah, jangan buat keributan di sini. Malu dilihat orang.”

Dengan terpaksa Boby kembali duduk di kursinya. Untuk sesaat keheningan mewarnai kebersamaan mereka.

“Kita lanjutkan makannya ya, Beb? Anggap saja mereka tidak ada di sini,” bujuk Silvia sambil melirik ke arah tiga orang yang duduk di meja lain.

Sungguh tidak disangkanya, acara perpisahan dengan rekan kerjanya yang seharusnya menyenangkan malah menjadi momen yang membuat dia merasa tidak nyaman. Jika bisa dia akan meninggalkan tempat itu secepat mungkin. Tapi dia juga merasa tidak enak hati untuk meninggalkan sahabat dan rekan-rekannya, karena acara ini dibuat khusus untuknya.

Sebisa mungkin, dia tetap tersenyum dan pura-pura bahagia. Setidaknya sampai bahagia itu benar-benar nyata digenggamnya. Entah kapan. Mungkin di saat Pazel sudah mendapatkan karmanya di atas dunia.

Memang sulit untuk langsung bahagia setelah mengalami penderitaan selama dua tahun berumah tangga. Rasa traumanya tidak bisa hilang begitu saja, sekuat apa pun dia berusaha untuk melupakan masa-masa pahit itu, sekeras itu pula orang yang ingin dia lupakan selalu muncul di hadapannya.

“Sesulit inikah untuk lari dari mereka yang menyakiti hatiku? Sehingga ke mana pun aku melangkah selalu ada dia. Huh. Benci…. Benci….!”

Dia bergumam dalam hatinya sambil senyum mengambang untuk menutupi luka hatinya. Jika saja dia sekarang berada di rumah, dia pasti sudah mengurung diri dan menangis sejadi-jadinya untuk melampiaskan rasa sakit dihatinya.

“Berani sekali dia mencoba untuk menciumku setelah dia berselingkuh dan menceraikanku. Apa dia pikir aku masih mencintainya? Huh, dasar lelaki tidak punya hati kamu, Bang!” pikirannya bergejolak. Dia tidak bisa konsentrasi dengan yang ada di hadapannya saat ini.

Wajahnya cengengesan tidak karuan untuk menutupi rasa sedih, kesal dan benci yang sedang berkecamuk di dalam pikirannya.

“Baiklah, Bang. Jika aku tidak bisa lari darimu, maka aku akan menghadapimu, Bang,” ucapnya dalam hati.

Di meja yang lain Pazel juga berperang dengan emosinya, dia tidak menyangka akan mendapat perlawanan dari wanita yang dulu hanya diam dan menurut saat dia ingin menyalurkan hasratnya. Bahkan, dia akan memberikan apa yang dimintanya tanpa paksaan.

Sambil memegang bagian bawah perutnya dia bergumam.

“Kamu akan mendapatkan apa yang seharusnya menjadi milikmu. Tenang saja. Kita hanya perlu menunggu waktu yang tepat.”

Waktu terus berjalan hingga menunjukkan jam sebelas malam. Silvia beserta sahabat dan rekan kerjanya masih nongkrong di restoran itu. Sementara Pazel dan tamu yang lain sudah tidak terlihat lagi.

“Kita balik sekarang, ya? Sudah malam nih, nanti bisa-bisa kita dikunci sama yang punya restoran kalau masih duduk di sini,”

Ucapan Boby membuat Silvia menoleh secara spontan ke arah meja yang tadi ditempati oleh Pazel dan selingkuhannya. Tatapannya juga menyapu seluruh ruangan restoran. Betapa terkejutnya dia melihat semua tamu restoran sudah tidak ada.

“Eh, iya. Kalau begitu aku mau ke kasir dulu.”

Dalam hati dia berucap:“Jika begini terus keadaannya, akan tidak nyaman untuk kesehatan mentalku, aku harus lakukan sesuatu agar dia tidak berani macam-macam lagi terhadapku,” batinnya seraya berdiri dan berjalan ke arah kasir.

Cinta Kedua & Terakhir

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 24 Cinta Kedua &Terakhir: Bab 26

Penulis

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Secangkir Kopi

Secangkir Kopi

Eyang

Eyang

Rusi yang Sombong

Rusi yang Sombong

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Putri Pewaris Mafia: Bab 29

Putri Pewaris Mafia: Bab 29

Antologi KompaK’O

Random image