mengalir air mata guru wiyata bakti
betapa panjang menganaksungai penderitaan
bukan menggelegak menyuburkan ladang
tetapi sublim menghilang bersama harapan
jerit mengudara melengking kering
setajam sembilu mengiris kalbu
namun tergilas oleh takdir yang kandas
di tong sampah penentu kebijakan
guru wiyata bakti pekerja tak berbayar
mengajar dengan digerogoti perih perut lapar
belum lagi tertindih bogam legam administrasi
tubuh berpeluh jauh dari sentuhan manusiawi
ini persoalan hidup atau mati
guru wiyata bakti bukan budak berperi
lenguh keluh mereka lenyap tersapu waktu
namun di dadanya tumbuh dedikasi guru
derita guru wiyata bakti tak kunjung akhir
letih lelah menyusuri tepi suratan takdir
lidah kelu lirih patah hanya bisa berserah
napas dadanya perlahan memupus nyaris putus asa
Temanggung Mei 2026









Satu Komentar
sangat relate dengan kondisi yang ada