Berkali-kali Shanti membujuk Ghea untuk menemui Mama Sitrun. Konon wanita yang sering mengisi acara alam gaib di televisi itu bukan paranormal biasa. Dia adalah ‘pakar’ yang mampu menafsirkan mimpi dan melihat masa depan dan hal-hal aneh lainnya.
Ghea pernah sekali memirsa acaranya, dan menyimpulkan bahwa Mama Sitrun adalah penjelmaan iblis. Siapa lagi yang memiliki kekuatan seperti itu?
“Ghea, bukan kamu aja yang terganggu dengan mimpi burukmu yang berseri itu. Aku tiap malam terbangun karena jeritanmu. Pasti semua ada artinya. Aku hanya ingin membantu,” Shanti melanjutkan kalimatnya. Dia memang sahabat setia yang keras kepala. Ghea menghela napas panjang.
Ponsel Shanti berdering. “Kamu tidak bisa menyingkirkanku semudah itu,” katanya sambil bergegas mengambil ponsel.
Ghea menggelengkan kepala sambil mendesah jengkel. Sambil menguncir rambut dengan karet di pergelangan tangan, dia menarik kantong plastik sampah daur ulang yang sudah terisi penuh. Membuka pintu, angin berembus menggoyang rambut ekor kudanya saat dia menyeret kantong plastik keluar dari paviliun.
Saat itu larut malam sunyi senyap. Ghea menyukai ketenangan. Udara sejuk dan menyegarkan. Dia meletakkan kantong plastik di samping kantong pertama yang dibawa keluar tadi. Membungkuk agar bisa melipat mulut kantong untuk mencegah sampah jatuh, pikirannya beralih ke percakapannya yang baru dilakukannya dengan Shanti.
Memang, dia telah menceritakan kepadanya mimpi-mimpinya, tetapi tidak semuanya. Shanti tak pernah tahu Ghea mulai mendapatkan mimpi-mimpi itu sejak ulang ulang tahunnya yang kedelapan belas. Saat itu dia masih tinggal dengan orang tua asuh.
Ghea tak pernah mengenal orang tua kandungnya. Namun, dia tak pernah mempermasalahkan hal itu. Bahkan, dia tidak tahu di mana sebenarnya dia dilahirkan. Semasa kanak-kanak, dia berpindah dari satu panti asuhan ke panti asuhan lainnya, berganti-ganti orang tua asuh, hingga akhirnya sampai ke ibukota dan bekerja sebagai pelayan bistro. Dia bertemu Shanti di tahun kedua.
Mimpinya selalu sama. Dia berada di ladang yang terlantar dan lelaki itu berdiri di kejauhan. Hanya punggung dan rambut hitamnya yang bergelombang yang terlihat. Dari posturnya, Ghea menyimpulkan lelaki itu tinggi besar dan kekar, seorang petarung … atau mungkin rutin fitnes.
Setiap kali Ghea mencoba untuk lebih dekat untuk melihat wajahnya, mimpi buruk itu dimulai.
Ghea sangat ketakutan. Mimpi buruk itu terjadi setiap menjelang ulang tahunnya. Shanti tidak pernah tahu itu. Dia hanya tahu Ghea memimpikan seorang pria seksi sebelum menjerit dan terbangun beberapa hari terakhir sebelum ulang tahunnya.
Ghea sama sekali tak ingin mengingat mimpi-mimpinya yang terus berubah bahkan lebih mengerikan dari sebelumnya. Dan dia yakin, mimpi buruk itu akan datang lagi malam ini. Bisa jadi yang terburuk yang pernah akan dialaminya.
Dia bisa merasakannya jauh di lubuk hati dan dia takut.
Ghea menarik napas panjang dan berdiri. Terdengar suara pintu depan dibuka. Shanti mengeluarkan kantong sampah terakhir. Selesai sudah membereskan sisa-sia pesta.
Mendadak, Shanti mengeluarkan kalung dengan liontin berbentuk bulan sabit.
“Hadiah ulang tahun untukmu, Say. Aku tahu kamu pasti nolak diajak ke Mama Sitrun. Makanya aku ngasih kado ini. Katanya, liontin bulan sabit memberikan mimpi indah, mengusir setan dan mengabulkan permintaan. Aku berharap itu membawamu lebih dekat dengan belahan jiwamu, mengusir setan yang mengganggu dan menjauhkan mimpi-mimpi buruku. Selamat ulang tahun, Ghea sayang, my BFF. Aku sangat menyayangimu.”
Ghea menitikkan air mata ketika Shanti memeluk dan memasang kalung di lehernya. Dia menggenggam liontin itu dan tersenyum. Tak terhitung sudah berapa kali Shanti memberikannya hadiah, dan setiap kali pula air matanya menetes haru.
“Terima kasih, Shan. Ini kado ulang terbaik yang pernah aku terima,” ucap Ghea sambil memeluk sahabatnya.
“Wuih … capek banget rasanya. Yuk kita tidur,” kata Shanti sambil menuju kamarnya yang berada di sebelah kamar Ghea.
Ghea merasakan liontin itu menyentuh kulit dadanya, menyebarkan rasa dingin ke segenap bagian tubuhnya.
“Yuk,” jawabnya, menutup pintu kamar.
***
Ghea berada di tengah-tengah ruangan yang dikelilingi oleh pintu-pintu yang terbuat dari kaca cermin.
Begitu banyak pintu sehingga dia tak tahu berapa jumlahnya. Semua yang ada di sekitarnya hanyalah pintu cermin dan lebih banyak lagi cermin yang memantulkan ribuan bayangannya. Dia berdiri di sana, sadar sepenuhnya bahwa dia sedang bermimpi, terutama dari pakaian yang dikenakannya. Gaun kebaya panjang dari tenunan halus dengan bawahan lilitan kain batik satin tulis tangan menyapu lantai. Dia bahkan nyaris tak mengenali dirinya sendiri.
Menatap ribuan dirinya yang menatap balik. Rambutnya disanggul dengan cara … kuno.
Ghea melangkah menuju cermin terdekat dan mengintip. Dan seperti yang dilakukannya, ribuan refleksi dirinya melakukan hal yang sama. Menakutkan, dan terlalu sunyi.
Sudut matanya menangkap gerakan dalam pantulan cermin di depan yang memantulkan cermin di belakangnya.
Lelaki itu ada di sana, di padang terbuka. Hanya saja, kali ini dioa melihatnya melalui cermin.
Lelaki itu mengenakan rompi hitam yang sama, diam tak bergerak, kecuali rambutnya yang menari ditiup angin.
Kalau aku bisa melihatnya di cermin, maka dia pasti ada di belakangku, pikirnya.
Ghea berbalik dan tersentak ketika salah satu dirinya berdiri menatapnya. Dirinya yang lain, bukan bayangan cermin.
Dia menatap ke sekeliling. Kini tidak lagi di berada di ruangan, tapi di pusat struktur yang tampak seperti labirin. Pintu cermin semuanya telah menghilang. Tertegun, Ghea berbalik.
Dia yang lain masih di sana, diam tak bergerak. Ghea berani bersumpah bahwa itu salah satu bayangannya, hanya saja dia nyata. Manusia utuh seperti dirinya.
Bagaimana ini bisa terjadi?
Keringat dingin membasahi tubuhnya. Kelopak mata berkedut tak terkendali. Aneh kalau takut pada diri sendiri, pikirnya.
Dia memberanikan diri bertanya, “Siapa kamu?”
Seolah-olah baru saja tersadar, dirinya yang lain tersentak, ekspresinya berubah ketakutan, berteriak dan meraih lengan Ghea sambil berteriak, “Kamu harus kembali sekarang! Kamu harus kembali!”
Tiba-tiba bumi bergoyang dahsyat dan dia bisa merasakan tanah di bawahnya runtuh. Dia terjatuh ke dalam lubang gelap. Dia terus melayang turun ke dalam lubang yang sangat dalam bagai tak berdasar. Dia mendengar suara jeritan yang berasal dari mulutnya sambil terus jatuh semakin dalam , dan … tersentak bangun ke dunia nyata, membeku dan tidak mampu bergerak.
Jantungnya berdetak kencang dan telinganya berdenging. Berangsur-angsur kesadarannya kembali. Hanya mimpi buruk, ucapnya dalam hati. Aku baik-baik saja.
Tapi tidak. Dia tidak baik-baik saja.
Wajahnya lembap berminyak, dan baju tidurnya basah kuyup oleh keringat. Tenggorokannya kering dan gatal karena berteriak.
Mudah-mudahan Shanti nggak sampai terbangun, Ghea berharap dalam hati.
Masih tidak bisa bergerak, dia berbaring lesu dalam kegelapan. Berkali-kali dia mengejapkan matanya untuk memastikan dia benar-benar telah bangun, karena dia tahu jika kembali tertidur, mimpi buruk itu akan berlanjut.
Dengan mengeraskan tekadnya, akhirnya Ghea berhasil berpaling ke sisiku dan meraih lampu di nakas ketika tiba-tiba pintu terbuka lebar dan Shanti menyerbu masuk.
Ternyata Shanti mendengar jeritannya.
Ghea mengira Shanti akan berbaring di sampingnya seperti biasa untuk menenangkannya, tapi tidak kali ini. Sebaliknya, Shanti membuka lemari pakaian, mengambil beberapa baju dan rok dan melemparkannya ke tempat tidur.
“Mandi dan dandan!” perintah Shanti. “Kita akan pergi ke Mama Sitrun sekarang juga. Aku sudah meneleponnya dan dia sedang menunggu kedatangan kita.”
Ghea membuka mulutnya ingin memprotes. Saat itu masih jam lima pagi. Tetapi melihat raut wajah Shanti, dia tahu tak punya pilihan lain selain menurut kemauan sahabatnya itu.











Satu Komentar
Ya, pergi juga, deh, ke Mama Sitrun