Home / Genre / Chicklit / Cinta Kedua & Terakhir: Bab 35

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 35

CINTA KEDUA & TERAKHIR
This entry is part 36 of 36 in the series Cinta Kedua & Terakhir

“Mas,” ucapnya sambil menoleh ke belakang.

Ternyata memang benar Dokter Dana yang memeluknya dari belakang.

“Aku kangen banget sama kamu sayang. Bidadari cantikku.”

“Mas bisa aja.” Silvia tersipu malu menatap wajah tampan Dokter Dana.

“Hmm … Maaf. Apa Ibu mengganggu?” tanya Bu Iyes yang tiba-tiba sudah ada di pintu.

“Nggak kok, Bu. Aku hanya mampir melihat persiapan Silvia dan sekarang aku sudah mau pergi,” jawab Dokter Dana dengan ramah tapi agak sedikit gugup. Dia meninggalkan Bu Iyes dan Silvia.

“Nak. Kamu sangat cantik sekali. Ibu sangat bahagia melihatmu, Nak.” Bu Iyes menggenggam tangan Silvia. Tak terasa bulir bening menetes di pipinya.

“Terima kasih, Bu.”

Mereka berpelukan. Bu Iyes merasa senang sekali, karena hari ini anaknya akan bertunangan dengan orang yang tepat.

“Ibu yakin, Dokter Dana pasti akan membahagiakanmu, Nak. Dia orang yang sangat sopan dan baik. Semoga ke depannya kalian bisa hidup bahagia selamanya.”

“Iya, Bu. Aamiin. Terima kasih ya, Bu. Semua ini berkat doa dari Ibu.”

Silvia melihat ada yang berbeda dari ibunya. Dia heran melihat ibunya yang bersedih di hari bahagianya.

“Ibu. Ada apa? Apa Ibu menyembunyikan sesuatu dariku?”

“Tidak, Nak. Ibu hanya sedih karena sebentar lagi kamu akan tinggal bersama suamimu.”

“Ini kan masih pertunangan, Bu. Pernikahanku masih lama. Kenapa Ibu sedihnya sekarang?” bujuk Silvia.

Dia yakin ada yang tidak beres. Tapi dia tidak mau mendesak ibunya untuk bercerita.

“Iya, Nak. Ayo kita ke depan sekarang. Semua orang sudah menunggumu di sana.”

Mereka berjalan ke tempat acara pesta di laksanakan. Di belakang mereka ada beberapa orang anak buah yang diutus papanya, dan di setiap sudut ruangan juga terdapat penjagaan yang ketat oleh anak buah yang diutus oleh Efendi Kusuma.

Tepat saat mereka memasuki ruangan pesta, pembawa acara langsung mengumumkan.

“Pewaris tahta kerajaan bisnis Agung Perkasa Group memasuki ruangan pesta.”

Seketika semua mata tertuju padanya. Semua tamu yang hadir memberi jalan untuk Silvia yang didampingi ibu dan adiknya Tiara. Para pengawal pun bersiaga di sisi kiri dan kanan mereka.

Pandangan dan senyum merekah Silvia tertuju pada seorang yang gagah nan rupawan yang sedang menunggunya di ujung sana dengan mata yang menatapnya tanpa kedip.

Seperti tuan putri yang berjalan di karpet merah, di sisi kiri dan kanan para tamu undangan menatapnya dengan takjub.

Pazel, Ibunya dan istrinya juga ada di antara para tamu. Tatapan mata mereka penuh dengan ejekan dan hinaan. Mereka mengira kalau Silvia hanya kebetulan ada di sana.

Rima mencibir dalam hati.

“Ngapain sih perempuan mandul itu ada di sana? Bikin malu saja.”

Senyum miring tersungging di wajahnya.

Mata Pazel membelalak tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

“Kenapa dia ada di sana? Bikin malu saja. Cantik sih emang cantik tapi tidak harus pamer juga di sana. Ingin kutarik rasanya.”

Sedangkan Bu Rohana mengira kalau Silvia sudah gila karena dia bercerai dengan Pazel. Dia pun berlari ke arah Silvia untuk menarik Silvia dan ibu tirinya. Seketika pengawal Silvia menghalangi dan menangkap Bu Rohana dengan sigap.

Terdengar lagi pembawa acaranya meminta perhatian seluruh tamu undangan.

“Mohon perhatian untuk para tamu.” Seketika tamu yang tadi gonjang ganjing semua diam.

“Kami akan memperkenalkan pewaris perusahaan Agung Perkasa group. Putri pertama dari Tuan Herman Syahputra yang bernama Silvia Herman. Kepada Nona Silvia Herman dimohon untuk hadir ke atas panggung.”

Seketika Pazel sekeluarga terkejut mendengar nama Silvia yang disebut sebagai putri dari pemilik perusahaan tempat dia bekerja.

“Apa? Silvia anak Bos Herman Syahputra? Pemilik perusahaan terbesar di kota ini? Tidak! ini pasti tidak benar.”

Rima juga mematung dan merasa semua yang dilihatnya hannyalah mimpi belaka.

“Bagaimana mungkin perempuan mandul itu bisa berubah menjadi seorang konglomerat dalam waktu yang singkat? Ini tidak nyata. Aku tidak percaya.”

Sedangkan Rohana juga berpikir sambil mematung.

“Tidak. Itu Upik abu. Dia Upik abuku. Tidak mungkin dia adalah Putri dari seorang konglomerat. Ini tidak nyata. Ini mimpi.”

Tadinya dia sudah mulai menyesali perbuatannya yang lampau. Tapi hari ini dia merasa Silvia sudah mencoreng mukanya di depan umum karena sudah mengacaukan pesta orang kaya.

Tapi saat mendengar nama Silvia disebut sebagai pewaris kekayaan seorang konglomerat, dia merasa berada di alam mimpi.

Tanpa sadar mereka bertiga pun berteriak.

“Tidaaak! Ini tidak nyata!”

Penjaga segera menciduk mereka, karena mereka dianggap sebagai pengacau. Pazel melawan.

“Kalian tidak nyata. Ini hanyalah mimpi.”

Dia berlari kian kemari untuk mengecoh para penjaga. Dia sampai mengambil satu gelas di atas nampan yang sedang dipegang oleh pelayan dan melemparnya ke kepala salah satu penjaga.

Dengan sigap pengawal itu menangkap gelas yang hampir mengenai kepalanya tanpa harus memecahkannya. Para pengawal itu bukan orang sembarangan. Mereka sudah terlatih dengan baik.

Tak berselang lama Pazel berhasil dilumpuhkan. Dia ditekuk hingga berlutut. Tapi tetap saja mulutnya masih meracau.

“Tidak! Ini hanya mimpi. Ini tidak nyata. Silvia adalah istriku. Mana mungkin dia bertunangan, dan mana mungkin dia adalah anak konglomerat!”

Setelah itu dia langsung pingsan dan tergeletak di lantai.

Tidak berapa lama Bu Rohana juga ikut tidak sadarkan diri. Sementara Rima berlari ke arah suaminya yang pingsan.

“Bangun, Bang. Apa-apaan ini, Bang? Ayo bangun.”

Pihak keamanan segera mengangkat Pazel dan ibunya keluar dari ruangan itu. Sedangkan Rima yang menunduk karena malu hanya mengekor dari belakang.

Silvia hanya tersenyum menyaksikan Pazel dan keluarganya yang seperti orang kesurupan.

Tadinya, Pihak keamanan ingin mengajaknya untuk menghindar dari tempat yang dikacaukan oleh Pazel dan keluarganya, tapi Silvia menolak.

Dia lebih senang bila dapat menyaksikan kejadian langka, melihat orang yang menyusahkan hidupnya terlihat sangat menyedihkan dengan mata kepalanya sendiri.

Karena dia tidak beranjak dari tempatnya berdiri di tengah-tengah ruangan itu, Dokter Dana pun menghampirinya dan para pengawal juga mengelilinginya.

“Itu pelajaran kedua untuk kalian, agar tidak merendahkan orang lain dan hanya menganggap diri kalian yang paling sempurna. Masih ada pelajaran lain yang menunggu kalian. Hanya sedikit saja, gak banyak-banyak kok. Maksudnya sedikit-sedikit dulu,” batin Silvia.

Senyum manisnya dia tunjukkan saat Rima menoleh ke arahnya.

Cinta Kedua & Terakhir

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 34

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image