“Kekasihmu selingkuh! Dia hamil!”
Berita itulah yang membuat aku berada di sini, duduk berhadapan dengannya. Sebuah kafe lengang tempatku biasa merayakan momen spesial bersamanya.
Untuk kesekian kali kutarik napas panjang sekadar untuk menenangkan diri. Kopi yang kuminum sudah menginjak cangkir yang kedua, tapi perempuan di depanku ini masih saja diam seribu bahasa. Menyebalkan!
Seperti biasa, Lidya tak pernah mengecewakanku dalam hal penampilan. Dia adalah sumber inspirasi terindah yang membuat barisan diksi mengalir tanpa jeda. Aku bahkan tak bisa menghitung berapa bait puisi yang kuciptakan untuk menyanjungnya.
Seperti halnya sekarang. Rambut ikal yang tergerai indah menyapu bahunya. Anak-anak rambut jatuh begitu saja di dahinya, membuat pesonanya begitu alami membius mata. Blus biru laut yang dia kenakan tampak serasi dengan rok panjang bunga-bunganya, perpaduan yang membuatnya terlihat cantik. Hingga nyaris membuatku lupa tujuanku menemuinya saat ini. Siaal!
“Kamu hamil? Beneran?” tanyaku tak sabar melihatnya yang seolah tak terganggu dengan segala tuduhan dan sumpah serapahku.
“Syukurlah kamu sudah tahu.”
“Sialan, kau! Siapa ayahnya?”
“Ya kamulah.”
“Dasar pembohong!”
“Terserah kalau kamu gak percaya. Tes DNA aja, aku gak takut!”
“Tapi kamu selingkuh, kan?”
“Lah, kenapa baru tanya sekarang? Bukannya kamu sudah tahu?”
“Sialan kau, ya! Enteng banget kau bilang begitu!”
“Sudahlah, aku capek! Kamu mau tanggung jawab, gak?”
“Kenapa gak minta tanggung jawab selingkuhanmu itu! Minta aja ke dia!”
“Ya ini aku lagi minta.”
“Maksudmu?”
“Selingkuhanku itu kan, kamu.”
“Aku gak ngerti deh. Jangan bikin aku makin pusing!”
“Kamu itu selingkuhan aku, Ndre. Masa gitu aja gak ngerti.”
Astaga! Apakah aku tertipu?
Napasku terengah-engah menahan marah.
“Kalau aku selingkuhanmu, lalu … maksudku … berarti …?” Suaraku seperti tercekat antara keluar atau cuma ada di kepala.
“Dia suamiku. Aku gak mungkin bertahan bersamanya sekarang. Dia akan segera menceraikanku jika tahu aku hamil.”
Oh my Jupiter! Rasanya darahku naik ke ubun-ubun! Aku merasa bodoh!
“Berarti bisa saja itu anak suamimu, kan?”
“Gak mungkinlah! Dia sudah divasektomi tahun lalu, jadi gak mungkin ….”
Tiba-tiba semuanya berputar … gelap. Benar-benar waktu yang tepat untuk pingsan.
TIMMIT
Gresik, 19 Juli 2023
12.02

Tag:flash fiction









Satu Komentar
Waduh, kacau dah semuanya. Hehehe.