“Apakah itu berarti kita putus?” Bola matanya terlihat mulai berkaca-kaca.
“Jika kau lebih senang menyebutnya begitu, yah … kita putus.” Aku mendengarnya menghela napas.
“Apakah kesalahanku sebesar itu?” suaranya mulai bergetar, membuatku reflek memejamkan mata. Aku benci bagian ini, tapi aku harus melewatinya.
“Tidak. Aku yang salah tak bisa menjagamu dengan baik. Aku yang terlalu dingin, tak tahu kalau kamu sedang tak baik-baik saja, sampai-sampai kamu harus mencari bahu lain untuk bersandar. Aku salah … aku minta maaf ….” Itu jujur. Sakit memang, tapi mau bagaimana lagi, aku tak bisa kembali bersamanya. Setidaknya sekarang.
“Kamu setega itu melepasku begitu saja. Mungkin benar, cintamu tak cukup besar untuk bisa mempertahankanku. Mempertahankan hubungan kita.” Suaranya terdengar melemah. Gadis yang selama ini selalu terlihat tabah menerima segala ketidakpedulianku, aku tak lagi melihatnya.
Aku masih ingat Dinda yang dulu tersenyum sambil menyodorkan uang pecahan dua ribu kala itu, di pertemuan pertama kami.
“Nih, pake aja,” katanya nasih dengan tersenyum, entah karena menertawakan aku yang pergi ke food court tapi uangnya kurang, atau geli dengan ekspresiku yang memegang nampan berisi makanan padahal bayarnya kurang. Sumpah, saat itu aku lupa bawa dompet, jadi bayar dengan uang seadanya di kantong.
“Eh … gak usah.” Aku terpaksa pura-pura menolak, karena terlalu malu.
“Gak papa. Nih!” Tanpa ragu dia menyerahkan lembaran itu begitu saja dan berlalu.
“Ntar kuganti, ya!” Aku sedikit berteriak waktu itu.
Gadis itu menoleh dan menjawab teriakanku, “Gampang! Gak juga gak papa!”
Aku tidak pernah benar-benar mengenalnya, hanya tahu beberapa kali di food court. Ternyata kami bekerja di lantai yang sama.
Dinda sangat terbuka dan apa adanya. Dia tidak segan-segan untuk menawarkan bantuan jika aku membutuhkan. Bukan hanya soal tenaga, soal materi pun dia tak pernah ukur-ukur.
Keluarga besar menerima hubungan kami dengan sangat baik. Bahkan Ayah-Bunda sudah memperlakukan Dinda seperti anak mereka sendiri. Semuanya tampak sempurna.
Bagiku dia seperti peri yang bisa kuandalkan, sebab itu aku harus bisa menjadi sandaran yang kokoh untuk wanita kuat yang sedang kuperjuangkan.
Sayangnya, perjalanan tak semudah menyusun rencana, semesta berkehendak lain.
Kini dia terlihat rapuh, seperti gelas berkaki di ujung tanduk, yang akan segera pecah berkeping-keping meski hanya terhempas angin. Entah sampai kapan aku bisa menahan kaca-kaca di mataku agar tidak ikut pecah. Sementara bulirnya kian panas membakar iba.
“Aku tak ingin melukaimu lebih dalam, Dinda. Membiarkanmu dalam kebimbangan yang aku sendiri tak tahu sampai kapan. Aku ingin kau bebas. Tak lagi terikat sesuatu yang tak pasti.” Haissh, air mata sia*an! Aku tak bisa lagi menahannya, tahu-tahu wajahku basah tanpa bisa dicegah! Buru-buru kuusap air yang tak tahu diri itu sekenanya, aku tak ingin gadis di sampingku ini melihat benteng yang kubangun mati-matian roboh begitu saja.
Beruntung Dinda masih menunduk sambil memainkan tisu yang kian mengecil. Entah sudah berapa kali dia harus membersihkan ingus yang keluar tanpa permisi. Hidung dan pipinya memerah karena tangis tertahan. Kerudung mustard yang membingkai wajah bulat telur itu juga mulai basah. Aku bersyukur dia tak melihatku yang kesulitan menahan bendungan di mataku agar tak ikutan jebol.
“Aku hanya keluar bersamanya dua kali. Itu pun hanya ngobrol di cafe, curhat tentang kamu yang gak lagi peduli. Tiga bulan kita sudah jarang ketemu, Ren. Selalu ada saja alasanmu saat diajak ketemuan. Aku hanya menanyakan tentangmu ke dia. Karena dia sahabatmu. Semuanya tentang kamu! Please … kita sudah tunangan, Ren. Tidakkah kamu berpikir kalau aku juga punya hak untuk bertanya mengenai sikapmu tiga bulan terakhir ini? Kau bahkan tak bertanya kenapa aku menemuinya. Tak inginkah kau tahu? Apa itu semua tak penting bagimu? Sedangkan yang kulakukan itu semua karena kamu. Kamu yang membuatku sampai sejauh ini. Lalu sekarang kamu gak terima, terus mutusin aku? Gitu? Pengecut, Kamu, Ren!” Suara Dinda terdengar penuh emosi. Tangisnya yang pecah segera ditelan deru angin yang bersahutan dengan suara ombak.
‘Oh, Tuhan! Aku ingin memeluknya, tapi itu hanya akan semakin melukainya kelak. Dia berhak bahagia’.
“Maafkan, aku.” Hanya itu yang bisa kukatakan dengan kenyerian luar biasa di dadaku yang kian sesak ditikam kenyataan.
“Jika tidak benar-benar serius, seharusnya kau tak membuat janji yang membuatku terlalu berharap, Ren.” Dinda berkata lirih, seolah bergumam pada diri sendiri, tetapi aku mendengarnya … dan itu membuatku makin tersiksa.
Satu setengah jam aku membiarkannya menangis ditemani keriuhan khas pantai. Pertemuan yang mungkin untuk terakhir kalinya sebagai orang terdekat, di tempat yang penuh dengan cerita yang mengikat, sambil berharap Dinda tidak menjadikan ini sebagai trauma konyol setelah semua berlalu kelak.
“Ini yang terbaik. Semua akan baik-baik saja.” Setidaknya … begitulah harapanku.
***
Di sini lah aku, terbaring lemah antara hidup dan mati. Selang dan infus seperti berebut tempat di tubuhku. Ayah dan Bunda tak henti-hentinya menyemangati meskipun aku bisa melihat jejak sembab di wajah mereka. Aku tahu, mereka hanya berusaha menghibur satu sama lain sambil pelan-pelan menerima kenyataan. Semuanya hanya menunggu waktu.
“Kanker hati… stadium 4.” Begitu vonis dokter lima bulan yang lalu. Seketika duniaku runtuh. Bayangan tentang pernikahanku bersama Dinda perlahan pupus ditelan kabut keputusasaan yang menghitam. Rencana yang sudah kususun hancur begitu saja. Pada akhirnya pasrah adalah satu-satunya pintu keluar.
Setiap kali melihat Dinda air mataku turun begitu saja, sakit rasanya saat mengetahui jika kelak dia yang paling terluka saat aku pergi. Karena itu aku mulai menghindarinya. Untuk itu aku butuh bantuan Leon.
Leon—sahabat terbaikku—tidak serta merta begitu saja setuju dengan rencanaku. Laki-laki jangkung itu marah-marah saat kuminta mendekati Dinda. Meskipun sudah kujelaskan bahwa itu hanya skenario terbaik untuk membuat Dinda terlihat bersalah, agar kelak bisa menjadi alasan aku meninggalkannya. Sebrengsek itu, aku.
***
“Kenapa bukan kau saja yang pura-pura selingkuh?” protesnya saat itu dengan nada emosi. Mata Leon memerah, entah karena menahan tangis ataukah benar-benar marah, aku tak peduli.
“No way! Aku gak mau jadi cowok yang gak setia. Aku gak mau dia mengingatku sebagai kekasih yang selingkuh, meski cuma pura-pura.” Ya, ya, egois memang. Aku tidak mau dikenang seperti itu.
Leon masih berusaha menolak mentah-mentah, sambil lanjut menggerutu disertai sumpah serapah. Aku sudah menceritakan kondisiku padanya beberapa hari yang lalu. Meskipun begitu saat aku kembali memohon dengan dalih permintaan terakhir, dia malah pergi sambil membanting pintu dengan keras.
Hatiku mencelos. Sakit juga harus melihatnya seperti itu, tapi aku merasa tak punya pilihan. Aku yakin semua orang akan menerima keadaan ini nanti.
Dua jam kemudian Leon datang dengan wajah kacau. Matanya memerah. Aku tahu dia cukup lama menangis.
“Aku terpaksa membantumu. Meskipun rencanamu sangat konyol dan kekanak-kanakan, aku tak bisa memikirkan hal lain selain menurutimu! Penyakitmu itu yang sialan! Kau juga!”
“Brakk!”
Lagi-lagi pintu kamar jadi sasaran.
Aku lega, dia setuju menjalankan skenario itu.
***
“Kenapa aku yang kau beri tugas sepahit ini? Aku gak tega, Ren. Sialan, Kau! Dinda … kasihan Dinda … tiap kali nelpon ngomongin kau sambil nangis. Aku gak tega, Ren! Dia harus tahu!” Leon menahan suaranya dengan wajah memerah dan mata basah. Dia nyaris meledak!
Aku heran, sejak kapan dia secengeng ini? Dia yang paling keras kepala di antara kami, meskipun akhir-akhir ini kelembutan hatinya bisa ngalahin pelembut pakaian warna pink.
Tapi lagi-lagi aku menggelengkan kepala, menyuruhnya bertahan.
“Sialan kau, Ren! Kau menempatkanku di posisi paling an*ing! Tega kau!” Leon memaki-maki tanpa henti. Sumpah serapahnya berbaur dengan suara yang bergetar menahan tangis. Gerakanku dibatasi oleh alat-alat rumah sakit yang ada di tubuhku. Aku meraih tangannya, menggenggam sebisaku, entah untuk menghiburnya atau bahkan menguatkan diriku. Dia menangis … apalagi aku!
Leon tak lagi bisa menahan emosi. Kepalanya menelungkup di samping bankar dengan bahu terguncang hebat, sedangkan tanganku tak ingin melepaskan genggamannya. Sama seperti ketika genggamannya menyelamatkanku saat terpeleset di pendakian Semeru. Atau saat genggamannya mampu menarikku ketika terperosok di jalur pendakian Lawu. Sedikit berharap genggamannya mungkin akan menyelamatkanku juga kali ini. Aku menertawakan diriku sendiri untuk itu. Konyol.
Tak ada yang bisa kukatakan, apa yang terjadi padaku tak bisa ditolak. kelegaan terbesarku adalah memilikinya sebagai sahabat. Meskipun begitu, seperti ada lobang sebesar bola tennis di dadaku, kesedihan tak terukur saat harus melibatkannya dalam dramaku yang singkat.
***
Entah sudah berapa lama aku terbaring. Tubuhku kian tak bertenaga. Aku hanya mampu menggerakkan mata. Saat itulah aku melihat sosok Dinda, menangis di balik dinding kaca pembatas ruangan. Tak terdengar suara, hanya wajah dan matanya yang basah menatapku sendu.
Tak ayal air mataku menetes satu-satu, atas rindu yang selama ini kupaksa redup, atas rasa yang kukubur hidup-hidup. Seperih ini rasanya, tersayat kesedihan bertubi-tubi yang bagiku tak bertepi.
Di sudut lain ada Leon, menggerakkan mulut seperti melafazkan kata “Maaf”.
Aku ingin tersenyum dan membalas, “Gak papa, semua akan baik-baik saja pada waktunya.” Sayangnya tak ada suara yang keluar. Mulutku tersumpal masker oksigen, tentu saja dia tak kan bisa melihat meskipun aku tersenyum puluhan atau bahkan ratusan kali. Percuma.
Bagaimanapun ini lebih baik. Dinda memang berhak tahu, dan aku terlalu pengecut untuk itu.
Pada akhirnya keinginanku tercapai, berada di antara orang-orang tersayang saat menyambut keabadian sungguh suatu kemewahan. Meski diwarnai air mata dan tangisan yang tanpa suara, aku tahu telah memenangkan cinta.
Banyak penyesalan yang tak terkatakan jika itu tentang ayah dan bunda. Tapi aku yakin mereka akan memaklumi semua seperti biasa. Air mata masih saja jatuh saat mataku mulai terasa berat, di titik itu aku tahu, perjalananku mendekati usai.
Patih, 27 Juni 2024 02.59









