Langit pagi itu berwarna keemasan saat Syena berdiri di pelataran Candi Ngawen. Sebuah candi kecil yang terletak di Desa Ngawen, Muntilan. Candi Ngawen merupakan kompleks 5 candi dengan 1 candi utama, dan 4 candi pendamping yang bercorak Buddha.
Meski menampilkan arsitektur memukau dengan ornamen singa pada sudut bangunan, tapi candi ini tergolong kecil, belum banyak dikenal orang karena tidak seramai Borobudur. Namun, justru di tempat-tempat seperti inilah ia menemukan makna yang paling dalam. Sunyi, tenang, seolah waktu berjalan lebih lambat.
Syena menarik napas panjang. Aroma embun dan dedaunan memenuhi paru-parunya. Di tangannya, sebuah buku catatan kecil penuh coretan tentang sejarah, tentang relief, tentang cerita rakyat yang ia kumpulkan dari warga sekitar.
Cita-citanya sederhana, tapi besar dalam makna, membawa sejarah dan ragam budaya Indonesia dikenal dunia. Ia ingin orang-orang tidak hanya datang untuk berphoto, tetapi memahami, menghayati, dan merasakan jiwa yang hidup dari setiap batu yang tersusun.
Saat sedang tidak mengantar wisatawan, maka ia akan mengisi hari-harinya dengan perjalanan. Dari satu candi ke candi lain. Dari desa adat ke situs purbakala. Ia berbincang dengan juru pelihara, mendengarkan kisah dari warga sekitar, bahkan tak segan duduk berjam-jam hanya untuk mengamati satu relief kecil yang nyaris terabaikan. Ia menemukan kebahagiaan kecil di tempat yang bahkan sering diabaikan orang.
“Candi Ngawen dulu menjadi bagian dari jaringan candi-candi Buddha lain di Jawa, seperti Candi Borobudur, Candi Mendut, dan Candi Pawon. Hubungan ini menunjukkan adanya interaksi dan pertukaran budaya yang terjadi antara kerajaan-kerajaan di Jawa pada masa itu,” ujar seorang bapak tua yang kebetulan juga sedang mengamati candi yang tak lagi utuh tersebut.
“Selain itu candi ini juga digunakan sebagai tempat pemujaan dan ritual, didedikasikan untuk lima Dhyani Buddha yang melambangkan elemen kosmos. Candi ini berlatar belakang Buddha Mahayana, dibangun pada abad ke 8 hingga ke 9 Masehi oleh Wangsa Sailendra,” lanjut bapak tua tersebut, ia bercerita seolah mengenal dengan baik lokasi itu.
Syena tersenyum, matanya berbinar. “Tapi kenapa tidak banyak yang tahu, Pak?”
Bapak itu tertawa pelan. “Karena orang lebih suka yang besar dan terkenal, Nduk.”
Jawaban sederhana itu justru membuat hati Syena hangat. Ia mencatatnya, seperti biasa. Baginya, setiap detail adalah potongan puzzle besar yang suatu hari ingin ia susun menjadi cerita utuh untuk dunia. Ia ingin dunia tahu bahwa Indonesia punya banyak cerita sejarah dan ragam budaya beserta kearifan lokalnya yang unik.
Biasanya ia akan menulis temuannya dalam sebuah narasi, kemudian mengunggahnya pada media agar semakin banyak orang mengenalnya.
Namun, hari itu … takdir rupanya menuliskan cerita lain. Syena menghentikan langkah saat pandangannya tertumbuk pada seorang pria yang berdiri membelakanginya. Jantung berdegup kencang, ia mengenali postur tinggi dengan rambut gondrongnya itu. Angin berembus pelan, mengibaskan rambut pria itu. Ada sesuatu yang membuat dada Syena mendadak sesak.
Tidak mungkin dia. Ia mencoba mengabaikan. Mungkin hanya perasaannya, mungkin hanya kebetulan postur yang mirip. Namun, saat pria itu berbalik … dunia Syena seakan benar-benar berhenti.
“Raka …” Nama itu keluar begitu saja dari bibirnya, hampir tanpa suara.
Pria itu terdiam. Matanya membesar, jelas tak menyangka.
“Syena?”
Seketika, semua suara di sekitar mereka seperti menghilang. Burung-burung, desiran angin, bahkan detak waktu seolah lenyap. Yang tersisa hanya masa lalu yang hadir tanpa diundang. Raka melangkah mendekat perlahan.
“Akhirnya aku menemukanmu,” ujarnya, suaranya lirih, tapi bagi Syena suara itu seperti vonis kematian.
Ia tak menjawab, ingin lari tapi kakinya terasa berat, seperti tertancap di tanah. Hatinya bergetar, luka yang selama ini ia kubur rapat, seperti dicabut paksa.
Ingatan itu seperti rangkaian slide yang diputar ulang. Bukan tentang janji yang dikhianati, juga buka tentang kepercayaan yang dihancurkan, tapi tentang marwah yang dirobek paksa atas nama cinta. Juga tentang malam ketika ia memilih pergi tanpa menoleh lagi.
“Kamu masih sama seperti dulu,” ujar Raka pelan, mencoba tersenyum, kaku
Kalimat itu justru terasa seperti pisau mengiris-iris hatinya.
“Tidak,” jawab Syena singkat. “Aku bukan lagi Syena yang dulu. Syena yang dulu sudah mati saat meninggalkan Banyuwangi malam itu.”
Ada jeda yang panjang, dingin, beku, hanya embusan napas Raka yang terdengar berat. Pelahan ia mengangkat wajah, lalu menatap Syena, “Aku … mencarimu kemana-mana.”
“Untuk apa?” Suara Syena lebih tajam dari yang ia kira.
Tiba-tiba langit berubah mendung, angin bertiup kencang seolah ikut merasakan ketegangan yang menggantung di antara mereka.
“Aku ingin minta maaf.”
Syena tertawa kecil, tawa yang dipaksa keluar dari luka yang belum sembuh.
“Maaf?” ulangnya pelan. “Kamu pikir semua selesai hanya dengan satu kata itu? Kamu pikir maaf bisa mengembalikan milikku yang Kamu rebut paksa?”
Raka terdiam. Wajahnya berubah, menyimpan penyesalan yang tak sempat ia ungkapkan dulu.
“Aku tahu aku salah .… waktu itu … aku khilaf.”
“Khilaf …?” potong Syena mendecih. Matanya mulai memanas. “Kamu bahkan tidak tahu apa-apa setelah ‘khilaf’ mu itu. Kamu tidak tahu bagaimana aku harus membangun ulang hidupku dari nol. Kamu tidak tahu bagaimana rasanya kehilangan arah, kehilangan harga diri dan kehormatanku … bahkan kehilangan mimpi-mimpiku.”
Kata terakhir itu keluar dengan getaran yang nyaris tak tertahan. Raka menunduk, wajahnya terlihat lebih dewasa, penampilannya lebih rapi, dan jiwanya lebih tenang. Tapi tidak mengubah apapun bagi Syena.
Sunyi kembali menyelimuti mereka. Untuk pertama kalinya sejak peristiwa tragis itu, Syena merasakan sesuatu yang ia hindari, rasa lemah.
Ia memalingkan wajah. Tidak ingin terlihat rapuh di hadapan orang yang pernah menghancurkannya.
“Aku harus pergi,” ucapnya singkat, lalu berbalik cepat.
“Syena… tunggu.” Cekalan di tangan membuat langkahnya tertahan. Suara itu lembut, tapi masih cukup kuat untuk menghentikannya.
“Aku tidak berharap kamu memaafkan aku sekarang. Tapi aku ingin kamu tahu satu hal.”
Syena tidak berbalik. Hanya menunggu kelanjutan kalimat Raka.
“Apapun yang ada dipikiranmu, aku benar-benar menyesal dan minta maaf. Aku ingin memperbaikinya.”
Syena bergeming, kalimat panjang Raka tidak mengubah apapun baginya.
“Beberapa hari lalu aku melihat penampilanmu di Borobudur, apa yang kamu lakukan sekarang … itu luar biasa.”
Kalimat itu sedikit membuat dadanya kembali bergetar, bukan getar bahagia, tapi getar yang mengorek luka semakin dalam.
“Aku senang, akhirnya Kamu bisa meraih mimpimu.”
Hening … Syena mengembuskan napas, mengeluarkan gumpalan udara yang mendadak terasa mencekik. Pertemuan dengan Raka yang tanpa disengaja, menghancurkan bangunan yang selama ini ia bangun dengan susah payah. Semangatnya, perjalanan yang tidak mudah, dan semua mimpi yang ia bangun dengan air mata dan darah … tiba-tiba retak.
Bayangan masa lalu, rasa sakit, dan trauma yang belum sembuh sempurna, semuanya menyerbu bersamaan.
“Aku …” suaranya melemah, “aku tidak tahu.”
Jawaban itu jujur. Terlalu jujur. Tanpa menoleh akhirnya ia berjalan pergi. Namun, langkahnya tidak lagi kuat.
Syena kehilangan semangat, setelah pertemuan itu semua tak lagi sama. Buku catatan yang biasanya penuh cerita perjalanan kini kosong. Kunjungan yang dulu terasa menyenangkan, kini terasa hampa.
Setiap candi yang ia datangi tidak lagi berbicara padanya. Relief-relief yang dulu ia pahami kini seperti hanya tumpukan batu yang bisu.
Malam itu seperti malam-malam setelah pertemuannya dengan Raka. Ia duduk di kamar, menatap lembaran kosong, membolak-balik tanpa berniat menulis apapun. Trauma itu tidak hanya membuka luka lama, tetapi juga merenggut cahaya yang selama ini ia jaga.
Ia mulai bertanya pada dirinya sendiri, setelah apa yang ia perjuangkan selama ini … apakah ia masih cukup kuat? Benarkah karena ia mewujudkan mimpi? Atau selama ini ia hanya lari dari masa lalu?
Air matanya jatuh perlahan. Untuk pertama kalinya ia menangis setelah sekian lama air matanya mengering. Apakah setelah ini ia sanggup menghadapi hari-hari ke depan seperti kemarin?
Tidak ada yang tahu, dibalik kesuksesan dan nama besar seorang Syena, dibalik tawa dan suara lantangnya, ada luka yang begitu dalam, ada bara yang tertimbun sekam, kecil tapi tak benar-benar mati.










