Apa yang ada di benak kalian saat membayangkan seseorang yang mendapat apresiasi sebagai yang terfavorit?
Pasti kalian akan membayangkan sosok yang ramah dengan senyum manis, orangnya menyenangkan, tidak sombong, tutur bahasanya sopan, nada bicaranya tidak bikin jantungan, dan sederet deskripsi positif lainnya.
Terkait hal di atas, saya ingin cerita saat kemarin menemani Paksu untuk kontrol mata ke Rumah Sakit Provinsi (tidak perlu saya sebut provinsi mana agar tidak terjadi keriuhan dan kericuhan), wong saya cuma pengin curhat saja. Hehehehe ….
Nah, begini ceritanya ….
Ini kali kedua Paksu berobat ke sana setelah mendapat rujukan dari dokter mata langganan di rumah sakit lain. Sebenernya dari pertama kali bertemu dengan dokter tersebut, kesannya sudah kurang enak.
Bu Dokter terkesan kurang suka ditanya-tanyai. Padahal wajar, ya, pasien dan keluarga ingin mengetahui kondisi pasien dengan sejelas-jelasnya. Ini mata, lho. Apalagi, mata Paksu yang berfungsi tinggal satu. Yang satunya ‘pensiun total’ karena serangan glaukoma.
Namun, Bu Dokter yang masih muda dan cukup cantik itu merespons dengan nada suara yang membuat saya mengelus dada. Galak banget!
Ya, saya, kan, bukan dokter. Jadi, sangat wajar jika saya tidak paham istilah-istilah yang dia sebutkan. Sudah seharusnya, dia sebagai seorang ahli yang memberi penjelasan supaya saya dan suami paham. Ya, kan?
Hanya saja, secara kemampuan, saya angkat dua jempol untuk Bu Dokter. Hanya dengan sekali pertemuan dan sebotol kecil obat tetes mata yang dia resepkan, mata Paksu bagus banget perkembangannya.
Nah, setelah pertemuan pertama di bulan Januari, kami mendapat jadwal berobat kedua tepat di hari ulang tahunku, yaitu 23 April kemarin.
Awalnya dia cukup ramah dan membuat saya berpikir, mungkin saya salah merespons ketidakramahan Bu Dokter pada kunjungan perdana. Mungkin saya yang salah paham.
“Wah, bagus banget perkembangannya ini. Waktu Januari kemarin kondisinya 6/30, sekarang udah 6/12. Pendarahannya juga udah nggak ada, sisanya pun tinggal dikit. Bagus banget ini.”
Saya yang mendengar itu senang meski kurang paham. Senang karena Bu Dokter berkata dengan nada suara sangat positif, tetapi saya nggak paham apa artinya 6/30 dan 6/12.
Lalu bertanyalah saya dengan polosnya, “Ehm, jadi apa perlu dicek lagi glaukomanya?”
Nah … Bu Dokter berubah ekspresi, senyumnya menghilang dengan cepat, matanya menyipit lalu melirik galak ke arah kami.
“Tadi saya udah bilang kan, dari 6/30 sekarang udah di 6/12. Udah bagus itu. Nggak perlu obat yang kemarin, cukup pake pelembab. Udah!”
Asli, nadanya kayak Bu Guru lagi ngomelin murid yang tidak menyimak penjelasan di dalam kelas. Lalu dia diam, tidak berkata apa-apa lagi. Perawat di sampingnya yang melanjutkan penjelasan. Untung perawatnya ramah.
Saya pun keluar dari ruangan pemeriksaan Bu Dokter dengan perasaan geli campur jengkel. Ternyata dia memang galak, saya nggak salah paham, kok.
Lalu, terjadilah sesuatu yang lebih menggelikan.
Setelah menyerahkan resep ke bagian farmasi, saya mencari tempat duduk. Sembari menggulirkan jari di layar ponsel, saya tengok sana-sini dan mata saya terpaku pada sebuah bingkai yang ada tepat di depan sana.
Isinya membuat saya terperangah. Dalam bingkai itu, ada tulisan begini:
“Dokter Favorit 2024” di bagian atas, lalu ada nama Bu Dokter galak plus fotonya yang tersenyum sangat manis.
Sungguh sebuah plot twist yang membagongkan.
Ruang Curhat, 24 April 2025










4 Komentar
Kalo mama mertua malah maunya nanya melulu biarpun dokternya malas ngomong dan pengantar malas lama-lama. Kata makmer, “Kita udah bayar ini!”
Kebayang klo Makmer-mu ngeyel terus nanya ke Bu Dok favorit ini. Seru!!! Wkwkwkwkwkkk ….
Semoga paksu sehat terus, ya, Ce. Cece juga sehat walafiat biar grup ini tetap ramai.
Amin. Sorry telat balas, agar ribet bukanya. Harus buka dari laptop karena hp error. Hehehe ….