“Siapa dia?” batin Silvia. Matanya berkerut memperhatikan langkah orang tersebut.
“Halo, Cantik. Ini untukmu,” ucap laki-laki tampan yang ada di hadapannya.
“Untuk saya?” tanya Silvia heran. Karena dia tidak mengenal laki-laki yang ada di hadapannya. Tapi dia tetap mengambilnya karena dia merasa segan untuk menolak pemberian seseorang.
Dia berpikir mungkin saja orang itu adalah bos perusahaan tempatnya bekerja. Karena dia memang belum pernah bertemu dengan pemilik perusahaan itu.
Dia memberanikan diri untuk bertanya, “ Maaf, Pak. Apa saya mengenal Bapak?”
“Kenalkan, saya Permadi, Presiden Direktur Perusahaan ini.” Dia menjulurkan tangannya untuk bersalaman.
Silvia menjabat tangannya dengan sopan. “Saya Silvia, Pak. Saya baru bekerja satu minggu di perusahaan ini.”
“Selamat bergabung di perusahaan ini. Saya senang dengan kinerja kamu dalam seminggu ini. Maka dari itu saya secara pribadi mengucapkan selamat bergabung di perusahaan ini.”
“Terima kasih, Pak. Saya sangat bangga dan berterima kasih sekali karena Bapak sendiri yang sudah sudi untuk datang ke ruangan saya memberikan ucapan selamat bergabung secara langsung,” ucap Silvia dengan penuh kesopanan.
“Baik. Kalau begitu lanjutkan pekerjaanmu.”
“Iya, Pak, dan terima kasih atas bunganya ya, Pak. Ini bunga kesukaan saya,” ucapnya dengan sopan.
“Ya. Saya tahu kok.”
“Bapak tahu kalau ini kesukaan saya?” tanyanya heran dan penuh selidik.
“Maksud saya, saya tahu bunga mawar memang kesukaan semua wanita.”
“Oo, begitu. Iya, Pak. Hehe, iya, Pak.”
Orang bernama Permadi itu meninggalkan ruangan Silvia. Seulas senyum terukir di bibirnya. Sebelum membuka pintu, laki-laki tampan itu bicara tanpa menoleh.
“Temani aku makan siang nanti.”
“T-tapi Pak….” Sebelum menyelesaikan ucapannya, laki-laki itu memotong pembicaraannya.
“Tidak ada kata menolak. Ini perintah dari atasanmu!” Dia pun berlalu meninggalkan Silvia yang ternganga mendengar jawaban dari bos barunya.
“Baru saja tadi orang itu bersikap manis, kok sekarang bisa berubah jadi beringas seperti itu ya? Apa semua orang kaya selalu bersikap seperti itu?” batinnya.
Dia ingin membuang bouquet yang sedang di pangkuannya, namun urung dilakukannya, karena dia sangat menyukainya.
Dulu tunangannya yang selalu memberikan bouquet bunga mawar kesukaannya itu. Hari ini ada orang lain yang memberikannya, dan sama persis seperti bouquet bunga mawar yang selalu di berikan oleh tunangannya.
Bahkan parfum yang digunakan Presiden Direktur itu sama wanginya seperti yang selalu dipakai oleh tunangannya. Hanya wajahnya saja yang tidak sama.
Silvia meletakkan kembali bouquet bunga mawar itu di atas meja kerjanya dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
Setelah alarm jam makan siang berbunyi, Silvia bergegas ingin ke kantin untuk mengisi perutnya.
Baru saja dia mau keluar dari ruangannya, dia dihadang teman kerjanya sewaktu masih bekerja di bagian kebersihan.
“Bu Silvia.”
“Apaan sih? Gak usah panggil ibu kali, Yan,” ucap Silvia kepada wanita muda yang bernama Yanti tersebut.
“Ya, kan kamu sekarang sudah bekerja di kantor sedangkan aku masih jadi tukang bersih-bersih, apa boleh aku panggil nama saja?”
“Boleh, dong. Kan kita teman,” ucapnya seraya tersenyum manis sambil terus berjalan beriringan merangkul bahu wanita itu.
“Kamu memang baik Silvia. Bukan cuma wajah kamu yang cantik, tapi hati kamu juga sangat baik, gak seperti yang ono, noh,” ucapnya seraya memonyongkan mulutnya ke arah wanita yang sedang keluar dari sebuah ruangan. Mereka berjalan beriringan menuju kantin yang disediakan di dekat kantor.
Wanita yang di tunjuk dengan mulutnya itu tidak terima.
“Heh! Tukang sapu. Apa maksud kamu menyindirku?” sengitnya marah sambil bertolak pinggang.
“Hehe. Pis, bu. Saya gak berani. Tadi hanya kebetulan saja saya lagi memonyongkan mulut dan kebetulan juga Ibu lewat,” kilahnya sambil mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya.
“Pakai bohong lagi! Apa kamu mau saya pecat, hah.”
“Buk. Maafkan teman saya. Dia tidak sengaja, Bu. Saya jamin dia tidak akan melakukan hal itu lagi,” ucap Silvia menengahi.
“Dia saja tidak minta maaf dan tidak mengakui kesalahannya. Kenapa kamu yang minta maaf? Kamu mau jadi sok pahlawan ya? Kenapa? Apa karena kamu baru kerja seminggu jadi babu terus langsung naik jabatan, lantas membuatmu merasa songong?” sengit wanita itu dengan senyum miring mengejek Silvia.
Yanti merasa bersalah kepada Silvia. Gara-gara dia sahabat barunya itu harus menerima hinaan. Akhirnya dia minta maaf atas kesalahannya, agar sahabatnya tidak lagi dihina.
“Saya yang salah, Bu. Jangan hina Silvia. Saya minta maaf atas kesalahan saya,” ucapnya memelas.
“Kalian berdua harus mendapatkan hukuman!”
Silvia dan temannya saling pandang. Mereka bertanya dalam hati, tentang hukuman yang akan diberikan wanita itu kepadanya.
Orang-orang yang mulai berkumpul untuk melihat pertengkaran mereka juga penasaran dengan hukuman yang akan diterima oleh dua orang yang sedang dimarahi oleh wanita seksi yang terkenal judes itu. Dia hanya bermulut manis kepada atasannya dan orang yang dia sukai saja.
“Hukuman apa, Bu?”
“Gaji kalian harus dipotong bulan ini! Atau kalian harus keluar dari perusahaan ini,” ujarnya dengan mata nyalang dan kepalanya mendongak dengan sombongnya sambil berkacak pinggang.
“Oh ya?” suara bariton seseorang terdengar menyahuti dibarengi dengan suara tepukan tangannya.
Seorang pria maskulin yang sangat tampan dan berwibawa berjalan ke arah mereka didampingi dua orang pria muda yang tampan juga, namun tak dapat menyaingi ketampanan pria yang berjalan di tengah mereka. Laki-laki itu mendominasi keadaan di sekitar itu. Semua tertunduk, karena tidak berani menatap sorot mata yang tajam seperti seekor burung elang yang siap memakan mangsanya.









