Home / Genre / Chicklit / Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

CINTA KEDUA & TERAKHIR
This entry is part 45 of 45 in the series Cinta Kedua & Terakhir

Setelah tubuhnya kembali seimbang, Dokter Dana pun mendorong tubuh wanita itu dan berkata. “Apa yang sedang kamu lakukan di sini?”

“Sayang. Maafkan aku karena telah meninggalkanmu dan anak kita.”

Dokter Dana menautkan kedua alisnya. Dia membuah penglihatannya untuk meredam emosinya. Setelah dirasa dia bisa mengendalikan amarahnya, dia mulai bicara.

“Anak kita?” senyum mengejek tersungging di bibir indah Dokter Dana. Sesaat kemudian dia pun melanjutkan ucapannya yang terjeda. Dia menarik napas dalam, kemudian menghempaskannya sebelum bicara.

“Heh, kapan aku pernah melakukan hubungan badan denganmu? Dia hanya anakmu dari benih lelaki bajingan yang telah menodaimu! Eh sorry, maksudku yang telah melakukan perbuatan kotor denganmu secara sukarela, atau lebih tepatnya dengan penuh rasa cinta dan nafsu. Setelah itu menghasilkan seorang bayi. Dan kamu merasa jijik dengan kehadirannya. Bahkan untuk melihatnya saja kamu tidak mau. Lalu kamu meninggalkannya di rumah sakit begitu saja. Dan sekarang kamu dengan seenaknya berkata kalau dia itu anak kita? Dasar wanita tidak tahu malu, kamu!”

Sesaat dia kembali diam dan melepaskan tangannya dari dagu perempuan berwajah cantik itu.

Wanita itu memegang dagunya yang terasa sakit. Sebelumnya, dia tidak pernah mendapatkan perlakuan kasar dari Dokter Dana. Ini sungguh di luar perkiraannya.

Dulu, jika dia membuat kesalahan, dia selalu memaafkan, tidak pernah sedikit pun dia mendapatkan perlakuan kasar dari Dokter Dana.

“Apa perempuan kampungan itu benar-benar sudah mencuci otaknya? Aku harus bisa merayunya kembali. Aku harus bisa mengambil hatinya lagi,” gumamnya dalam hati.

“Sayang, aku punya alasan, kenapa aku meninggalkan kalian. Dan kenapa aku tidak mau melihat anak itu? Itu karena akan mengingatkanku kepada orang yang telah menghancurkan hidupku.” Isak tangis pilu penuh kepalsuan dan terduduk bersimpuh adalah jurus yang dikeluarkannya.

Biasanya jurus itu ampuh. Namun kali ini, dia hanya mendapatkan ejekan dari Dokter Dana.

“Katakan apa rencana kalian?” setengah berteriak Dokter Dana membentaknya.

Rani yang mendengar kata-kata Dokter Dana segera berlari menghampiri.

“Apa maksudmu, Dana? Apa kamu mencurigai kami berdua melakukan tindak kriminal atau kamu mencurigai kami berdua melakukan hal lain yang tidak manusiawi?”

Dokter Dana menyesal karena hampir saja membocorkan rencananya sendiri untuk mencari informasi dari mereka.

Seketika wanita cantik yang sedang bersimpuh di tanah berdiri dengan wajah pucat.

Dokter Dana berusaha untuk tetap tenang dan mencari cara untuk menghilangkan kecurigaan mereka.

“Jangan sampai mereka tahu, bahwa aku sedang menyelidiki mereka,” gumamnya dalam hati.

“Ha … ha … ha…” Seketika dia tertawa terpingkal-pingkal.

“Kalian ini kenapa terlalu serius? Apa kalian tidak mengenalku? Atau kalian baru mengenalku?”

“Ya ampun. Aku kira kamu benar-benar mencurigaiku melakukan tindakan kriminal,” ucap Rani merasa lega. Tadinya dia sudah ketakutan kalau rencananya untuk menghabisi Silvia akan ketahuan.

“Tadi aku tidak sengaja bertemu dengan Kanaya di sini. Karena sudah lama tidak bertemu, akhirnya kami bernostalgia di sini,” lanjutnya lagi.

“Oh ya? Kalau begitu kebetulan sekali aku juga bisa bertemu dengan kalian berdua di sini, ya?” Dokter Dana merubah ekspresi wajahnya menjadi lebih bersahabat.

“Kapan kamu kembali ke Indonesia?” tanya Dokter Dana kepada wanita yang bernama Kanaya itu.

“Kemarin, Sayang.”

Dokter Dana merasa jijik dipanggil sayang oleh wanita itu. Tapi dia harus melarangnya menyebutnya sayang dengan cara yang halus.

“Mm … jangan panggil aku dengan panggilan sayang. Gak enak didengar orang lain, apalagi sekarang aku sudah bertunangan,” ujarnya dengan ramah.

Wajah Kanaya yang tadinya ceria berubah lagi menjadi murung.

“Apa kamu sudah bertunangan? Kapan kamu bertunangan?” tanyanya dengan lirih.

“Sudah seminggu,” jawabnya sambil tersenyum manis. “Bagaimana dengan dirimu? Apa kamu sudah menikah?” lanjutnya lagi.

Bukannya menjawab pertanyaan Dokter Dana, dia malah memberi pertanyaan lagi.

“Apa kamu mencintai tunanganmu?”

“Ya. Tentu saja. Kenapa?”

“Gak apa-apa, tadinya aku pikir kamu akan menikah dengan Rani. Tapi ternyata kamu memilih orang lain. Apa aku boleh berkenalan dengan tunanganmu?”

“Tentu saja boleh. Kebetulan aku akan menemuinya sekarang. Kalau kamu mau, kamu boleh ikut denganku sekarang.”

Rani terlihat tidak senang mendengar Kanaya akan bertemu dengan Silvia. Dia pun mencari alasan agar Kanaya tidak jadi ikut dengan Dokter Dana.

“Kanaya, bukankah kita baru ketemu?”

“Nanti saja kita lanjutkan lagi mengobrolnya, Ran. Aku penasaran ingin berkenalan dengan orang yang sudah berhasil memikat hati sahabatmu ini. Kamu tenang saja, aku akan tetap menjaga persahabatan kita, walaupun aku nantinya menyukai dia.” Kata-kata terakhirnya itu seolah isyarat.

Rani terlihat agak lega. “Baiklah, lain kali kita lanjutkan lagi mengobrolnya.”

Dokter Dana sedikit lega karena bisa memisahkan dua orang yang dicurigainya.

Mereka berdua segera menuju sebuah kafe. Sesampainya di sana Dokter Dana langsung menghubungi Silvia saat mereka sudah duduk. Sekali panggilan langsung dijawab oleh Silvia.

“ Halo, Mas? Ada apa?” ucapnya lembut.

“Apa kamu sedang sibuk, Sayang?” tanyanya lembut.

“”Gak kok, Mas. Buat kamu aku gak pernah sibuk, kok. Ada apa?”

“Sudah pandai merayu ya, sekarang? Aku lagi di kafe. Apa kamu bisa menyusulmu ke sini?”

Setelah tertawa renyah, Silvia menjawab. “Kafe apa, Mas?”

“Kafe Melati, Sayang.”

“Ok, Mas. Tunggu aku ya?”

Silvia bergegas ingin pergi ke kafe yang sudah disebutkan Dokter Dana. Baru saja dia berdiri, terdengar notifikasi pesan masuk dari ponselnya. Dia membuka layar ponselnya. Sebuah rekaman video diterimanya. Dia menonton video itu. Seketika tubuhnya serasa tak bertulang. Dia yang sudah berdiri dari duduknya, seketika kembali terduduk.

Cinta Kedua & Terakhir

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 43

Penulis

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Secangkir Kopi

Secangkir Kopi

Eyang

Eyang

Rusi yang Sombong

Rusi yang Sombong

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Putri Pewaris Mafia: Bab 29

Putri Pewaris Mafia: Bab 29

Antologi KompaK’O

Random image