Rani syok. Dia tidak dapat menerima kenyataan bahwa semua orang sudah melihat tubuhnya dari layar yang dia siapkan untuk mempertontonkan tubuh Silvia.
“Tidak. Ini tidak nyata. Ini pasti cuma mimpi buruk!” Dia menampar kedua pipinya sehingga dia mengaduh kesakitan.
“Aww. Ini nyata?”
Dia menoleh ke sekelilingnya. Di belakangnya sudah ada Silvia bersama Dokter Dana, Kanaya dan tiga orang polisi.
Silvia mengulangi kalimat yang sudah menghentikan langkah Pazel mengajak Rani untuk melarikan diri.
“Kalian berdua tidak akan ke mana-mana. Karena kami sudah mempunyai bukti kejahatan kalian,” ucapnya dengan senyuman yang manis.
Beberapa orang polisi datang untuk membantu penangkapan anak buah Rani. Sedangkan yang tiga orang tadi mengamankan Rani dan Pazel. Mereka tidak memberikan perlawanan yang berarti sehingga polisi dapat menangkap mereka dengan mudah.
Di kantor polisi, Pazel diinterogasi tentang keterlibatannya atas rencana kejahatan Rani.
Pazel bingung bukan kepalang. “
Pak. Rencana apa yang Bapak maksud? Saya tidak merencanakan kejahatan apa pun. Saya hanya datang karena diundang ke acara ulang tahun Bu Rani.”
“Tetapi dari pembicaraan Anda dan saudari Rani, Anda bilang kalau Anda sudah bersekongkol dengan saudari Rani untuk menjebak saudari Silvia agar tidak sadarkan diri dengan mencampurkan sesuatu ke minumannya! Apa itu benar?” bentak Polisi yang membuat Pazel kelabakan.
“ I-iya, Pak,” jawab Pazel dengan gugup.
“Kenapa Anda menjebaknya?”
“Ka-karena saya ingin kembali menjadi suaminya, Pak. Ta-tapi saya menyesal, Pak. Saya sudah tidak mau lagi dengannya. Saya menyesal, Pak.”
Laki-laki itu memang sangat menyesali perbuatannya. Tapi bukan karena dia merasa bersalah, melainkan karena dia baru mendengar gosip kalau Silvia bukanlah anak kandung dari Hermansyah.
Kalau saja dari awal dia tahu kalau Silvia bukan lagi pewaris PT Agung Perkasa, tentu dia tidak akan menerima tawaran dari Rani untuk menjebak Silvia.
“Lalu, kenapa Anda bisa tidur seranjang dengan Saudari Rani?”
“Saya tidak tahu, Pak.”
“Kenapa tidak tahu. Anda jangan bertele-tele, atau kasus ini akan menjadi panjang.”
“Saya benar-benar tidak tahu, Pak. Waktu itu, Bu Rani menelepon saya agar menemui dia di Kafe Permata. Katanya kalau saya masih ingin mendapatkan mantan istri saya kembali, saya harus menemuinya di Kafe Permata. Saya menyanggupinya, dan saya datang ke Kafe tersebut. Di sana dia bilang kalau dia akan memasukkan obat perangsang ke dalam minuman yang akan diminum oleh Silvia. Saya pun menyetujuinya. Lalu kami berpisah. Dia pergi dan saya juga kembali ke rumah saya. Selain itu saya tidak pernah mengatur rencana apa pun dengannya, Pak. Bahkan kami tidak pernah saling mengenal sebelumnya,” ucapnya dengan penuh keyakinan.
Polisi mencatat semua keterangan yang diberikan Pazel.
Rani serta anak buah Rani yang lebih dulu ditangkap oleh anak buah Dokter Dana dan diserahkan ke polisi. Masing-masing dari mereka mendapatkan hukuman dan denda. Sedangkan istri dari mantan anak buah Dokter Dana yang ditangkapnya itu mendapatkan perawatan beserta sejumlah uang dari Dokter Dana untuk biaya hidupnya dan bayinya selama suaminya menjalani hukuman.
***
Semenjak penangkapan Rani beserta antek-anteknya, Silvia memutuskan untuk hidup sebagai orang biasa lagi bersama ibu kandungnya.
Dia bekerja di sebuah perusahaan di kota lain. Awalnya dia hanya seorang petugas kebersihan di perusahaan itu. Tapi setelah seminggu bekerja dia diangkat menjadi staf kantor, dia sudah mempunyai ruangan sendiri yang sangat nyaman.
Dua minggu sudah dia tidak bertemu dengan Dokter Dana. Karena dia ingin fokus untuk merawat ibunya yang sakit kanker sambil bekerja mencari biaya pengobatan.
Hari ini rasa rindunya terhadap Dokter Dana sangat tidak bisa dia bendung. Dia menyalakan ponsel lamanya yang sudah dua minggu lamanya tidak menyala.
Banyak sekali pesan yang masuk dari Dokter Dana. Dia tersenyum membaca salah satu pesan
‘Sayang, apa dua minggu ini belum cukup untukmu menjauh dari tunanganmu ini? Aku kangen. Jika kamu tidak menghubungiku hari ini, maka aku akan datang untuk menemuimu.’
Dia meletakkan ponselnya di dadanya sambil memejamkan mata. Dia kembali mengingat saat dia memutuskan untuk fokus dulu kepada ibu kandungnya yang sedang sakit.
‘Mas. Aku sangat mencintaimu. Tapi saat ini ibuku sedang sakit keras. Dia lebih membutuhkanku. Aku ingin berbakti sampai ajal menjemput beliau.’
‘Apa maksud kamu, Sayang?’
Dokter Dana menjauhkan kepala Silvia yang sedang berada di dadanya, hingga berhadapan dengannya. Tatapan matanya seolah mencari jawaban di mata Silvia.
Dengan susah payah dia akhirnya berhasil mengucapkan kalimat yang telah dikeluarkan dari mulutnya. Sekarang dia harus menjawab lagi pertanyaan yang mengharuskannya memberikan penjelasan yang lebih.
Dadanya terasa sangat berat seperti terimpit batu yang besar. Napasnya terasa tercekat. Bagaimana bisa dia mengucapkan kata perpisahan kepada orang yang sangat dicintainya, namun dia juga harus berbakti kepada orang yang sudah melahirkannya.
Di sisi lain dia juga melihat ada sedikit perubahan di wajah mamanya Dokter Dana ketika dia mengetahui kalau Silvia hanya anak angkat ayahnya. Ditambah lagi dengan kata-kata mantan suaminya yang mengatakan penyesalannya mengajaknya untuk kembali kepadanya saat dia meletakkan tubuh Silvia yang pura-pura pingsan di atas tempat tidur dengan kasar.
Semua itu membuatnya berpikir dua kali untuk menikah dengan tunangannya. Dokter Dana berhak mendapatkan orang yang lebih baik darinya.
“Mas. Sebaiknya rencana pernikahan kita dipikirkan lagi. Sekarang aku hanya seorang anak angkat. Ibu kandungku hanya seorang mantan TKW di negeri orang. Aku merasa tidak pantas untuk—.”
Dokter Dana segera melumat bibir Silvia yang ada di hadapannya dan menahan kepalanya dengan kedua tangannya, sehingga menghentikan kalimat yang akan disampaikannya.
Silvia tidak sanggup untuk menolak serangan Dokter Dana yang begitu tiba-tiba. Sesungguhnya dia juga sangat menginginkannya.
Ciuman itu berlangsung hingga setengah badannya sudah terbuka. Setelah itu Silvia mendorong tunangannya. Hingga adegan itu harus berhenti dengan napas mereka yang memburu.
Hampir saja mereka kehilangan kendali.
Silvia berniat melanjutkan kalimatnya sambil dia membetulkan pakaiannya yang berantakan, namun didahului oleh Dokter Dana.
“Baiklah Sayang. Aku beri kamu waktu dua minggu dari sekarang untuk menjauh dariku. Kalau aku masih menemukanmu dalam waktu dua minggu, maka di minggu berikutnya pernikahan kita akan tetap terjadi.”
Silvia terpana mendengar ucapan Dokter Dana. Dia ingin menanyakan bagaimana kalau dalam dua minggu mereka tidak bertemu? Tapi urung ditanyakan, arena dia tidak akan sanggup mendengar jawaban yang sudah ada di pikirannya.
Tok…. Tok…. Tok….
“Masuk,” ucap Silvia saat dia mendengar pintunya diketuk. Ketukan itu sekaligus membuyarkan lamunannya.
Seseorang berjalan ke arah meja kerjanya. Tetapi wajahnya tertutup oleh buket bunga mawar kesukaannya.
Silvia memang sangat menyukai bunga mawar. Dia fokus terhadap bunganya yang diikat dengan rapi, sehingga dia tidak menyadari siapa orang yang sedang membawa buket tersebut.








