Jun keluar dari kamar mandi dan melihat ibundanya duduk di tempat tidurnya sambil tersenyum. Tapi senyum itu sama sekali tidak meluluhkan hati Jun.
Dia mengabaikan ibundanya dan langsung menuju cermin, lalu mulai mencukur jenggot yang telah tumbuh selama beberapa hari.
“Kenapa tidak mengizinkan salah satu tukang cukur melakukan itu untukmu, Sayang?” tanya ratu.
“Tidak, Ibunda. Saya tak perlu bantuan sesiapa pun,” ucapnya kesal.
Fairuz menghela napas, berdiri, menghampirinya, dan meletakkan tangannya di bahu Jun.
“Apakah kamu masih marah kepada Bunda, Sayang?”
“Benar sekali.” Jun berteriak, “Ibunda tiada berhak menakut-nakuti kawan-kawan saya seperti itu. Bagaimana mungkin? Belakangan saya tahu Ibunda benar-benar memenjarakan Sam, Bunda!” teriaknya, hidungnya melotot. Eh, matanya melotot.
Sejak pulang tadi malam, dia begitu marah hingga yang dia lakukan adalah mengurung diri di kamar sampai pagi. Bagian terburuknya adalah, dia bahkan tidak punya nomor kontak Cinde karena mereka berdua tidak pernah punya kesempatan untuk mendapatkan ponsel baru atau bahkan… sial! Dia menjatuhkan alat cukurnya saat dia melukai dirinya sendiri.
“Ya Tuhan! Pengawal, bawa Peti Pertolongan Cemas!” teriak sang ratu.
“Tidak! Tidak ada P3K, Bunda! Tinggalkan saya sendiri sahaja.” Dia berteriak dan meninggalkan ibundanya dan berjalan menuju tempat tidur.
Fairuz menghela napas dan berjalan kembali kepadanya.
“Oke, maafkan Ibunda, tapi dialah alasan awak terlibat dalam masalah ini sejak pertama.”
“Tidak, Bunda. Sayalah sebab saya terlibat dalam masalah ini. Dia tidak ada hubungannya dengan itu. Sayalah yang merancang semuanya, untuk menangkap seorang putri dan tiba-tiba saja ada orang lain yang berpikir dengan cara yang sama dan saya terperangkap. Dia bukan penyebabnya. Dia sebenarnya sahabat baik. Saya tidak percaya awak buat macam tu!”
Wanita yang menjadi ratu dan bunda Jun itu menghela napas lagi dan duduk di sampingnya.
“Saya minta maaf dan saya akan memohon maaf kepadanya secara peribadi padanya, bagaimana pula?”
“Baiklah, Bunda, tapi itu belum cukup. Ada sesuatu yang perlu saya katakan tentang wanita yang kita tangkap bersama.”
“Sepatu siapa ini?” tanya ratu, mengerutkan kening dan tersenyum curiga.
Jun menyadari ibundanya telah menemukan sepatu Cinde yang lain yang sia simpan semalaman.
“Nah, Bunda, putri yang hendak saya—”
Wanita itu tersentak, “Ya Allah Maha Kuasa! Awak sedang jatuh cinta?”
Jun mengerutkan kening dan terkekeh, “Apakah ia begitu jelas?”
“Ya Tuhan! Ini sangat bagus. Apakah itu perempuan yang awak tangkap bersama?”
“Ya, Ibunda, dan Ibunda tak sepatutnya bertindak seperti itu semalam, sekarang saya tak tahu macam mana nak cari dia.”
Ratu Fairuz berdiri dengan gembira, “Nah, Nak, kebetulan saya kenal keluarganya.”
Jun mengerutkan kening. “Bunda kenal?”
“Ya sayangku, dia antara wanita yang sepatutnya berada di sini dan sekarang setelah kita menghantar semua wanita pulang, akhirnya kamu boleh menerima istri kamu dan saya akan mewujudkannya. Ini sungguh indah. Anakku sedang jatuh cinta dan awak tahu?”
Jun mengerutkan kening, senang sekaligus bingung. “Apa?”
“Saya setuju dan saya tahu ayahandamu juga akan setuju.”
“Masalahnya saya langsung tidak tahu apa-apa mengenainya dan—”
“Cakap jangan risau sayang, Bunda akan hantar pesanan kepada bundanya dan kita akan pergi ke sana bersama rombongan diraja kita. Oh, Bunda sangat bangga denganmu, anakku, awak telah membuat pilihan yang tepat,” kata Fairuz, mencium pipi putranya sebelum bergegas keluar dengan gembira.
Jun mengerutkan kening, Cinde bilang ibunya meninggal atau ibunya menyembunyikan jati dirinya darinya seperti Jun juga menyembunyikan jati dirinya…
Yah, dia sudah tidak sabar untuk bertemu lagi dengan gadis itu.
***
“Cepat, siapkan hadiah dan bunganya, Eliene. Seetea, ambilkan gaun unguku, Rossa, suruh para pria untuk mendandani pangeran. Cepat pergi!”
Para wanita dan pria di kamar ratu membungkuk dan melanjutkan pekerjaan mereka.
Fairus terlalu bersemangat dan menunggu pesan Tatyana Elleni Rosa Endrin yang sedang menelepon. Tatyana Elleni Rosa Endrin menutup telepon dan menghadap ratu.
“Jadi, apakah mereka mengharapkan kita?”
“Ya, ratuku, Lady Tatiana, dan ibundanya akan senang menerima kita.”
“Bagus!”
***
Cinde berbaring di tempat tidurnya, memikirkan semua yang terjadi padanya beberapa hari ke belakang. bagaimana semuanya berakhir begitu saja, membuatnya kebingungan dan hampa.
Pikirannya melayang ke saat Zhoya menjelaskan semuanya kepadanya di truk, apa yang telah dilakukan saudara tirinya dengan mengurungnya sebelum akhirnya dia melarikan diri bersama Sam.
Dia sama sekali tidak mengerti. Tidak ada yang masuk akal, bahkan ketika dia diberi tahu bahwa Jun adalah seorang pangeran dan bagaimana Sam telah menjelaskan seluruh proses penculikan kepadanya. Semuanya benar-benar tidak masuk akal.
“Kau baik-baik saja?” tanya Zhoya. Dia datang ke rumahnya pagi itu.
“Ya, gue baek-baek aja,” dia berbohong.
“Jadi, apa rencana kau selanjutnya?”
“Rencana apa?” tanyanya.
“Soal si Jun, lah!”
Cinde mendengus.
“Gue kagak peduli. Dia cipoain gue,” kata Cinde sambil bangkit dari tempat tidur.
Zhoya tersentak dan memperhatikannya ketika Cinde turun dari tempat tidur.
“Ayolah, kau tak serius, kan?. Kau takkan melakukan apa-apa?”
“Melakukan apa?” tanya Cinde emosi.
“Dia punya banyak kesempatan buat ngasih tau gue kalo dia ngarti tentang culik menculik, tapi dia malah kagak ngomong apa-apa. Atau ngomong kek, kalo dia pangeran, dia minggat karena emaknya bakal ngawinin dia sama perempuan nyang kagak danta. Buat apaan? Lu tahu, ini seperti film yang amburadul, novella asbun. Gue mau ngelupain semuanya. Jadi tolong, jangan ngomongin dia lagi. Dia bukan bagian dari dunia gue, dia bohongin gue!”
Cinde menggelengkan kepala, menahan tetesanair mata, dan berjalan ke lemari pakaiannya.
Zhoya kecewa “Kau harus kasih dia kesempatan, Cinde, ada apa dengan kau, hah?”
“Kesempatan apa lagi? Dia manpaatin gue untuk hiburan. Gue harap dia terhibur. Dia sama aja kayak laki-laki laen.”
Cinde membuka lemari pakaian, mencari sesuatu.
Zhoya berdiri dengan marah, “Jadi setelah semua ini, kau akan menyerah macam ini, bodat?”
Cinde berbalik, “Menyerah? Gue nggak nyerah pada apa pun. Gue Cuma ngelupain. Dia manpaatin gue buat senang-senang…”
“Tidak, dia tidak!” teriak Zhoya, “penculikan itu salah seperti kata Sam, dia tidak merencanakannya sama sekali, dia juga menculik dan menyelamatkanmu dari tempat itu…”
“Gue kagak peduli!” teriak Cinde. “Gue kagak percaya kalo gue gue ngebiarin diri gue jatuh sama—”
Cinde berhenti dan menggelengkan kepalanya.
“Kagak masalah. Dia sekarang udah di dunianya dan gue di dunia gue. Semuanya balik normal lagi.”
“Tidak, tidak, aku tak akan membiarkan kau—”
Zhoya terdiam ketika mereka mendengar ketukan pelan…
“Siapa?” tanya Cinde.
“Ini aku.”
Kedua gadis itu bertukar pandang saat mendengar suara Tatiana.
“Dia jangan kau kasih masuk!” tegas Zhoya.
“Lu lupa emaknya yang punya rumah ini?”









