Lalat ada di mana-mana pada musim itu.
Teman kami Ateng pulang dari rumah sakit. Kami tidak membicarakan kesehatannya hari itu.
“Bagaimana cara mengusir mereka?” Heru bertanya, menunjuk lalat yang cukup gemuk terbang ke arah kami.
Ateng Buddha. Aku tahu agamanya sangat menghargai semua makhluk.
“Gampang,” katanya. “Pertama, aku memperingatkan mereka. Aku memberi tahu mereka bahwa mereka harus pergi. Aku membuka jendela dan menawarkan mereka kebebasan.”
Dia tertawa pelan.
“Kedua, aku mencoba mengusir mereka melalui jendela yang terbuka.”
Aku memikirkan kaleng semprotan racun serangga yang biasanya kugunakan untuk mengusir serangga kecil yang keras kepala itu.
Lalat lain datang menukik.
“Dan kalau mereka tidak menuruti peringatanku—” Ateng membungkuk untuk meraih sesuatu di bawah meja. Napasnya agak terengah-engah.
Aku melihatnya mengeluarkan alat pemukul lalat.
“Aku menggunakan ini,” katanya.
“Tetapi aku melakukannya dengan penuh kasih sayang.”
***
Ateng meninggal beberapa minggu kemudian.
Kami pergi ke kuil untuk menghadiri pemakamannya pada suatu hari yang cerah di awal musim hujan. Setelah itu, kami berjalan-jalan di hutan kuil. Udara sejuk dan menyegarkan.
Seekor serangga terbang—jenis makhluk yang mungkin hidup di pohon—hinggap di bahu Heru. Serangga itu menempel di sana. Aku memperhatikannya sejenak, menahan napas, tidak yakin apa yang harus dilakukan.
Akhirnya, aku meraih serangga itu dan mengangkatnya dari bahu Heru. Serangga itu langsung terbang ke pepohonan.
Aku merasa bernapas lega lagi.
Jawa Barat, 20 April 2025











