Home / Genre / Chicklit / 6. 1879

6. 1879

MERAJUT MASA SILAM
This entry is part 8 of 34 in the series Merajut Masa Silam

Ghea memalingkan muka dan memerah karena malu. Dia tak pernah malu selama hidupnya, entah seberapa kali dia telah hidup.

Suaminya memberinya tatapan yang begitu dingin. Pria itu bisa merasakan kebencian yang membara di dalam dirinya. Kebencian yang lahir dari mimpi-mimpi buruk. Ghea merasa hawa panas di sekujur tubuh sehingga tidak bisa menahan gemetar saat tatapan itu menghantuinya.

Ghea mencoba untuk tidak kehilangan nafsu makan. Hidangannya benar-benar enak, tapi yang bisa dia kenali hanyalah pecal, ayam bakar, nasi, tempe. Yang lain-lain tidak dikenalnya.

Suaminya menghabiskan makanannya terlebih dahulu sebelum Ghea dan pergi tanpa basa-basi seperti saat dia datang.

Aku butuh bantuan untuk memahami apa yang terjadi di tempat ini, pikir Ghea.

Dia menoleh ke Lastri. Aku benar-benar tidak peduli jika dia mengira aku gila.

“Mengapa aku dan suamiku tidak berbicara?”

Lastri memandangnya dengan ketakutan.

“Hamba … hamba tidak tahu, Gusti Putri.”

Hmm, mungkin perlu dengan sedikit ancaman, rupanya.

“Duduk Lastri,” perintahnya. Gadis itu melakukannya dengan enggan.

“Apakah kamu takut padaku?”

Lastri mengangguk sambil menunduk.

“Apakah aku pernah melakukan sesuatu yang menyakitimu sebelumnya?”

Dada Lastri naik turun. 

Ya ampun … gadis malang itu bisa pingsan terkena serangan jantung.

“Aku tidak akan menyakitimu, Lastri. Santai saja.”

Dia mengangguk, tapi tidak santai.

“Kamu sudah makan?” tanya Ghea yang dijawab Lastri dengan gelengan kepala.

“Kenapa tidak?”

“Hamba makan setelah Gusti Putri selesai bersantap.”

“Omong kosong. Ambil piring dan makan denganku.”

“Jangan, Gusti. Terima kasih,” jawab Lastri masih takut.

Aku tidak punya waktu untuk ini, pikir Ghea jengkel.

“Lastri. Aku perintahkan kamu untuk mengambil piring dan makan bersamaku!”

Dia segera mengambil piring dan menyedok nasi.

Ghea menghela napas dan menahan senyum melihat gadis itu makan dengan tergesa-gesa.

“Lastri, aku tahu aku telah menjadi orang yang jahat terhadap kalian, tetapi apakah kamu akan senang jika aku berubah?”

Lastri tidak menjawab, hanya menoleh dan Ghea melontarkan senyum manis. Lastri mengangguk pelan.

“Aku butuh bantuanmu untuk melakukan itu, Lastri. Maukah kamu membantuku? Jadi kita semua senang?”

Dia mengangguk lagi, sedikit santai.

“Aku bermimpi buruk tadi malam, dan aku tahu aku sangat jahat pada kalian semua. Aku ingin berubah, dan jika aku mau berubah, kamu akan membantuku, karena aku ingin kamu sangat dekat denganku.”

Lastri kembali mengangguk dan senyum Ghea semakin lebar.

“Aku ingin menanyakan beberapa pertanyaan yang mungkin terdengar sangat aneh, tapi anggap saja ini pertanyaan dari aku yang baru, yang ingin berubah menjadi orang baik. Aku ingin memastikan bahwa kehidupanku yang lama takkan lagi menggangguku. Aku butuh jawabandan untuk menyeimbangkan keadaan dengan cara yang lebih baik. Maukah kamu menolongku?”

Lastri tersenyum kecil dan mengangguk.

“Kamu benar-benar cantik Lastri, kamu harus lebih sering tersenyum.”

Senyum Lastri melebar.

“Jawab pertanyaanku, ada berapa pelayan di tempat ini?”

“Lebih dari sepuluh, Gusti Putri.”

“Mereka semua takut padaku, kan?”

Lastri mengangguk cepat.

“Apakah suamiku juga takut padaku?”

Lastri tampak kaget dan Ghea tahu dia membisu ketakutan, jadi dia mengubah pertanyaan.

“Apakah kamu punya keluarga?”

Lastri menggelengkan kepala.

“Berapa umurmu?”

“Dua puluh tiga, Gusti,” jawabnya.

“Apakah namamu cuma Lastri atau ada kepanjangannya?”

“Nama hamba Lastri Susanti, Kanjeng Ratu,” jawabnya. Ghea tersenyum karena teringat pada bestie-nya.

“Kau keberatan jika aku memanggilmu Santi?”

Senyumnya semakin dalam. “Ibu hamba biasa memanggil hamba Santi, Gusti Putri.”

“Bagus. Kita akan menjadi teman baik.”

“Ibunda Gusti Putri juga memanggil hamba dengan nama itu.”

“Siapa?” tanya Ghea dengan kening berkerut.

“Ibunda Gusti Putri…”

Ghea terkesiap.

***

“Ibuku … masih hidup?”

Lastri mengangguk. Ghea kaget sekaligus senang.

“Bisakah kamu membawaku menemuinya?”

Lastri tampak terkejut. “Kanjeng Ratu ingin bertemu Kanjeng Ibu?”

“Kenapa kamu bertanya begitu?”

“Karena … Gusti Putri belum pernah mengunjungi Kanjeng Ibu sejak menikah dan Gusti Putri juga melarang beliau untuk datang kemari. Bahkan, meski sekarang Kanjeng Ibu sedang sakit, Gusti Putri belum pernah menjenguk—”

“Susan, antar aku ke tempat Ibuku sekarang!”

Jahat! Jahat! Kamu sungguh jahat, Ghea! Dia mengutuk dirinya sendiri dalam hati.

Kereta kuda yang membawanya berhenti tepat saat Ghea berpikir bahwa perjalanan itu tak akan pernah berakhir. Mungkin karena ini perjalanan dengan kereta kudanya yang pertama. 

Sepanjang perjalanan, jantungnya berdetak kencang. Dia terus membayangkan bagaimana rupa ibunya. Seumur hidup, Ghea tidak pernah menyangka bahwa dia akan bertemu dengan orang tuanya. Kegembiraan yang dirasakannya karena bepergian dengan kereta kuda antik bagai dalam dongeng Cinderella tidak seberapa dibandingkan dengan apa yang dirasakan ketika kereta itu kemudian berhenti. Jantungnya seperti akan melompat keluar dari tubuhnya.

 Di halaman, seorang perempuan tinggi langsing mengenakan kebaya biru panjang sedang membentangkan cucian di tali jemuran. Rambutnya kelabu panjang sebahu menari-nari tertiup angin. Tampak rapuh saat membungkuk untuk mengambil kain di bakul di sisinya satu demi satu. Punggungnya menghadap ke arah Ghea sehingga Ghea belum bisa melihat wajahnya.

“Apakah dia …,” tanya Ghea pada Lastri, meski hatinya tahu.

“Betul, Gusti Ratu. Itu Ibunda Gusti,” jawab Lastri dengan alis berkerut.

Ghea menegakkan punggungnya dan turun dari kereta. Dia mendekati perempuan itu, dan ketika jaraknya hanya kurang dari semeter, aroma tubuh perempuan itu membangkitkan ingatan yang lama terpendam. 

Ghea menatap tangan yang keriput menarik dan meregangkan kain dalam irama yang sempurna. Tangan itu, tampak akrab. Sangat akrab, bahkan. Dan dia bisa merasakan cinta ibu-anak yang luar biasa meledak di dalam dirinya ketika berbisik, 

“Ibu!”

Perempuan itu membeku dan berbalik perlahan. Tatapannya terkunci pandang mata Ghea. Bibir keriputnya lembut melengkung membentuk senyum kesedihan.

“Ghea Sayang … sudah lama sekali.”

Ghea tak mampu menyembunyikan air mata di wajahnya. Dia memburu ke pelukan ibunya tanpa tahu apa yang dilakukannya selain isak tangis dan bahagia pada saat yang sama.

“Aku sangat merindukanmu, Ibu. Aku tidak pernah tahu aku bisa melihatmu. Aku minta maaf untuk segalanya.”

Ghea merasakan bahwa ibunya pasti telah menciumnya jutaan kali karena wajahnya basah bercampur dengan air matanya sendiri.

“Kamu di sini sekarang, Ghea. Ibu memaafkanmu. Ibu juga minta maaf. Ibu akan menjelaskan semuanya. Apa yang aku dan ayahmu lakukan itu kejam, tetapi kami harus, demi rakyat kita.”

Ghea sama sekali tidak mengerti apa yang dikatakan ibunya, tetapi tahu dia akan menemukan jawabannya segera.

“Ayo sayang, mari kita masuk dan biarkan ibu menjelaskan semuanya padamu.”

***

“Kamu masih dalam kandungan ketika kita meninggalkan tanah leluhur Sungai Serut. Bencana besar menghancurkan dan membunuh sebagian besar orang kita. Raja kita, kakekmu, mangkat karenanya. Ayahmu bergerak untuk menyelamatkan sebagian besar orang yang masih hidup. Kami berjalan kaki selama berhari-hari dan kelaparan sampai kami menyeberang selat dan tiba di Semarang. Perang sedang berlangsung dan Sultan mengatakan kita bisa tinggal jika bergabung dan berperang dengan mereka. Kita kehilangan sebagian besar prajurit yang cakap selama bencana. Ayahmu termasuk di antara sedikit yang tersisa. 

Mau tidak mau, kita menerima syarat Sultan karena saat itu aku baru saja melahirkan kamu. Sultan juga mengajukan syarat bahwa putriku harus menikahi putranya yang baru berusia tiga tahun saat itu. Kami tidak punya pilihan selain menerima. Kita tinggal di sini sejak saat itu. Kami tidak memberi tahumu karena kami pikir bukan masalah besar, tetapi kami salah. Ketika ayahmu meninggal tahun lalu, dia membuatku berjanji untuk melakukannya hal-hal yang diperlukan ketika waktunya tepat, dan itu untuk menikahkanmu. Namun seharusnya aku memberitahumu. Aku minta maaf.”

Merajut Masa Silam

. Kembali ke Masa Silam . Telik Sandi

Penulis

  • Alexis

    Pengarang  novel Lamaran atau Pinangan? (Pimedia, 2022) dan (Deception) Ingkar Jodoh (Pimedia, 2022). Segera terbit, Penyintas Terakhir.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image